Judul itu aku copy paste dari berita yang ditulis oleh wartawan NYTimes.com. Banyak yang terkejut membacanya. Tak disangka Steve Jobs, orang di balik sukses perusahaan komputer terkenal seperti Apple, justru tidak mengijinkan segala macam peralatan high tech di rumahnya untuk digunakan oleh anak-anaknya. Dan bukan hanya Steve Jobs saja, tapi beberapa pemimpin dan pendiri perusahaan yang tergolong High Tech juga melakukan pembatasan yang amat ketat terhadap penggunakan gadget dan screen untuk anak-anak mereka. Mereka tahu bahaya penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak mereka. Jadi apa yang dilakukan oleh Mr Job di rumah bersama anak-anaknya?
Aku kutip sedikit di sini:
“Every evening Steve made a point of having dinner at the big long table in their kitchen, discussing books and history and a variety of things,” he said. “No one ever pulled out an iPad or computer. The kids did not seem addicted at all to devices.”
Atau selengkapnya bisa baca di sini.
Bagaimana di rumahku sendiri? Aku & suami sampai saat ini bangga tidak punya gadget, kecuali PC di rumah dan Handphone model jadul tanpa internet. Demikian pula dengan anak -anak kami, no gadget. Entah ke depannya bagaimana, tapi sampai saat ini kami bangga dengan hal itu. Jadi ketika kami pergi bersama sekeluarga, jarang sekali kami sibuk dengan gadget masing-masing. Kami bisa bebas ngobrol, bergurau dan berdiskusi bersama. Hp ada hanya untuk berkomunikasi seperlunya. Miris melihat anak2 bahkan batita pun sudah disodori gadget untuk membuat mereka "anteng" dan "tidak mengganggu" orang tua mereka. Waktu yang sangat sebentar bersama anak-anak bukannya dipakai untuk memperkuat ikatan batin dan berdiskusi hal-hal yang penting untuk tumbuh kembangnya kelak, malah dianggapnya anak-anak itu "pengganggu".
Kira-kira bagaimana ya generasi yang sudah dicekoki gadget ini kelak memperlakukan orang tua mereka yang sudah uzur ? Apakah kira-kira mereka akan terganggu dengan kehadiran orang tuanya yang "mulai merepotkan"? Dan sebagai pengganti kehadiran diri, mereka mengirimkan gadget terbaru untuk orang tua mereka, biar orang tua mereka "anteng"? Mungkin juga plus mengirim "nanny" (yang tentunya juga sibuk main gadget, seperti yang mereka dapatkan selama mereka menjalani masa kanak-kanak)? . Entahlah...
Kami sendiri di rumah tidak totally screen free. Kami selama ini memakai PC untuk bekerja dan belajar. Sebagaimana sifat PC itu sendiri yang tidak bisa dibawa ke mana-mana, hanya bisa digunakan di tempat tertentu dan waktu tertentu, sehingga di waktu selebihnya kami lebih bisa berinteraksi penuh sebagai manusia nyata.
Just my two cents.
Sunday, March 15, 2015
Steve Jobs Was a Low Tech Parent
Labels:
Daily Life,
Education Journey,
Renunganku
Friday, March 6, 2015
Snack Buatan Sendiri untuk Mengurangi Sampah Plastik
Terus terang tidak selalu ada waktu untuk membuat camilan sendiri di rumah untuk memberikan asupan sehat plus mengurangi sampah (seperti kantong plastik dan kemasan plastik). Beberapa yang sering kubikin antara lain : Guacamole (alpukat, air lemon, tomat, bawang merah, garam, olive oil, kemarin bikin ini :D)
banana muffin (kalau pas ada pisang yang terlalu matang), macam-macam puding sayur (labu kaboca, wortel), puding cokelat, pancake, bubur sum-sum (snack hari ini), kacang ijo, bubur mixed grain, dan beberapa kue-kue yang gampang. Dan minuman macam kunir asem atau berbahan kencur. Begini hasil kunir asemku:
Kalau tidak sempat bikin ya beli :D , maklum doyan makan semua di sini. Sering aku menitipkan wadah untuk mewadahi pesananku itu, atau pinjam wadah mereka yg langsung kukembalikan begitu pesanan bisa kupindahkan ke wadahku sendiri, setidaknya mengurangi sampah plastik dan "No Styrofoam". Maklum, waktu terasa hilang entah ke mana cepat sekali. Dan hal-hal seperti ini menyita waktu yang lebih dari lumayan --> menyiapkan bahan-bahan, memasaknya, lalu mencuci semua peralatan bekas pakai.
