Pages

Monday, December 22, 2008

Horee..lulus!


Hasil ujian musik Liza dan Donna tgl 16 nopember yg lalu sudah keluar .
Saya legaa sekali, terutama untuk kelulusan Liza. Kenapa?
Karena pada waktu ujian saat memainkan salah satu repertoire, Liza memainkannya dengan tempo yang terlalu cepat. Diberi kesempatan mengulang sekali lagi pun masih agak terlalu cepat.
Terimakasih sekali untuk ibu penguji yang sabar dan memahami keterbatasan Liza. Di sertifikat kelulusannya ada catatan tentang hal itu : tempo memainkannya agak terlalu cepat.
Itu sebetulnya kesalahan saya yang memilihkan lagu itu untuk Liza. Saya pilih lagu itu (yang bertempo lambat) karena saya pikir lebih mudah bagi jari-jari Liza untuk memainkannya. Padahal saya tahu Liza tidak terlalu menyukai lagu bertempo lambat, dia lebih menyukai lagu yang riang. Selama waktu latihan di rumah maupun di sekolah musik Liza tampaknya oke saja. Pas ujian "balas dendam" dicepetin, ha ha ha...
Saya dapat pelajaran : jangan 'sok' merasa lebih tahu mengenai sesuatu yang berhubungan dengan selera, untuk anak yang kelihatannya cuek seperti Liza sekalipun!
Dan untuk ujian kali ini 'cara baca' not balok untuk Liza diganti. Tadinya memakai visual support buatan saya : dalam satu potong karton hanya ada satu not balok yang sebesar jari kelingking.
Untuk kali ini berupa fotocopy repertoire yang dimainkan Liza. Beberapa kali dicoba akhirnya ukuran yang pas adalah fotocopy dengan pembesaran 210 %. Tapi waktu yang tersisa tinggal satu bulan. Waduh benar-benar membuat saya stress berat.
Fiuuh.. akhirnya bisa dilewati. Next stepnya Liza naik ke Kelompok Musik Anak 4, tentu lebih berat dan sulit. Tapi saya ingat kata-kata ini:
"When you want something, the whole universe conspires to help you to realize your desire" (Paulo Coelho)
Cuman sepertinya saya butuh libur sejenak...

Saturday, December 13, 2008

"it's time for my raincoat and boots"







Itulah kata-kata Donna ketika melihat hujan mengguyur dengan deras. Saya memang menjanjikan dia boleh main air hujan kalau dia tidak sedang sakit. Dan dia tampak begitu menikmati...

Saturday, November 22, 2008

Suka Membaca


Liza dan donna suka membaca. Liza membaca betulan, sedangkan Donna saat ini bisanya baru "membaca".
Yang Liza baca antara lain: hasil ketikannya sendiri di komputer (yang telah kami print dan susun di ordner) dan buku-buku cerita yang sudah lama. Buku cerita yang sudah lama maksudnya buku yang sudah berkali-kali dibaca/dibahas, sehingga Liza tidak merasa "asing".
Tapi untuk buku-buku cerita baru dan buku-buku Donna (yang kebanyakan berbahasa Inggris) Liza sama sekali tidak tertarik. Butuh usaha keras agar Liza bersedia melihat buku baru dan butuh waktu beberapa lama agar menjadi familiar dengannya.
Tapi sudah beberapa bulan terakhir Liza menunjukkan ketertarikannya pada buku-buku baru atau buku-buku Donna yang disodorkan.
Awalnya, Donna suka sekali "membacakan"cerita untuk Liza (sebelum tidur,dan di mana pun mereka berada ketika mama/papanya sibuk), buku apa saja. Contohnya ketika kami sedang berada di toko buku dan mama/papanya sibuk memilih-milih buku. Liza terpaksa kami biarkan duduk menunggu di lantai. Melihat itu Donna berinisiatif mencomot buku yang menurut dia menarik (waktu itu dia ambil buku mewarnai).
Donna :"Cicik ini gambar em...?" (menunjuk gambar ember)
Liza :"..ber " (Liza cuma melihat selintas lalu memandang ke arah lain)
Donna :"Ini gambar me..?"
Liza :"..ja "
Begitulah, karena sering terjadi, lambat laun kekakuan Liza terhadap buku baru menjadi cair. Sekarang kalau Donna menyodorkan bukunya :" Cicik mau lihat buku Donna?" , maka Liza pun "bersedia" membolak-balik halaman demi halaman "barang baru" itu.
Bukan hanya itu. Liza pun jadi suka membaca tulisan-tulisan di tempat umum yang biasanya diabaikan (di supermarket misalnya). Atau mengamati koran yang sedang saya baca, ikut membaca judul-judulnya (yang tercetak besar dan tebal).
Waktu liburan lalu kami naik Skylift di Taman Mini, di dalam kereta gantung awalnya Liza bukannya melihat-lihat pemandangan tapi sibuk membaca aturan-aturan tertulis yang di cat di dalamnya. Ha ha ha...
Yah itulah salah satu miracle yang Tuhan berikan ke saya (lagi).

