Pages

Showing posts with label Musik dan Piano. Show all posts
Showing posts with label Musik dan Piano. Show all posts

Tuesday, May 29, 2018

Last Year Music Events

Last year there were 3 events Donna joined. First was BimTek Musik, a music workshop by Kemendikbud, 30 Oct-1 Nov 2017, where she represented Banten province. She met students from all around Indonesia, and learnt a lot there about different Indonesia's culture and how to  make a team work with different kinds of abilities. She brought her flute in that event. This is the song her group made : "Kita Harus Bersatu"

The second was her piano competition, a piano classic open competition held by CDE Music School.
And the third was her first rank in flute and piano from her music school, Gloriamus Music School.

The trophies.



Thursday, December 15, 2016

"Persembahan dan Doa untuk Indonesia" Concert

Last Saturday, Donna had an annual concert provided by her music school for the best three students in each level and department. This concert was a bit different than the preceding years and contributed for the unity of Indonesia. The concert itself was divided into two sessions, Piano department and Vocal, Instrument Strings, Woodwind & Brasswind departments.
What she gets from her piano

"Padamu Negeri" played by the teachers and students of Gloriamus Music School


What she gets from Piano & Flute departments, 1st rank for piano and 2nd rank for flute.

Friday, December 18, 2015

First Semester Review for Donna

We almost finish our first semester for the end of the year is nigh. From all of things we've done in our 'school year' I try to make a simple summary:
- Donna's schedule is as full as when she was a student in a school, but the quality of her life rises higher. She is healthier and happier.
- Some of her subjects were a bit left behind, not on schedule (especially Math). But for me that's ok as long as the reason was the time taken for learning (almost all by herself) compare to the 'spoon-fed' version that she got from her old school. And I know that her understanding becomes much much better now. But for the other reason, distraction, she still has to learn how to manage her time better.
- Donna is an independent learner. She starts with the text book by herself, no one stands in front of her teaching the subject. For Math subject, she examine her understanding by doing some exercise from the work book. The work book comes with key-answer and she can check her answers by herself. And if she found some differences from the answer key she'd come to me or her father to ask. Some caused by her careless counting, some caused by her lack of understanding (and weak math foundation during her old school), and some from the answer key itself (human error).
For other work books that come without any key-answer, she used the internet sources and her parents as 'key-answer'.
- German language class that starts at the last week of last October so far so good, supported by  Duolingo as a daily practice apps.
- For Music: her piano achievement is the same as last year (ABRSM certificate, Gloriamus  Music School 1st winner for midyear internal competition, 1st rank for Gloriamus Music School grade 4 practical exam), and her Flute is just start so there's no special achievement.
- Online Course: She's taking 3 online courses right now, 2 new ones ( "Think Again: How to Reason and Argue" from Coursera and "A Christmas Carol by Dickens BerkeleyX Book Club" from edX) and the other one is the old one Dino 101 Dinosaur Paleobiology from Coursera. She's been taking this course three times or four maybe for she like it :D
- Time management:
She's just got her cellular phone a few months ago. We made an oral agreement, inspired by this post by Rumah Inspirasi. At first she was addicted to an online game and then unstoppable chat with some friends. Those activities really time consuming. I don't want to take her cellphone away as our final agreement for the consequence. I prefer if she then manage her time and catch up all of her left behind subjects. This ability in time management and self control is really important in her future life, she has to master it.  It's not proven yet. It's just a start.
Not only by her cellphone, sometimes distraction also comes from her "extended break time" (reading a page or two only for a couple of minutes became all of the pages of the book), or internet searching that "carried her away".

Time management is the biggest issue for her now. We all have to work hard to solve it without changing our homeschool style into "school at home". It's not what we want.

Monday, September 14, 2015

First Month: Review


First, we have to postpone Donna's German Class in Optimal Studia Bsd, because their administrator said that the amount of the students were not enough to make one class. The administrator said, they still don't know yet when the class would be opened. We've tried to ask Goethe Institute, for the age under 13 yo are restricted (and Donna is 11 yo now), by sending an email to them a few weeks ago.  I asked them to give Donna a try in their teenager class, for she was used to learn with 1-3 years older friends in her Primary classes with very good results in subjects she likes. She almost always be the youngest in every class and some competitions she joined. So I think it wouldn't be a problem for her, especially for this German language, where I saw her enthusiasm in her daily practise with Duolingo Apps. Well, I don't get any answer from them so far.

Second, Donna already starts her flute class since early August, and she looks enjoy the course. Especially when she has her own flute, a Yamaha 211 e mechanism one :)

It's not easy to support all of her passion, but surely her Father and I will do our best.

Monday, December 15, 2014

Selusin Piala di Usia ke Sepuluh


Foto ini adalah piala ke -12 di usia Donna yg ke 10. Pialanya cuma ada 2 macam, dari kompetisi Story Telling 3 buah dan sisanya dari Kompetisi Piano. Ada yang juara 1, 2, dan harapan. Ada juga 5 ijasah piano internasional dari ABRSM (4 with distinction, 1 with merit).
Dan aku pun merenung, apa artinya itu semua, terutama untuk Donna sendiri.

Piala pertama didapat ketika usianya baru akan menginjak 7 tahun. Langsung jadi juara pertama, alias veni vidi vici di sebuah kompetisi di sekolah musiknya sebagai peserta termuda. Aku terus terang agak kaget. Selama latihan persiapan tentu ada masa ngambek, marah, nangis seperti layaknya anak-anak seusianya, walau keikutsertaannya adalah atas kemauannya sendiri setelah ditawari guru pianonya. Dan kejuaraan kedua yang diikutinya adalah suatu kompetisi tingkat nasional, yang tentu saja sangat berat , beda jauh bobotnya dari kompetisi pertama yang dia ikuti. Malam sebelum kompetisi dia stress berat, tidak bisa tidur semalaman bahkan entah apa yang dilakukannya sehingga banyak guguran rambut di bantalnya :(. Dan hasilnya seperti yang kita duga, dia kalah bahkan sebelum bertanding. Dia merasa bukan siapa-siapa. Aku tahu, sangat tidak mudah mengalami hal seperti ini, dua situasi yang sangat kontras.
Tapi ternyata dia tidak kapok, dia ikut lagi ketika ada yang menawari ikut suatu kompetisi.  Di pertandingan yang sama tahun depannya, dia entah bagaimana, mematikan rasa nervousnya, tapi juga berakibat ketika memainkan lagu di panggung lagunya menjadi terdengar datar saja, tanpa emosi :) dan tentulah kalah lagi :D
Begitulah, dari beberapa lomba yang diikutinya, aku merasakan kerja keras dan jatuh bangun Donna, juga tiap proses pendewasaan yang dia alami. Banyak yang menghasilkan piala tapi ada juga yang tidak. Donna bilang, perasaan bangga ketika bisa meraih tempat pertama dari suatu kompetisi, sangatlah "nagih". Itulah kenapa dia bilang ingin selalu ikut kompetisi yang ditawarkan. Pasang surut emosinya, nge-blank di atas panggung, kekacauan karena terlalu banyak hal yang dia ambil, itu yang dialaminya. Di sisi aku, menyemangati sampai juga habis kesabaran hahaha panjang sekali dan sangat emosional ...
Kata-kata Donna antara lain:
 "... I will never ever join bla bla bla again for the rest of my life!"
 "I hate bla bla bla..."
Dan kata-kataku kalau kesabaranku habis antara lain:
"Siapa suruh ikut lomba ini itu bla bla bla..."
"Jangan ikut lomba lagi ya, bikin pusing!"

Di akhir tahun 2014 ini aku melihat Donna mulai lebih relistis, tidak main ambil semua kegiatan yang dia mau ikuti. Dia sadar, waktu dan tenaga seseorang ada batasnya, dan ketika dipaksakan yang ada adalah kelelahan fisik mental, sakit, nge-blank, banyak kegiatan jadi kacau. Berusaha menikmati setiap kegiatan tanpa meninggalkan kerja keras, No Pain No Gain. Dan dia menyadari di atas langit ada langit, tak perlu pamer berlebihan.  Tidak pula malu mengakui semua kegagalan dan jatuh bangun yang dia alami :). Seperti ketika sahabatku Karin bercerita putrinya sempat ngambek di konser piano pertamanya, Donna gak malu-malu lagi bilang "I did it, too!"
Mustinya menurutku sih gak "did", tapi "do" karena sekarang pun kadang masih ada ngambeknya walau frekwensi dan durasinya sudah sangat berkurang jauh hahahaha...eh tapi dia protes kalau dibilang ngambek sekarang ini, katanya itu bukan ngambek, cuman mengeluh :P
Dan di sisi aku sendiri, aku pun belajar sangat banyak dari semua hal itu. Semoga aku juga bisa mengerjakan peer-peerku sendiri sebagai ibu yang masih banyak ketinggalan, sambil berlari-larian dari satu pole (Liza) ke pole satunya (Donna). Ngos-ngosan...



Thursday, October 2, 2014

Bulan September yang Sibuk

Bulan September 2014 yang baru lalu sungguh bulan yang hectic.
Di sisi Donna, dia ada ujian Royal Theory grade 3, kompetisi piano Petrof yang ke 6, ujian ICAS (dari sekolah) plus term exam (ujian term sekolah/mid semester). Dan seperti biasa, menjelang ujian sekolah, bertumpuk pula deadline semua project dan unit test. Semuanya perlu persiapan yang serius dan semuanya perlu waktu dan tenaga serta fokus tersendiri. Masih untung kompetisi piano Indonesia Piano Competition dibatalkan karena tidak dapat sponsor, dan ada satu lomba piano duet yang kuminta Donna batalkan. Kalau tidak, bisa benar-benar runyam. Saking lelahnya, sempat beberapa kali di sesi latihan Donna "nge-blank", tiba-tiba stop di tengah-tengah memainkan lagu untuk kompetisi, karena lupa notnya! Kurasa otaknya pun penuh dan lelah selain fisiknya yang akhirnya kena flu dan batuk. Hari ini hari terakhir term examnya. Besok dia ada field trip dengan sekolah.
Untungnya dia sudah menyadari betapa penuhnya semua yang ingin dan harus dilakukan di bulan ini, sehingga dengan sukarela dia menunda beberapa online course yang ingin dia ikuti yang mulainya bulan September ini.
Di sisi Liza, dia sudah beberapa bulan sering mengalami tiba-tiba muntah dan tiba-tiba diare tanpa sebab yang jelas. Dan adalah tidak mungkin memerikasakan ke dokter. Dia menolak diperiksa dokter apapun. Tak akan ada dokter yang mau melakukan pendekatan berbulan-bulan hanya agar supaya Liza mau diperiksa. Bahkan dokter keluarga kami yang sudah tahunan menjadi langganan keluarga kamipun tidak bisa memeriksa Liza dengan baik.  Sulit memang. Ditambah lagi trauma dengan pemaksaan untuk diperiksa (sejak kecil dipaksa untuk diperiksa, karena keadaan).
Kalau muntah, Liza seperti bayi, akan diam saja di tempat. Jadi muntahan bisa tersebar di mana dia sedang berada, kasur, mobil, mana saja. Jadi yah begitulah, aku & suami ketambahan kerjaan bersihin hasil muntahan dan juga... kadang diare yg Liza gak sanggup tahan sebelum lari ke toilet. Untungnya untuk diare, Liza ada refleks untuk lari ke toilet.
Aku sendiri jadi flu dan batuk. Berhubung punya bakat asma, sakit batuk itu jadi sungguh  menyiksa. Apalagi sedang ada kerjaan ilustrasi, baik yang berbayar maupun yang amal.
Sungguh bulan yang penuh warna. Aku sampai bingung, kok tiba-tiba bulan September sudah habis, harus balik kalender. Perasaan belum lama baru awal September.
Untunglah yang lomba piano Petrof ke 6 Donna dapat juara 1. Hasil lainnya masih harus menunggu.
Sambil berjaket karena flu :D

Bersama guru pianonya, Ms Grace Visca.




Sunday, June 2, 2013

Terlalu Capek

Yah itulah yang terjadi ketika bulan lalu Donna mengikuti in house concert di tempat sekolah pianonya, di panggung dia tiba-tiba lupa semua not lagu yang sudah lancar dan hafal dimainkannya. Dia kembali ke bangku dan menangis sejadi-jadinya.
Sudah sejak bulan April dia sibuk sekali. Mempersiapkan macam-macam kegiatan yang ingin diikutinya. Dari lomba story telling, di mana dia dapat juara 2, lalu menjadi Master of Ceremony bersama teman-temannya di @america, lalu in house concert, persiapan kompetisi piano bulan Juli, persiapan Year End Performance sekolah...Semua itu memerlukan persiapan dan latihan tersendiri dan makan waktu.
Bahkan dia sempat jatuh sakit sebelum konser tsb, panas tinggi, sampai tak bisa masuk sekolah 3 hari.

Tapi semua itu jadi ada hikmahnya. Donna bersedia mengurangi dan memilih kegiatan mana yang benar-benar tak bisa ditinggalkan. Karena, sebelumnya, kalau kutegor untuk mengurangi, yang ada adalah kemarahannya. Dia sangka aku tak menginginkan dia senang. 
Yah, blessings in disguise...


Ini waktu jadi juara 2 Story Telling Competition dengan membawakan cerita "Sangkuriang".
Ilustrasi untuk cerita "Sangkuriang" bisa dilihat di sini.






Sunday, November 11, 2012

Piala Piano Donna tahun 2012

Tahun ini sudah hampir habis. Dan Donna sudah mengumpulkan 3 piala dari kompetisi piano yang diikutinya.
 Yang pertama sebagai juara harapan 2 dari Yamaha yang pernah kutulis di sini.

Ini yang kedua, juara 1 di Petrof Piano Competition, di kelompok usia yang lebih tua dari Donna.


Dan ini adalah yang Donna dapatkan sore ini : mendapatkan piala Potensial di Gracia Open Music Festival. 
Sebetulnya sama dengan juara harapan. Maksudnya berpotensi jadi pianis yang baik. Semoga.
Padahal persiapannya agak mepet, karena akhir bulan lalu Donna juga mengikuti ujian piano ABRSM grade 2.

Tadi pagi Donna sempat stress. Setelah bisa ditenangkan (salah satunya dengan baca buku "Asterix the Gaul" :) ), kukatakan, tak penting menang atau kalah, yang penting nikmati permainan pianomu.
Dan akhirnya dia bisa lebih relax. 
Aku bangga padanya.




Tuesday, March 20, 2012

Doll's Dream

Minggu kemarin Donna ikutan Yamaha Piano Competition Junior A (di mana tahun lalu dia menjadi juaranya). Tahun ini bersamaan waktunya dengan dimulainya Exam Week di sekolahnya. Memang konsentrasi agak terpecah, tapi lumayan, dapat juara Harapan Kedua. Ada kesalahan sedikit ;)
Tapi aku bangga padanya. Cuman sayangnya aku lupa membawa Memory Card di dalam kameraku sehingga tak terdokumentasikan. Ini adalah permainannya untuk lagu yang dipertandingkan, Doll's Dream karya Theodore Oesten, yang dimainkan di rumah.

Wednesday, April 27, 2011

Kuncinya: Do Your Best & Relax

Hari Minggu tgl 17 April 2011 yang lalu, Donna memenangi kompetisi Junior Piano Yamaha kategori A (6-8 th). Bangga & terharu. Akhirnya Donna bisa 'mengalahkan' dirinya sendiri.
Ya betul. Lawannya sebetulnya adalah dirinya sendiri. Aku tahu dia bermain bagus sekali waktu sedang latihan. Tapi yang terjadi pada waktu-waktu lalu, ketika 'maju perang' dia kalah sebelum bertanding. Dia menjadi gugup & terlalu nervous, sekalipun kami tak membebaninya target apa-apa, dan membuat kesalahan demi kesalahan karena tak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang ketakutannya (takut tidak bisa bermain dengan baik, takut membuat kesalahan).
Sudah beberapa bulan kami sekeluarga menonton acara Junior Master Chef di Star TV. Ini juga membantunya melihat bahwa semua orang membuat kesalahan. Tapi apa yang membedakan antara sang juara dan yang kalah? Yang bermental juara tidak tenggelam dalam penyesalan akan kesalahan yang telah dibuat, melainkan bangkit untuk melakukan hal yang terbaik di waktu yang tersisa. Dan para pesertanya bisa dibilang memang bermental juara semua. Sehingga yang kalah pun tetap bisa meninggalkan arena dengan kepala tegak.Lumayan, hal itu bisa memacu Donna untuk "Berbuat Yang Terbaik di Waktu Yang Tersisa". Tidak masalah kamu dapat pialanya atau tidak. Kalau kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu juga layak disebut pemenang.
Dan mendekati Hari-H nya, kami justru tak mau dia terlalu banyak memikirkannya. Jadi sehari sebelumnya dia malah asyik main game tentang Ancient Egypt dari Lego. Saking bersemangatnya malah mau mempelajari Ancient Egypt dari buku yang kami punya dan internet tentunya. Bahkan pada Hari-H nya dia membawa buku-buku Ancient Egyptnya untuk dibaca sambil menunggu giliran.
Relax :D
Bagaimana Donna memainkan lagu Canonnya? Ini dia.
We're so proud of you...

Monday, December 22, 2008

Horee..lulus!


Hasil ujian musik Liza dan Donna tgl 16 nopember yg lalu sudah keluar .
Saya legaa sekali, terutama untuk kelulusan Liza. Kenapa?
Karena pada waktu ujian saat memainkan salah satu repertoire, Liza memainkannya dengan tempo yang terlalu cepat. Diberi kesempatan mengulang sekali lagi pun masih agak terlalu cepat.
Terimakasih sekali untuk ibu penguji yang sabar dan memahami keterbatasan Liza. Di sertifikat kelulusannya ada catatan tentang hal itu : tempo memainkannya agak terlalu cepat.
Itu sebetulnya kesalahan saya yang memilihkan lagu itu untuk Liza. Saya pilih lagu itu (yang bertempo lambat) karena saya pikir lebih mudah bagi jari-jari Liza untuk memainkannya. Padahal saya tahu Liza tidak terlalu menyukai lagu bertempo lambat, dia lebih menyukai lagu yang riang. Selama waktu latihan di rumah maupun di sekolah musik Liza tampaknya oke saja. Pas ujian "balas dendam" dicepetin, ha ha ha...
Saya dapat pelajaran : jangan 'sok' merasa lebih tahu mengenai sesuatu yang berhubungan dengan selera, untuk anak yang kelihatannya cuek seperti Liza sekalipun!
Dan untuk ujian kali ini 'cara baca' not balok untuk Liza diganti. Tadinya memakai visual support buatan saya : dalam satu potong karton hanya ada satu not balok yang sebesar jari kelingking.
Untuk kali ini berupa fotocopy repertoire yang dimainkan Liza. Beberapa kali dicoba akhirnya ukuran yang pas adalah fotocopy dengan pembesaran 210 %. Tapi waktu yang tersisa tinggal satu bulan. Waduh benar-benar membuat saya stress berat.
Fiuuh.. akhirnya bisa dilewati. Next stepnya Liza naik ke Kelompok Musik Anak 4, tentu lebih berat dan sulit. Tapi saya ingat kata-kata ini:
"When you want something, the whole universe conspires to help you to realize your desire" (Paulo Coelho)
Cuman sepertinya saya butuh libur sejenak...

Friday, September 19, 2008

Ujian Musik Liza yang Kedua


Ujian Musik Liza yang kedua berlangsung tgl 25 mei kemarin. Persiapannya tentu bikin mamanya pusing. Tapi ujian kali ini aturannya beda, perwakilan orangtua diperbolehkan masuk dan ujiannya pun satu persatu.
Sebagai penyandang Down's Syndrome sekaligus Autis tentu 'gaya'nya lain. Begitu masuk ruangan, mata bukan tertuju ke penguji tapi mengamati seluruh detail ruangan. Karena yang diamati banyak, maka acara pengamatan itu pun belum 'selesai' pada waktu Liza seharusnya mulai ujian. Jadi sambil menyanyi atau menebak not yang dimainkan, berkali-kali saya harus 'mengembalikan' posisi muka menghadap penguji. Maklum, mengamatinya bukan sekedar melirik, tapi dengan memalingkan wajah plus ekspresi pengamatan yang serius.
Waktu bagian Liza seharusnya memainkan lagu, pengujinya turun dari kursi (biasanya beliau hanya duduk mengamati) dan mengamati Liza dari dekat. Akibatnya Liza sambil memainkan komposisi lagu matanya memandang ke penguji ("Siapa sih orang ini, aku nggak kenal", mungkin begitu dalam hati Liza :-)) Sampai-sampai salah posisi jarinya, dan dibetulkan posisinya oleh penguji, ha..ha... seru! Dan, setiap kali Liza selesai memainkan lagu (2 lagu) penguji bertepuk tangan.
Setelah keluar sertifikatnya, wow Liza membuat mamanya terharu : dari 22 macam penilaian, 9 dapat nilai cukup dan yang lainnya baik!
Nopember ini Liza akan ujian buku yang ketiga dan sekarang kami sedang berlatih keras. Terutama melatih jari-jari kiri Liza, karena, walaupun jumlah jarinya 10, tapi jari-jari kirinya sangat lemah nyaris tak ada kekuatan. Apalagi untuk memencet tuts 2 atau 3 sekaligus (misal do-mi-sol). Tantangan ada untuk kita taklukan, dengan iringan doa tak terputus tentunya...

Tuesday, August 19, 2008

Ujian Musik Liza yang Pertama


Karena memang saya tidak menargetkan Liza untuk ujian musik, maka saya memang tidak mengajarkan membaca not balok dengan serius. Selain itu Liza memang kesulitan membaca not balok di partitur (walau sudah diperbesar sekian kali lipat).
Tapi waktu mendekati waktu pendaftaran ujian, guru musiknya menyemangati saya bahwa Liza pasti sanggup menjalaninya. Saya pikir, 'pintu' sudah dibuka lebar-lebar untuk Liza kenapa tidak dicoba. Kalaupun gagal, it's ok, yang penting sudah berusaha maximal.
Maka pembelajaran not balok dikebut selama 2 bulan. Pakai acara putus asa juga sayanya karena belum tahu 'cara yang tepat' mengajarkan not balok untuknya. Dari coretan di kertas sampai menempel magnet di garis partitur. Kurang dari sebulan baru 'nemu' caranya : seperti yang bisa dilihat di foto. Di foto itu Liza sedang belajar not balok di mobil sambil menunggu Donna les.
Bukan cuma itu. Di ruang ujian nanti Liza masuk sendiri bersama guru dan teman-temannya, ortu tak boleh ikut. Selama ini Liza belum pernah lepas sendiri dari saya atau orang terdekat.Tidak terbayang nanti bagaimana,ya sudah saya pasrah saja.
Sebelumnya sudah saya buatkan flow chart urutan kejadian yang akan dia dapat di dalam ruangan, selama beberapa hari sebelumnya sudah kami bicarakan. Dan karena tidak semua suara orang dia 'registered' (sehingga dia cuek saja kalau orang lain ngomong ke dia), maka saya buatkan tulisan besar-besar sebagai visual support. Misal "Liza diam", "liza jawab", "berdiri", "Liza mainkan lagu", "duduk". Jadi sewaktu hari H, bawaan untuk Liza sungguh ribet. Ada buku dari kain yang penuh bordiran huruf a-z (sebagai alat komunikasi Liza), ada 1 map karton-karton not balok (atas kebaikan guru dan penguji, mereka mau menggunakan ini untuk mengetest not balok Liza) dan setumpuk kertas visual support. Saya sungguh tegang, apalagi di hari itu Donna pun ujian musik di tempat yang sama. Waktu ujian hanya sekitar 15 menit, tapi rasanya lamaaa..
Setelah selesai saya baru tahu ternyata di dalam ruang ujian Liza membuat kehebohan! Karena tegang saya lupa membawakan buku musik Liza. Alhasil di dalam ruangan Liza sibuk 'mengumpulkan' buku musik teman-temannya (yang sama persis semuanya). Barisan peserta ujian yang sudah diatur sesuai nomor peserta pun bubar... ha..ha.. Murid lain sibuk teriak "..bukuku.. itu bukuku , jangan diambil!" Dan berhubung Liza tidak register suara gurunya, gurunya mencoba menghentikannya dengan mencari tulisan di setumpuk visual support yg ada, tapi tidak ada yang cocok karena memang tidak menduga akan seperti ini. Wah, pokoknya heboh.
Ketika akhirnya kami menerima sertifikat kelulusan + nilainya, kami sungguh terharu. Nilainya separuh cukup dan separuh bagus. Liza memang luar biasa! Terimakasih untuk gurunya yang senantiasa mensupport dan telah memberi kesempatan ujian untuk Liza.

Tuesday, August 5, 2008

Sejarah Liza Bermusik 3



Di sekolah musik dekat rumah, saya menemui guru drum dan piano dan bertanya apakah mereka sanggup mengajar anak berkebutuhan khusus seperti Liza (dan juga apakah lizanya mau dengan mereka).Liza tak bisa dan tak suka menulis/mewarna.Jadi kalau sampai dia mau menggerakkan jarinya tentu dikarenakan dorongan dari dalam dia sendiri,seperti karena kesukaannya terhadap musik. Setelah semua ok, mereka saya pinjami film tentang penyandang autis agar punya gambaran apa dan bagaimana penyandang autis itu.
Setelah berjalan beberapa bulan, tiba-tiba suatu ketika Liza memainkan lagu yang biasa Donna latih (lagu dari Yamaha) di sebuah keyboard mainan ,dengan satu jari telunjuk kanannya saja, tanpa seorang pun mengajarinya tetapi hanya berdasarkan nada-nada yang dia dengar!
Lalu saya berpikir, apakah sebaiknya saya privatkan pada guru musik dari Yamaha saja? Setelah guru musik Donna mendengar cerita tentang Liza malah dia mau menerima Liza di kelas musiknya. Wow! Akhirnya liza ikut kelas musik anak di Yamaha. Saya tak menargetkan apa-apa pada Liza dan saya tak berpikir dia akan ikut ujian musik nantinya. Yang penting dia enjoy.
Saya begitu terharu melihatnya berusaha keras menggerakkan jari-jari tangan kanannya di keyboard (bukan hanya telunjuk kanannya saja seperti ketika dia mengetik di komputer).Jari-jari tangan kirinya yang amat lemah pun mulai ada gerakan menekan tuts satu persatu.
Supaya tidak membingungkan Liza, sekolah musik yang pertama(yang dekat rumah) saya stop, tapi guru drum saya minta mengajar privat di rumah. Jadi sekarang selain musik di Yamaha, Liza privat drum di rumah. Tanpa bermaksud menjadikannya drummer, yang penting Liza menikmatinya sambil melatih koordinasi anggota tubuh.(Eh..ternyata gak gampang lho main drum itu).

Sejarah Liza bermusik 2



Ada beberapa saat Liza tak bermusik karena saya tak tahu harus bagaimana. Sementara itu Donna sudah ikut kelas musik anak di Yamaha di usia 2th 9 bln.Tapi saya tak 'berani' memasukkan Liza ke sana, saya merasa Liza akan sangat kesulitan mengikutinya.
Lalu waktu itu Jakarta kedatangan Hee Ah Lee ,the four fingered pianist dari Korea yang sungguh menginspirasi saya: dia dengan 4 jari sanggup bermain piano dengan bagus sekali kenapa Liza yang berjari 10 tidak saya beri kesempatan?
Pada saat yang bersamaan di perumahan di mana saya tinggal dibuka suatu sekolah musik (franchise dari sekolah musik terkenal). Saya beranikan diri untuk membawa Liza ke sana..

Thursday, July 31, 2008

Sejarah Liza Bermusik 1




Liza sangat senang dengan musik, bahkan sedari bayi ketika dia menangis keras, hanya bisa dihentikan dengan nyanyian.
Pada suatu konsultasi (di Bandung), psikolog kami memperkenalkan Jendela Ide. Suatu lembaga nirlaba untuk macam-macam art, termasuk musik. Dan mulailah Liza mengikuti salah satu kegiatannya yaitu Musik Dasar (yang belakangan menjadi Music for Special Needs). Setelah berjalan beberapa tahun dan telah terjalin kedekatan dengan pembimbingnya, pembimbing Liza dapat beasisiwa ke Jerman. Perasaan saya antara turut senang untuk keberhasilan beliau, juga sedih karena berarti Liza akan kehilangan acara bermusik yang sungguh menyenangkan.