Dan sekarang aku mau mengoven kue cokelat, simple Nutella choco cake, yg bahannya hanya Nutella dan telur ayam, karena bubur sum-sumnya sudah amblas huaa....cepet amat habisnya. Berkejaran antara yang makan dan yang bikin.
Thursday, March 5, 2015
Bermain dengan Batu Bercerita (Story Stone)
Bagaimanakah kira-kira cara bermain Story Stones ini? Ada banyak sekali, tergantung imajinasi dan kreasi kita.
Untuk anak-anak yang lebih kecil, batu-batu bisa dijejer dulu, lalu terserah si anak mau mulai dengan batu yang mana.
Misal begini:
Dan seterusnya :) Untuk anak yang lebih besar, batu-batu itu bisa tetap ditaruh di dalam kantong. Lalu satu persatu bergantian mengambilnya tanpa boleh mengintip lebih dulu. Misalkan anak pertama mengambil batu dan mendapatkan gambar beruang lalu memulai dengan "Suatu hari ada seekor beruang yang sedang kelaparan". Anak kedua mengambil batu dan melanjutkan cerita. Kalau dia mendapatkan batu bergambar balon, kira-kira bagaimana melanjutkannya ya? Mungkin begini"Dan dia bukannya menemukan madu tapi balon! Maka dia berpegangan erat pada tali balon dan ...." Dan seterusnya. Akan seru sekali. Bahkan Story stone ini bisa dipakai sebagai Ice Breaker di suatu acara yang pesertanya belum saling mengenal. Dengan bermain saling melanjutkan cerita satu sama lain, bisa cerita konyol atau lucu, sehingga mencairkan suasana. Selamat mencoba ^^
Untuk anak-anak yang lebih kecil, batu-batu bisa dijejer dulu, lalu terserah si anak mau mulai dengan batu yang mana.
Misal begini:
![]() |
| Ada seekor beruang yang lapar |
![]() |
| dan dia ingin makan madu. |
![]() |
| Lalu dia mengajak Jerapah sahabatnya untuk mencari madu bersama. |
![]() |
| Tapi Jerapah sedang asik main balon. |
Dan seterusnya :) Untuk anak yang lebih besar, batu-batu itu bisa tetap ditaruh di dalam kantong. Lalu satu persatu bergantian mengambilnya tanpa boleh mengintip lebih dulu. Misalkan anak pertama mengambil batu dan mendapatkan gambar beruang lalu memulai dengan "Suatu hari ada seekor beruang yang sedang kelaparan". Anak kedua mengambil batu dan melanjutkan cerita. Kalau dia mendapatkan batu bergambar balon, kira-kira bagaimana melanjutkannya ya? Mungkin begini"Dan dia bukannya menemukan madu tapi balon! Maka dia berpegangan erat pada tali balon dan ...." Dan seterusnya. Akan seru sekali. Bahkan Story stone ini bisa dipakai sebagai Ice Breaker di suatu acara yang pesertanya belum saling mengenal. Dengan bermain saling melanjutkan cerita satu sama lain, bisa cerita konyol atau lucu, sehingga mencairkan suasana. Selamat mencoba ^^
Lama tak Update dan si Batu Bercerita
Sudah lama sekali ternyata aku tidak menulis di sini. Selain kesibukan sehari-hari mengurus rumah dan membantu Liza belajar, juga sesekali mengerjakan ilustrasi untuk anak-anak. Dan yang terbaru adalah Story Stones alias Batu Bercerita.
Awalnya adalah ketika aku mengganti penampilan taman super mungil di depan rumahku. Kami ingin memperluas kolam kura-kura yang sudah ada dikarenakan sudah terlalu kecil untuk kura-kura kami yang tumbuh makin besar. Apalagi dapat limpahan 2 ekor kura-kura yg lebih besar lagi (pemiliknya sudah tidak mau piara mereka lagi ). Dan itu membuat area untuk tanaman yang sudah super sempit menjadi lebih sempit lagi. Maka kuputuskan untuk mengganti area tanam yang sempit itu dengan hamparan batu kerikil (besar dan kecil) warna putih, dan menjadi area untuk kura-kura berjalan-jalan keluar kolam.
Setelah selesai, melihat beberapa batu yang mulus dan putih itu kok aku jadi merasa melihat kanvas. Maka iseng-iseng kupilih beberapa yang besar lalu kugambari dan kuwarnai. Jadinya cantik juga. Lalu aku dan Donna bermain bergantian bercerita menggunakan batu bergambar itu, seru sekali sampai kami tertawa terbahak-bahak. Dan terpikir, kalau batu-batunya lebih kecilan seukuran 1-2 cm saja, mungkin bisa dimasukkan dalam satu kantong kain kecil, lalu bisa dibawa ke mana saja dan bisa dimasukkan ke dalam tas tangan sebagai alat untuk bermain dan bercerita di mana saja dan kapan saja. Terbayang di ruang-ruang tunggu (entah di bandara, rumah sakit, apotik, bioskop, stasiun, mana saja) anak-anak bisa asik bermain batu-batu ini dengan ibunya, penjaganya atau dengan teman lainnya. Bandingkan dengan pemandangan yg sering kita lihat selama ini: ibunya atau penjaga anaknya asik main gadget, atau melototi tayangan sinetron atau infotainment, dan anak-anaknya pun jadinya tanpa punya pilihan ikut main gadget atau ikut menatap layar TV :(
Maka ketika ada teman dari Klub Oase menawarkan untuk dijual di suatu acara seminar mereka, aku girang sekali. Mungkin ini saatnya aku bisa berkontribusi untuk mengubah pemandangan yang bikin senep (hahaha apa ya padanannya...oh iya, pemandangan yang bikin sebal) di ruang tunggu yang selama ini kulihat, dengan sesuatu yang lebih baik. Maka ngebuuutlah aku waktu itu membuat beberapa kantong untuk dijual di acara itu.
Dan ternyata peminatnya lumayan banyak. Semoga makin banyak pula orang tua yang mulai menyadari bahwa waktu dengan anak-anaknya tidaklah banyak sebelum mereka akhirnya "terbang meninggalkan sarang". Jangan tukar waktu itu dengan hal lain yang, sebetulnya kita semua tahu, tidak penting.
Bagaimana sih bermain dengan batu bercerita itu? Lihat di sini.
Labels:
Art and Culture,
Daily Life,
Education Journey,
Renunganku
Monday, December 15, 2014
Selusin Piala di Usia ke Sepuluh
Foto ini adalah piala ke -12 di usia Donna yg ke 10. Pialanya cuma ada 2 macam, dari kompetisi Story Telling 3 buah dan sisanya dari Kompetisi Piano. Ada yang juara 1, 2, dan harapan. Ada juga 5 ijasah piano internasional dari ABRSM (4 with distinction, 1 with merit).
Dan aku pun merenung, apa artinya itu semua, terutama untuk Donna sendiri.Piala pertama didapat ketika usianya baru akan menginjak 7 tahun. Langsung jadi juara pertama, alias veni vidi vici di sebuah kompetisi di sekolah musiknya sebagai peserta termuda. Aku terus terang agak kaget. Selama latihan persiapan tentu ada masa ngambek, marah, nangis seperti layaknya anak-anak seusianya, walau keikutsertaannya adalah atas kemauannya sendiri setelah ditawari guru pianonya. Dan kejuaraan kedua yang diikutinya adalah suatu kompetisi tingkat nasional, yang tentu saja sangat berat , beda jauh bobotnya dari kompetisi pertama yang dia ikuti. Malam sebelum kompetisi dia stress berat, tidak bisa tidur semalaman bahkan entah apa yang dilakukannya sehingga banyak guguran rambut di bantalnya :(. Dan hasilnya seperti yang kita duga, dia kalah bahkan sebelum bertanding. Dia merasa bukan siapa-siapa. Aku tahu, sangat tidak mudah mengalami hal seperti ini, dua situasi yang sangat kontras.
Tapi ternyata dia tidak kapok, dia ikut lagi ketika ada yang menawari ikut suatu kompetisi. Di pertandingan yang sama tahun depannya, dia entah bagaimana, mematikan rasa nervousnya, tapi juga berakibat ketika memainkan lagu di panggung lagunya menjadi terdengar datar saja, tanpa emosi :) dan tentulah kalah lagi :D
Begitulah, dari beberapa lomba yang diikutinya, aku merasakan kerja keras dan jatuh bangun Donna, juga tiap proses pendewasaan yang dia alami. Banyak yang menghasilkan piala tapi ada juga yang tidak. Donna bilang, perasaan bangga ketika bisa meraih tempat pertama dari suatu kompetisi, sangatlah "nagih". Itulah kenapa dia bilang ingin selalu ikut kompetisi yang ditawarkan. Pasang surut emosinya, nge-blank di atas panggung, kekacauan karena terlalu banyak hal yang dia ambil, itu yang dialaminya. Di sisi aku, menyemangati sampai juga habis kesabaran hahaha panjang sekali dan sangat emosional ...
Kata-kata Donna antara lain:
"... I will never ever join bla bla bla again for the rest of my life!"
"I hate bla bla bla..."
Dan kata-kataku kalau kesabaranku habis antara lain:
"Siapa suruh ikut lomba ini itu bla bla bla..."
"Jangan ikut lomba lagi ya, bikin pusing!"
Di akhir tahun 2014 ini aku melihat Donna mulai lebih relistis, tidak main ambil semua kegiatan yang dia mau ikuti. Dia sadar, waktu dan tenaga seseorang ada batasnya, dan ketika dipaksakan yang ada adalah kelelahan fisik mental, sakit, nge-blank, banyak kegiatan jadi kacau. Berusaha menikmati setiap kegiatan tanpa meninggalkan kerja keras, No Pain No Gain. Dan dia menyadari di atas langit ada langit, tak perlu pamer berlebihan. Tidak pula malu mengakui semua kegagalan dan jatuh bangun yang dia alami :). Seperti ketika sahabatku Karin bercerita putrinya sempat ngambek di konser piano pertamanya, Donna gak malu-malu lagi bilang "I did it, too!"
Mustinya menurutku sih gak "did", tapi "do" karena sekarang pun kadang masih ada ngambeknya walau frekwensi dan durasinya sudah sangat berkurang jauh hahahaha...eh tapi dia protes kalau dibilang ngambek sekarang ini, katanya itu bukan ngambek, cuman mengeluh :P
Dan di sisi aku sendiri, aku pun belajar sangat banyak dari semua hal itu. Semoga aku juga bisa mengerjakan peer-peerku sendiri sebagai ibu yang masih banyak ketinggalan, sambil berlari-larian dari satu pole (Liza) ke pole satunya (Donna). Ngos-ngosan...
Labels:
Education Journey,
Musik dan Piano
Thursday, October 2, 2014
Bulan September yang Sibuk
Bulan September 2014 yang baru lalu sungguh bulan yang hectic.
Di sisi Donna, dia ada ujian Royal Theory grade 3, kompetisi piano Petrof yang ke 6, ujian ICAS (dari sekolah) plus term exam (ujian term sekolah/mid semester). Dan seperti biasa, menjelang ujian sekolah, bertumpuk pula deadline semua project dan unit test. Semuanya perlu persiapan yang serius dan semuanya perlu waktu dan tenaga serta fokus tersendiri. Masih untung kompetisi piano Indonesia Piano Competition dibatalkan karena tidak dapat sponsor, dan ada satu lomba piano duet yang kuminta Donna batalkan. Kalau tidak, bisa benar-benar runyam. Saking lelahnya, sempat beberapa kali di sesi latihan Donna "nge-blank", tiba-tiba stop di tengah-tengah memainkan lagu untuk kompetisi, karena lupa notnya! Kurasa otaknya pun penuh dan lelah selain fisiknya yang akhirnya kena flu dan batuk. Hari ini hari terakhir term examnya. Besok dia ada field trip dengan sekolah.
Untungnya dia sudah menyadari betapa penuhnya semua yang ingin dan harus dilakukan di bulan ini, sehingga dengan sukarela dia menunda beberapa online course yang ingin dia ikuti yang mulainya bulan September ini.
Di sisi Liza, dia sudah beberapa bulan sering mengalami tiba-tiba muntah dan tiba-tiba diare tanpa sebab yang jelas. Dan adalah tidak mungkin memerikasakan ke dokter. Dia menolak diperiksa dokter apapun. Tak akan ada dokter yang mau melakukan pendekatan berbulan-bulan hanya agar supaya Liza mau diperiksa. Bahkan dokter keluarga kami yang sudah tahunan menjadi langganan keluarga kamipun tidak bisa memeriksa Liza dengan baik. Sulit memang. Ditambah lagi trauma dengan pemaksaan untuk diperiksa (sejak kecil dipaksa untuk diperiksa, karena keadaan).
Kalau muntah, Liza seperti bayi, akan diam saja di tempat. Jadi muntahan bisa tersebar di mana dia sedang berada, kasur, mobil, mana saja. Jadi yah begitulah, aku & suami ketambahan kerjaan bersihin hasil muntahan dan juga... kadang diare yg Liza gak sanggup tahan sebelum lari ke toilet. Untungnya untuk diare, Liza ada refleks untuk lari ke toilet.
Aku sendiri jadi flu dan batuk. Berhubung punya bakat asma, sakit batuk itu jadi sungguh menyiksa. Apalagi sedang ada kerjaan ilustrasi, baik yang berbayar maupun yang amal.
Sungguh bulan yang penuh warna. Aku sampai bingung, kok tiba-tiba bulan September sudah habis, harus balik kalender. Perasaan belum lama baru awal September.
Untunglah yang lomba piano Petrof ke 6 Donna dapat juara 1. Hasil lainnya masih harus menunggu.
Di sisi Donna, dia ada ujian Royal Theory grade 3, kompetisi piano Petrof yang ke 6, ujian ICAS (dari sekolah) plus term exam (ujian term sekolah/mid semester). Dan seperti biasa, menjelang ujian sekolah, bertumpuk pula deadline semua project dan unit test. Semuanya perlu persiapan yang serius dan semuanya perlu waktu dan tenaga serta fokus tersendiri. Masih untung kompetisi piano Indonesia Piano Competition dibatalkan karena tidak dapat sponsor, dan ada satu lomba piano duet yang kuminta Donna batalkan. Kalau tidak, bisa benar-benar runyam. Saking lelahnya, sempat beberapa kali di sesi latihan Donna "nge-blank", tiba-tiba stop di tengah-tengah memainkan lagu untuk kompetisi, karena lupa notnya! Kurasa otaknya pun penuh dan lelah selain fisiknya yang akhirnya kena flu dan batuk. Hari ini hari terakhir term examnya. Besok dia ada field trip dengan sekolah.
Untungnya dia sudah menyadari betapa penuhnya semua yang ingin dan harus dilakukan di bulan ini, sehingga dengan sukarela dia menunda beberapa online course yang ingin dia ikuti yang mulainya bulan September ini.
Di sisi Liza, dia sudah beberapa bulan sering mengalami tiba-tiba muntah dan tiba-tiba diare tanpa sebab yang jelas. Dan adalah tidak mungkin memerikasakan ke dokter. Dia menolak diperiksa dokter apapun. Tak akan ada dokter yang mau melakukan pendekatan berbulan-bulan hanya agar supaya Liza mau diperiksa. Bahkan dokter keluarga kami yang sudah tahunan menjadi langganan keluarga kamipun tidak bisa memeriksa Liza dengan baik. Sulit memang. Ditambah lagi trauma dengan pemaksaan untuk diperiksa (sejak kecil dipaksa untuk diperiksa, karena keadaan).
Kalau muntah, Liza seperti bayi, akan diam saja di tempat. Jadi muntahan bisa tersebar di mana dia sedang berada, kasur, mobil, mana saja. Jadi yah begitulah, aku & suami ketambahan kerjaan bersihin hasil muntahan dan juga... kadang diare yg Liza gak sanggup tahan sebelum lari ke toilet. Untungnya untuk diare, Liza ada refleks untuk lari ke toilet.
Aku sendiri jadi flu dan batuk. Berhubung punya bakat asma, sakit batuk itu jadi sungguh menyiksa. Apalagi sedang ada kerjaan ilustrasi, baik yang berbayar maupun yang amal.
Sungguh bulan yang penuh warna. Aku sampai bingung, kok tiba-tiba bulan September sudah habis, harus balik kalender. Perasaan belum lama baru awal September.
Untunglah yang lomba piano Petrof ke 6 Donna dapat juara 1. Hasil lainnya masih harus menunggu.
Bersama guru pianonya, Ms Grace Visca.
Labels:
Daily Life,
Education Journey,
Musik dan Piano
Subscribe to:
Posts (Atom)