Tuesday, November 11, 2008

Libur Lebaran 4



Museum-museum di kota lama Jakarta


Setelah dari Museum Bahari kami menuju Museum Keramik dan Seni Rupa. Sebetulnya di sini ada pembuatan keramik yang dibimbing petugas,tapi pada saat kami ke sana petugasnya sedang tidak masuk. Jadilah Donna dan para sepupu bermain clay sendiri.

Tapi di sini, waduh.. banyak sekali nyamuknya


Lantas kami menyeberang jalan menuju Museum Sejarah Jakarta. Ramai sekali pengunjungnya.







Dan terakhir (karena hari sudah siang) kami mengunjungi Museum Wayang. Kaca-kaca di jendela depan ada beberapa yang pecah (seperti terlihat di dalam foto).


Sayang Museum di Indonesia belum terawat secara benar. Andaikan saja...

Thursday, October 30, 2008

Libur Lebaran 3

Museum-museum di daerah kota lama Jakarta
















Museum Bahari


Sudah lama kami ingin mengunjungi museum-museum yang ada di daerah kota lama Jakarta. Tapi biasanya terkendala kemacetan yang luar biasa di situ (macet + panas + lembab, karena dekat laut). Mumpung sedang suasana libur lebaran, yang tentunya juga mengurangi "jumlah" penduduk secara signifikan, kami pun mengunjungi beberapa museum yang ada di kota .

Yang pertama kami kunjungi adalah Museum Bahari di jalan Pasar Ikan. Terus terang, keadaannya memprihatinkan. Petunjuk jalannya kurang lengkap sampai kami tersasar dan perlu petunjuk lisan dari penduduk setempat.
Apalagi koleksinya, aduuh... Sedih melihatnya. Selain debu yang sangat tebal, banyak koleksi yang lapuk dan lepas dari konstruksinya. Ada bekas air banjir (?) dan rob (?).

Wednesday, October 15, 2008

Libur Lebaran 2






Bercanda Dengan Rusa


Awalnya kami berniat hiking ke perkebunan teh Gunung Mas. Sepanjang jalan lancar tapi ketika sampai di pertigaan Gadog lalu lintas mulai merambat, bahkan berhenti. Setelah beberapa lama kami putuskan putar balik menuju The Jungle di Bogor. Di sana anak-anak bisa bercanda dengan rusa dan "hiking" memutari bukit buatan. Yah lumayanlah...

Sambil saya menulis ini pikiran saya terbayang ke rusa-rusa itu, adakah mereka bosan hidup di situ? Walaupun bisa dibilang aman dan makmur mereka tidak bisa ke mana-mana, mungkin sampai ajal menjemput mereka.

Saya membandingkan dengan kehidupan saya sendiri. Beberapa hari ini saya merasa jenuh sekali. Rasanya hidup terasa terlalu menekan sampai tak ada semangat tersisa. Apalagi apa yang saya lakukan rasanya tak ada kemajuan berarti dan hanya jalan di tempat. Dari buka mata di waktu subuh hingga malam kembali memejamkan mata, tak ada beda hari libur atau hari kerja. Mungkin saya perlu refreshing. Tapi waktu untuk refreshing pun sulit untuk saya dapatkan. Sempat akhir bulan lalu bersemangat menghadiri reuni SMA, ingin jumpa teman2 lama dan merasakan atmosfer yang berbeda dari hidup sehari-hari : bercanda dengan teman2 lama yang sudah 21 tahun tak ketemu, "melupakan" sejenak anak dan suami. Tapi apa daya untuk mendapatkan tiket KA pada masa lebaran sungguh sulit, dan memang akhirnya saya tak berhasil.

Dan tak mudah bagi saya untuk menemukan orang yang tepat untuk curhat apa yangberkecamuk di hati. Salah-salah saya dianggap tak bersyukur, dan biasanya ucapan berikut ini ikut menyertai :"sabar , sabar ... " dst. Makanya saya nyaris tak pernah curhat kepada orang lain. Bukan masalah sabar atau tidak. Kalau saya tidak sabar bagaimana mungkin Liza bisa sampai seperti sekarang? Saya ngerti mereka ingin menghibur. Maka dari itu daripada saya cuma dapat kata "sabar" lebih baik saya tidak curhat.

2 hari yang lalu dari email psikolog kami ,yang sebetulnya sedang membahas hal lain, ada petikan kalimat dari Paulo Coelho yang menyentuh hati saya, seakan saya habis curhat dengannya :

Like the flowing river

"things do not always happen the way I would have wanted, and it's best that I get used to that"
Saya tulis besar-besar di selembar kertas. Merenung, lalu menghela nafas panjang...

Tuesday, October 7, 2008

Libur Lebaran 1

"Aku kepingin dicium lumba-lumba, Ma"

Begitulah permintaan Donna ,yang lalu membawa kami ke Gelanggang Samudra di Ancol. Di akhir acara Dolphin Show ada beberapa anak yang bergiliran dicium lumba-lumba. Saya tanya Donna ,"Bagaimana rasanya?"
"Basah!"
Dolphin Show adalah salah satu acara yang bisa kita lihat selain Pentas Aneka Satwa, pentas Singa Laut dan teater 4 Dimensi (kali ini film yang diputar adalah "Monster of the Deep").
Untung kami berangkat pagi-pagi dari rumah. Karena makin siang makin penuh pengunjung , dan yang menyiksa tentu udara yang sangat panas terik. Semua itu membuat Liza merasa amat tidak nyaman, apalagi dia memang tidak menikmati pertunjukan apapun di sana (karena sama sekali tidak ada yang membuatnya tertarik).

Monday, October 6, 2008

Petani Yang Masih Bekerja Keras



Beberapa hari sebelum lebaran kami melewati suatu areal persawahan. Di bawah matahari yang bersinar terik kami menyaksikan seorang petani yang masih bekerja keras ketika di sisi lain orang-orang sudah mulai menikmati libur lebaran. Di foto ini dia tampak jauh di belakang Donna, di belakang plastik biru. Dia sedang merontokkan gabah secara manual. Onggokan padi yang selesai dipanen menumpuk di sebelahnya. Ikat demi ikat padi dipukul-pukulkan di kayu yang berbentuk seperti kerangka peti. Bulir demi bulir padi rontok di bawahnya. Tetes demi tetes keringat membasahi badannya. Senyumnya mengembang ketika kami mendekatinya, dan melebar ketika tahu maksud kami mendekatinya. Ya, saya ingin Donna menyaksikan dari dekat proses perontokkan padi secara manual. Mengesankan!

Friday, September 19, 2008

Ujian Musik Liza yang Kedua


Ujian Musik Liza yang kedua berlangsung tgl 25 mei kemarin. Persiapannya tentu bikin mamanya pusing. Tapi ujian kali ini aturannya beda, perwakilan orangtua diperbolehkan masuk dan ujiannya pun satu persatu.
Sebagai penyandang Down's Syndrome sekaligus Autis tentu 'gaya'nya lain. Begitu masuk ruangan, mata bukan tertuju ke penguji tapi mengamati seluruh detail ruangan. Karena yang diamati banyak, maka acara pengamatan itu pun belum 'selesai' pada waktu Liza seharusnya mulai ujian. Jadi sambil menyanyi atau menebak not yang dimainkan, berkali-kali saya harus 'mengembalikan' posisi muka menghadap penguji. Maklum, mengamatinya bukan sekedar melirik, tapi dengan memalingkan wajah plus ekspresi pengamatan yang serius.
Waktu bagian Liza seharusnya memainkan lagu, pengujinya turun dari kursi (biasanya beliau hanya duduk mengamati) dan mengamati Liza dari dekat. Akibatnya Liza sambil memainkan komposisi lagu matanya memandang ke penguji ("Siapa sih orang ini, aku nggak kenal", mungkin begitu dalam hati Liza :-)) Sampai-sampai salah posisi jarinya, dan dibetulkan posisinya oleh penguji, ha..ha... seru! Dan, setiap kali Liza selesai memainkan lagu (2 lagu) penguji bertepuk tangan.
Setelah keluar sertifikatnya, wow Liza membuat mamanya terharu : dari 22 macam penilaian, 9 dapat nilai cukup dan yang lainnya baik!
Nopember ini Liza akan ujian buku yang ketiga dan sekarang kami sedang berlatih keras. Terutama melatih jari-jari kiri Liza, karena, walaupun jumlah jarinya 10, tapi jari-jari kirinya sangat lemah nyaris tak ada kekuatan. Apalagi untuk memencet tuts 2 atau 3 sekaligus (misal do-mi-sol). Tantangan ada untuk kita taklukan, dengan iringan doa tak terputus tentunya...

Sunday, September 7, 2008

Festival Bercerita ASEAN 2008 (lanjutan)


Kami bertiga berfoto bersama ibu Murti Bunanta, pendiri dan ketua KPBA. Yang ingin mengenal KPBA lebih dekat bisa buka http://www.kpba-murti.org/







Pak Raden 'in action'








Ini adalah pertunjukan Wayang Suket (rumput) dari Solo yang dimainkan oleh 3 dosen ISI Solo. Cerita yang dimainkan adalah Mengapa Tubuh Udang Bengkok.






Pak Raden (drs.Suryadi) bersama Donna. Di acara ini dia menggambar sambil mendongeng tentang Petruk Jadi Raja. Semangatnya luar biasa, suaranya masih lantang ,menggambarnya pun hebat. Padahal untuk berjalan pun beliau tertatih dibantu tongkat. Luar biasa!






Di acara ini masih banyak pendongeng dari negara- negara lain, antara lain :Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. Semoga tahun-tahun selanjutnya kami berkesempatan menghadiri acara seperti ini lagi.

Festival bercerita ASEAN 2008

Tanggal 2 dan 3 Agustus kemarin kami datang ke acara Festival Bercerita ASEAN yang diselenggarakan oleh KPBA (Kelompok Pecinta Bacaan Anak). KPBA adalah sebuah lembaga nirlaba yang didirikan oleh ibu Murti Bunanta, doktor sastra anak dari Universitas Indonesia yang pertama.Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Acaranya bagus sekali. Andai semua anak berkesempatan menonton, tentu akan sangat bagus untuk perkembangan mental mereka. Mereka bisa tahu sekaligus merasakan keindahan dibalik perbedaan budaya dan bahasa bangsa lain.
Orang-orang tanpa pamrih tapi berdedikasi adalah pendukung terselenggaranya acara ini. Hormat dan terimakasih banyak untuk mereka, khususnya KPBA!


Inilah pementasan Wayang Gantung dari Singkawang Indonesia, satu-satunya yang tersisa di Indonesia.





Ibu kongdeuane Nettavong dari Laos, mendongeng dan memainkan alat musik tradisional dari bambu yang disebut Khaen. Penonton anak-anak diajak ke panggung berperan sebagai anak-anak kampung yang bergembira menari bersama ketika mendengar Khaen ditiup




Miss Yoshimi Hori dari Jepang (anggota aktif KPBA) mengajarkan cara membuat boneka dari sarung tangan. Cerita yang diperagakan sederhana tapi sungguh bagus, tentang ibu burung gagak dan anak-anaknya.

Tuesday, August 19, 2008

Ujian Musik Liza yang Pertama


Karena memang saya tidak menargetkan Liza untuk ujian musik, maka saya memang tidak mengajarkan membaca not balok dengan serius. Selain itu Liza memang kesulitan membaca not balok di partitur (walau sudah diperbesar sekian kali lipat).
Tapi waktu mendekati waktu pendaftaran ujian, guru musiknya menyemangati saya bahwa Liza pasti sanggup menjalaninya. Saya pikir, 'pintu' sudah dibuka lebar-lebar untuk Liza kenapa tidak dicoba. Kalaupun gagal, it's ok, yang penting sudah berusaha maximal.
Maka pembelajaran not balok dikebut selama 2 bulan. Pakai acara putus asa juga sayanya karena belum tahu 'cara yang tepat' mengajarkan not balok untuknya. Dari coretan di kertas sampai menempel magnet di garis partitur. Kurang dari sebulan baru 'nemu' caranya : seperti yang bisa dilihat di foto. Di foto itu Liza sedang belajar not balok di mobil sambil menunggu Donna les.
Bukan cuma itu. Di ruang ujian nanti Liza masuk sendiri bersama guru dan teman-temannya, ortu tak boleh ikut. Selama ini Liza belum pernah lepas sendiri dari saya atau orang terdekat.Tidak terbayang nanti bagaimana,ya sudah saya pasrah saja.
Sebelumnya sudah saya buatkan flow chart urutan kejadian yang akan dia dapat di dalam ruangan, selama beberapa hari sebelumnya sudah kami bicarakan. Dan karena tidak semua suara orang dia 'registered' (sehingga dia cuek saja kalau orang lain ngomong ke dia), maka saya buatkan tulisan besar-besar sebagai visual support. Misal "Liza diam", "liza jawab", "berdiri", "Liza mainkan lagu", "duduk". Jadi sewaktu hari H, bawaan untuk Liza sungguh ribet. Ada buku dari kain yang penuh bordiran huruf a-z (sebagai alat komunikasi Liza), ada 1 map karton-karton not balok (atas kebaikan guru dan penguji, mereka mau menggunakan ini untuk mengetest not balok Liza) dan setumpuk kertas visual support. Saya sungguh tegang, apalagi di hari itu Donna pun ujian musik di tempat yang sama. Waktu ujian hanya sekitar 15 menit, tapi rasanya lamaaa..
Setelah selesai saya baru tahu ternyata di dalam ruang ujian Liza membuat kehebohan! Karena tegang saya lupa membawakan buku musik Liza. Alhasil di dalam ruangan Liza sibuk 'mengumpulkan' buku musik teman-temannya (yang sama persis semuanya). Barisan peserta ujian yang sudah diatur sesuai nomor peserta pun bubar... ha..ha.. Murid lain sibuk teriak "..bukuku.. itu bukuku , jangan diambil!" Dan berhubung Liza tidak register suara gurunya, gurunya mencoba menghentikannya dengan mencari tulisan di setumpuk visual support yg ada, tapi tidak ada yang cocok karena memang tidak menduga akan seperti ini. Wah, pokoknya heboh.
Ketika akhirnya kami menerima sertifikat kelulusan + nilainya, kami sungguh terharu. Nilainya separuh cukup dan separuh bagus. Liza memang luar biasa! Terimakasih untuk gurunya yang senantiasa mensupport dan telah memberi kesempatan ujian untuk Liza.

Tuesday, August 5, 2008

Sejarah Liza Bermusik 3



Di sekolah musik dekat rumah, saya menemui guru drum dan piano dan bertanya apakah mereka sanggup mengajar anak berkebutuhan khusus seperti Liza (dan juga apakah lizanya mau dengan mereka).Liza tak bisa dan tak suka menulis/mewarna.Jadi kalau sampai dia mau menggerakkan jarinya tentu dikarenakan dorongan dari dalam dia sendiri,seperti karena kesukaannya terhadap musik. Setelah semua ok, mereka saya pinjami film tentang penyandang autis agar punya gambaran apa dan bagaimana penyandang autis itu.
Setelah berjalan beberapa bulan, tiba-tiba suatu ketika Liza memainkan lagu yang biasa Donna latih (lagu dari Yamaha) di sebuah keyboard mainan ,dengan satu jari telunjuk kanannya saja, tanpa seorang pun mengajarinya tetapi hanya berdasarkan nada-nada yang dia dengar!
Lalu saya berpikir, apakah sebaiknya saya privatkan pada guru musik dari Yamaha saja? Setelah guru musik Donna mendengar cerita tentang Liza malah dia mau menerima Liza di kelas musiknya. Wow! Akhirnya liza ikut kelas musik anak di Yamaha. Saya tak menargetkan apa-apa pada Liza dan saya tak berpikir dia akan ikut ujian musik nantinya. Yang penting dia enjoy.
Saya begitu terharu melihatnya berusaha keras menggerakkan jari-jari tangan kanannya di keyboard (bukan hanya telunjuk kanannya saja seperti ketika dia mengetik di komputer).Jari-jari tangan kirinya yang amat lemah pun mulai ada gerakan menekan tuts satu persatu.
Supaya tidak membingungkan Liza, sekolah musik yang pertama(yang dekat rumah) saya stop, tapi guru drum saya minta mengajar privat di rumah. Jadi sekarang selain musik di Yamaha, Liza privat drum di rumah. Tanpa bermaksud menjadikannya drummer, yang penting Liza menikmatinya sambil melatih koordinasi anggota tubuh.(Eh..ternyata gak gampang lho main drum itu).

Sejarah Liza bermusik 2



Ada beberapa saat Liza tak bermusik karena saya tak tahu harus bagaimana. Sementara itu Donna sudah ikut kelas musik anak di Yamaha di usia 2th 9 bln.Tapi saya tak 'berani' memasukkan Liza ke sana, saya merasa Liza akan sangat kesulitan mengikutinya.
Lalu waktu itu Jakarta kedatangan Hee Ah Lee ,the four fingered pianist dari Korea yang sungguh menginspirasi saya: dia dengan 4 jari sanggup bermain piano dengan bagus sekali kenapa Liza yang berjari 10 tidak saya beri kesempatan?
Pada saat yang bersamaan di perumahan di mana saya tinggal dibuka suatu sekolah musik (franchise dari sekolah musik terkenal). Saya beranikan diri untuk membawa Liza ke sana..

Thursday, July 31, 2008

Sejarah Liza Bermusik 1




Liza sangat senang dengan musik, bahkan sedari bayi ketika dia menangis keras, hanya bisa dihentikan dengan nyanyian.
Pada suatu konsultasi (di Bandung), psikolog kami memperkenalkan Jendela Ide. Suatu lembaga nirlaba untuk macam-macam art, termasuk musik. Dan mulailah Liza mengikuti salah satu kegiatannya yaitu Musik Dasar (yang belakangan menjadi Music for Special Needs). Setelah berjalan beberapa tahun dan telah terjalin kedekatan dengan pembimbingnya, pembimbing Liza dapat beasisiwa ke Jerman. Perasaan saya antara turut senang untuk keberhasilan beliau, juga sedih karena berarti Liza akan kehilangan acara bermusik yang sungguh menyenangkan.

Sunday, July 20, 2008

Panggung Boneka untuk Liza


Di kala Donna melihat saya sedang sibuk, atau dia melihat kakaknya sedang bisa diajak main, kadang dia berinisiatif membuat 'panggung boneka' untuk Liza. Sebelumnya beberapa kali dia pernah melihat saya atau papanya memainkan 'panggung boneka' untuk Liza. Beginilah 'panggung boneka' versi Donna:
Donna (dengan suara yang diubah):"Cicik mau nyanyi lagu apa?"
Liza:"Kokodal (maksudnya crocrodile)", atau lagu lainnya.
Lalu 'si boneka' pun menyanyi sampai selesai,dan Liza menikmati dengan mata berbinar. Sesuatu ekspresi yang jarang keluar bagi anak autis seperti dia di event yang lain.
Donna:"Tepuk tangan"
Dan Liza pun bertepuk tangan.
Begitulah salah satu kegiatan mereka berdua (di mobil, di rumah, bahkan ketika sedang menunggu di mana saja dan kapan saja) :-)

Tuesday, July 15, 2008

Liburan Sekolah Donna 8




Museum Tekstil

Sabtu kemarin kami ke Museum Tekstil, dalam rangka melengkapi kliping yang saya buat tentang bahan-bahan baju. Kliping ini saya buat untuk menjawab pertanyaan Donna bulan lalu ("Mama,bajuku terbuat dari apa?").
Ternyata kegiatan membatik di Museum Tekstil sungguh menyenangkan (tadinya saya pikir akan terlalu ribet untuk anak sekecil Donna). Donna sebetulnya ingin membatik lebih dari 1 saputangan. Sayang ternyata hari sabtu Museumnya tutup jam 12.30 dan kami datangnya agak kesiangan.
Di Museumnya sendiri suasana sungguh adem dengan halaman berpohon-pohon besar dan teduh, sungguh seperti oase di tengah hiruk pikuk lingkungan Pasar Tanah Abang yang ruwet dan macet.

Monday, July 7, 2008

Liburan Kami Sekeluarga:Pantai Carita (part three)

Dalam perjalanan pulang kami mampir ke Pantai Anyer, di bagian pantai yang berkarang.Di situ banyak binatang kecil yang bisa kita saksikan di antara karang-karang, antara lain kelomang, ikan-ikan kecil dan kepiting kecil, juga bintang laut.

Liburan Kami Sekeluarga: Pantai Carita (part two)

We're on Carita beach...



Tentu saja ikan bakar dan kawan-kawan, fresh from the sea, menemani kami.

Liburan kami Sekeluarga: Pantai Carita (part one)


Kami ke Pantai Carita tgl 28 juni kemarin,memenuhi permintaan Liza beberapa bulan sebelumnya.
Sayang pada hari ketika kami dalam perjalanan ke sana pihak hotel mengabarkan bahwa listrik mati karena ada tower yang roboh. Apa boleh buat, the show must go on. Hotel-hotel yang setara di Pantai Anyer (yang listriknya nggak mati) penuh semua. Ya sudah anggap saja berlibur di tempat terpencil yang belum berlistrik.
Air mereka suplai secara manual.Penerangan pakai lilin dan petromaks (jadi ingat pengalaman hidup di dusun di Gunung Kidul jaman KKN mahasiswa dulu).Malamnya angin pantai cukup sejuk berhembus melalui pintu dan jendela yang terbuka lebar. Masalahnya, nyamuk-nyamuk ikut bergabung ke kamar kami dan minyak kayu putih yang dioles berkali-kali tak mempan menangkisnya.Untungnya suami saya ingat pengalaman dulu waktu kerja di Jawa Timur, bahwa shampoo bisa berfungsi sebagai lotion anti nyamuk.Sayang ingatnya baru jam 12 malam :(
Akhirnya nyamuk pun raib entah ke mana...

Thursday, July 3, 2008

Liburan Sekolah Donna 7

Planetarium

Suatu sore ketika kami ke Planetarium ...





Friday, June 27, 2008

Liburan Sekolah Donna 5 (Taman Mini Indonesia Indah)

Kali ini kami naik skylift, mengunjungi 2 museum dan menonton pertunjukan film di theater Keong Mas.


Museum Perangko






Liza menolak masuk di booth ini karena ruangannya sempit dan gelap.









Museum Indonesia

Di salah satu buku Donna tentang gajah ada disebutkan bahwa gajah diburu dan dibunuh karena gadingnya. Di museum ini Donna bisa melihat sebuah gading gajah yang diukir.
Saat itu juga air mukanya berubah jadi sedih...
Sayang sekali di museum ini kita tak diperkenankan mengambil foto.



"Wild Ocean" di Teater Imax keong Mas

Di film ini tergambar keserakahan manusia dalam mengambil ikan di samudra, sehingga mengurangi jatah makanan bagi para predator lain (lumba-lumba, burung laut, ikan hiu, ikan paus).Donna sungguh serius memperhatikan film ini. Bukan hanya air mukanya yang berubah jadi prihatin tapi juga membuatnya terdiam beberapa lama (merenung?).
Saya tanya,"Orang-orang itu kenapa ?"
"Mereka mengambil ikan dari lautan terlalu banyak!"
Keesokan harinya dia bilang "Nanti kalau aku sudah besar, berusia 21 tahun, aku mau ke sana berenang dengan lumba-lumba". Entah darimana dia membuat batasan usia seperti ini. Schedule untuk 17 tahun yang akan datang ?? Who knows!
Di Keong Mas ini Liza tidak ikut, menunggu di luar bersama ayahnya. Saya mau lihat dulu apakah film + suasana di dalam bakal ok untuknya. Next time kayaknya dia bisa ikut masuk, film yang ini lagi (filmnya bagus!)

Wednesday, June 25, 2008

Liburan Sekolah Donna 4

Craft from National Geographic : Motion the Ocean


www.nationalgeographic.com/kids/
1.Air + pewarna makanan (warna biru)
2.Tuang baby oil
3.Taruh mainan plastic yang bisa mengapung

Awalnya saya beri mainan plastik berbentuk kelinci karena warna pink-nya yang sangat menyala.
Tapi Donna menolak. Katanya, kelinci tidak hidup di lautan. Dia minta diganti mainan ikan pausnya yang berwarna hijau muda. Beginilah hasil akhirnya.