Pages

Sunday, May 4, 2008

Sebelas Tahun Yang Lalu...

Yang paling tua yang pernah saya tahu hanya berumur sampai 29 tahun. Yah.. apa boleh buat , kemampuannya memang sangat terbatas , kita tidak bisa berbuat banyak .”

Kata-kata seorang dokter anak februari 1997 masih sering terngiang dengan jelas di telinga saya.
Waktu itu anak pertama saya baru berumur 2 hari. Diagnosa waktu dia lahir adalah penyandang Down’s Syndrome dan jantungnya berlubang di dua tempat. Hati saya sungguh hancur. Tak terbayang masa depan seperti apa yang akan dia punya. Masa depan ? Bahkan sebelum saya bisa memikirkannya , vonis sudah dijatuhkan! Apa dosanya sehingga dia tak berhak memiliki masa depan?


“Tak apa-apa ,Nak”, bisikku pada anakku, “Orang boleh bilang apa saja, boleh mem-vonis apa saja , tapi aku mamamu.. aku akan selalu bersamamu, aku akan berikan yang terbaik yang kubisa. Dan terutama cinta tak bersyarat yang tak berkesudahan.”
Saya harus jadi orang pertama yang bangkit! Elizabeth Stella , nama yang kuberikan, dengan panggilan sayang Liza.


Pada waktu itu belum banyak dokter anak yang tahu “harus bagaimana” menangani anak-anak berkebutuhan khusus, apalagi tentunya orang-orang awam.Di sekeliling saya , orang-orang yang saya kenal pun tak ada yang benar-benar tahu yang sebenarnya dalam menangani anak seperti Liza. Tak tahu harus apa, saya hanya berusaha memberi dia full ASI . Sampai kemudian dokter kandungan saya yang memberitahu ada Rumah Sakit yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus, waktu itu RSAB Harapan Kita. Liza berusia 4 bulan ketika memulai terapi fisik , yang dimonitor oleh suatu team dokter. Terapi demi terapi menyusul setelahnya.


Senang karena akhirnya saya bertemu dengan team yang bisa mendukung perkembangan Liza , namun di satu sisi saya pun sedih. Karena sejak Liza berusia 4 bulan itulah suami saya bertugas di jawa timur (sampai akhirnya tiga setengah tahun kemudian kami baru bisa berkumpul utuh, setelah suami saya pindah tempat kerja demi perkembangan Liza) .


Mulailah hari-hari kerja keras memberdayakan Liza . Pandangan sinis, iba dan sejenisnya nyaris selalu saya jumpai ketika membawa berjalan-jalan Liza. Tak akan sanggup saya kalau saya tak menyandarkan diri padaNya. Jatuh bangun , putus asa lalu bangkit lagi, terus menerus tak berhenti. Kadang ketika keputus-asaan saya terasa terlalu pekat dan berat membungkus diri saya , ingin sekali saya meninggalkan dunia ini dengan membawa serta Liza , sehingga tak ada lagi yang bisa menyakitinya atau menghinanya lagi. Namun suami saya sungguh membangkitkan semangat saya lagi , mengajak saya melihat ke belakang lagi dan membandingkan keadaan Liza yang dulu .
Sampai sekarang pun kalau saya ingat vonis dokter 11 tahun yang lalu , hal ini membuat saya merenung dalam-dalam. Betapa seseorang mudah menjatuhkan vonis yang begitu ‘hopeless’ . Mungkinkah kita bisa membalikkannya? Saya yakin, kalau kita berusaha sungguh-sungguh dan mohon bantuanNya asa yang tergenggam akan menjadi nyata , sungguh!


Seperti kisah mantan pembantu saya , yang pernah menjadi anggota keluarga saya sejak Liza berusia 2 bulan sampai hampir 9 tahun . Narti nama panggilannya , buta huruf ,ibu kandungnya meninggal sejak dia kecil sehingga dia hidup bersama ayah kandung + ibu tiri + adik-adik tiri . Dia ikut saya sejak berusia 13 th, menolak karena malu ketika saya tawarkan bersekolah di SD terdekat . Ok, saya bilang saya ingin dia bisa lebih sukses daripada orangtuanya jika kelak dia kembali ke kampung , bukan yang hanya tiap lebaran membawa barang-barang konsumtif yang tak ada gunanya dan kemudian kerja lagi dst , mau? Dia bersedia , dan mulailah dia belajar , dari awal sekali , belajar bersama Liza mengenal nama-nama binatang dan buah/sayur , belajar alphabet sehingga bisa membaca. Di sela-sela waktu saya didik dia bagaimana mengatur uang dan tidak ikut arus konsumtif , tentunya juga menegarkan dia ketika menghadapi rongrongan orangtuanya yang konsumtif. Akhir yang bisa dibilang manis akhirnya dia dapatkan : lumayan lancar baca tulis (bahkan dibandingkan adik-adiknya yang bersekolah formal di kampung), punya 2 petak sawah dan sebidang tanah . Sayang ayahnya terakhir benar-benar tak mengijinkannya kembali ke sini . 2 tahun tak ada kabar tiba-tiba bulan lalu dia menelepon saya , mau datang karena sangat kangen terhadap Liza (“teman sekolahnya” :-))sekalian ambil uang tabungannya yang dititipkan pada saya . Dari seorang buta huruf yang disepelekan di antara saudara-saudaranya di kampung menjadi Narti yang cukup disegani , bahkan paman-bibinya pun kadang meminta pendapatnya.
Jadi saya rasa bukan Cuma saya saja yang bisa membalikkan vonis buruk , kita semua bisa!


Ngomong-ngomong kemarin saya baca di kompas sabtu 3 mei 2008 permintaan pengurus Organisasi Pekerja Rumah Tangga Jakarta , agar tidak menyebut PRT sebagai pembantu tetapi sebagai pekerja rumah tangga . Saya jadi berpikir , bagaimana dengan Pembantu Dekan ,Pembantu rektor , dan lainnya . Bukankah perubahan seharusnya dari dalam , tidak hanya dari "judulnya" saja . Saya bukan penggemar fanatik Shakespeare , jadi tidak mengikuti alirannya tentang apalah arti sebuah nama secara extrim , tapi tidak juga menentang . Sorry , harus di stop sebelum saya kebablasan kemana-mana . Saya tidak mau berpolemik tentang hal ini, saya bukan ahlinya .




2 comments:

NiCkY nIcK said...

Dear Ratna,
Salam kenal.

Anak ke 3 saya juga down syndrome, lahir 1997 (sama dg Liza ya?). Beruntung sekali, sejak usia 4.5 th hingga sekarang (11 th) kami tinggal di Australia, dan dia menerima pengobatan dan pendidikan yang sangat baik.

Membaca kisah Liza, saya merasa kepandaian, perkembangan dan kesehatan anak saya sama dengan Liza. Salut pada anda yg mampu dan mau merawat dan mendidiknya dg tangan dan kasih sayang anda sendiri hingga hasilnya sebaik pendidikan di negara maju yang memang sdh mapan sistemnya dan mendapat dukungan masyarakat.

Sekali lagi angkat topi untuk kegigihan perjuangan anda. God bless you and your family. Salam sayang untuk Liza.

Kiki

https://drawingofmind.blogspot.com said...

Dear Nicky Nick,
senang rasanya Liza punya teman sebaya,a boy or a girl? whatever, dia 'bersaudara' dengan Liza ^-^
thanks a lot!