Pages

Wednesday, May 7, 2008

Sejarah Pendidikan



Team dokter menganjurkan Liza mulai masuk bimbingan remedial untuk perkembangan kognitifnya , di suatu tempat bimbingan remedial .
Sementara di rumah saya juga tak pernah berhenti mengajar Liza .
Sistem di tempat bimbingan remedial yang memisahkan anak dengan orang tua , membuat saya sebetulnya kurang sreg (walaupun ada buku penghubung yang menjelaskan apa yang telah diajarkan dan kita pun bisa bertanya pada para terapis di sana) . tapi waktu itu saya belum punya pilihan yang lebih baik.

Lalu terjadi hal yang sungguh menyakitkan hati saya, bahkan penyesalan saya rasanya tak ada habisnya sampai sekarang:
Suatu ketika pas Liza selesai terapi dan keluar mencari saya , saya lihat pergelangan kedua tangannya tampak biru keunguan , ada apa ?
Saya mencari terapis yang sebelumnya menerapi Liza.
Jawabannya sungguh mengagetkan saya :”Itu gak apa-apa kok bu, nanti juga hilang sendiri. Tadi dia saya selotape pergelangannya karena gak mau diam” ,jawabnya kalem.
Kepala saya terasa mendidih , hati saya penuh kemarahan . Itu yang buktinya terlihat secara fisik , kalau yang tidak? Apa saja yang dia lakukan di dalam sana ketika saya tak pernah diperkenankan masuk ? Pelecehan atau bahkan mungkin siksaan yang tak mungkin anak seperti Liza ceritakan pada saya ?
Sebagai terapis bukankah seharusnya dia lebih tahu daripada saya bagaimana menangani anak-anak seperti Liza ?

Akhirnya keputusan saya bulat sudah , keluar saat itu juga!
Saya lalu minta bantuan seorang terapis yang saya kenal termasuk baik , untuk datang menerapi Liza di rumah. Ya, di rumah! Alat peraga yang ada di rumah saya lebih dari cukup untuk keperluan Liza . Terapi berlangsung di kamar tertutup tapi jendela terbuka lebar , sehingga saya selalu tahu apa yang terjadi di sana.

Di sisi lain saya juga selalu terbuka dengan pendapat orang lain. Seperti saat teman saya yang seorang dokter yang anaknya juga berkebutuhan khusus mengajak saya mencoba pengobatan alternative. Dia banyak mencoba segala macam . Saya hanya mencoba 2 dari banyak “koleksinya”.
Yang pertama adalah seorang sinshe yang bisa mengeluarkan tenaga dalam (rasanya seperti kesetrum listrik pengobatannya) , yang katanya untuk membuka simpul-simpul yang bisa menghalangi kemajuan (misalnya untuk gerakan-gerakan motorik). Beberapa kali datang saya akhirnya stop. Saya lihat Liza merasa kesakitan , bahkan sangat ketakutan tiap baru sampai rumahnya .
Yang kedua adalah para pemuda yang mendedikasikan diri pada penyembuhan lewat energi (prana , dan lalu reiki). Sampai sekarang saya masih menjalaninya, karena saya meyakini benar (saya bahkan akhirnya mempelajarinya, walau sekedar agar bisa self healing ,karena kemampuan saya yang terbatas). Ada seorang di antara mereka yang saya anggap bagian dari keluarga saya , yang kebetulan berlatar pendidikan psikologi dan mendalami hypnotherapy.

Dan karena Liza sudah berusia 3 th , maka saya pun mulai mencari “sekolah” untuknya (yang konon untuk sosialisasi).
Di sekolah yang ada di dalam komplek perumahan saya , saya datangi bersama Liza . Liza tampak gelisah . Waktu itu saya agak paksa , karena saya pikir biasalah Liza suka menolak tempat baru . Tapi rupanya mungkin itu perasaan Liza yang sudah merasakan akan ada penolakan dari pihak sekolah .
Karena, di sekolah kedua yang saya datangi Liza mau turun dari gendongan saya , bahkan mau duduk di ayunan yang terbuat dari ban bekas. Pihak sekolah menerima dengan terbuka keadaan Liza . Bahkan selanjutnya tiap kali Liza sekolah saya hadir di samping Liza sebagai shadow teacher-nya.
Sekolah yang kedua ini sebetulnya agak jauh dari rumah , saya dapatkan setelah saya ‘berburu’ (tanpa mengajak Liza tentunya). Saya pikir lebih baik agak jauh daripada gak ada . Di sekolah ini yang ada Cuma sampai TK besar, dan pada waktu TK kecil atas permintaan saya Liza mengulang (karena memang belum dapat memegang pinsil dengan baik, bahkan sampai sekarang sebetulnya walau telah berbilang tahun dalam melatihnya). Saya pikir gapapa gak bisa pegang pinsil ,lihat saja Stephen Hawking ! Tahu kan siapa dia , ahli fisika yang terkenal itu .
Sosialisasi yang ada mungkin tak seindah bayangan kita. Anak-anak lain bermain antar mereka sendiri . Bisa dimaklumi . Liza tidak bisa diajak lari-larian ,jalan saja mudah jatuh , non verbal. Jadi mau diajak main apa sama mereka ? Memang pada waktu bermain yang dipandu guru mereka mau bergantian dan menunggu Liza menyelesaikan gilirannya . Tapi di luar itu ?

Ada cerita lucu mengenai sekolah yang pertama (yang ada dalam komplek) . Untuung gak masuk situ , bahkan kalau saya dianugerahi anak lagi yang bukan special needs pun saya tak akan memasukkannya ke situ.
Anak tetangga saya yang masih berumur sekitar 4-5 tahun yang bersekolah di situ sedang beradu argumentasi dengan mamanya. Rupanya dia disuruh menghafal deklamasi oleh gurunya , judulnya saja sudah demikian panjang :”Ki Hajar Dewantara Pahlawan Pendidikan” . Berhubung dia tidak mengerti siapa itu Ki Hajar Dewantara , maka kata-kata yang keluar dari mulut mungilnya begini “Dihajar Dewantara ……” . Dan mamanya sedang berjuang keras “membetulkannya”.

Berhubung saya cabut dari pengobatan psikiater yang disarankan team dokter , akhirnya mereka menyarankan agar saya ke bandung (“Di sana ada dokter + psikolog yang bisa menangani anak-anak seperti ini”).
Setelah diskusi yang panjang antara saya dan suami , kami memutuskan untuk mencoba . Bukan hal yang mudah karena banyak kendala , antara lain suami masih kerja di Jawa Timur (bagaimana bolak-balik ke bandungnya nih) ,dan tentunya adalah jarak tempuh yang jauh . Iyalah , tahun 2001 kan tol cipularang belum ada. Kebayang kan antri di padalarang bareng truk-truk besar .
Ok , akhirnya diputuskan suami mencari kerja lagi di Jakarta. Dan dimulailah “petualangan” di bandung.

Ke bandung euy…!

No comments: