Pages

Wednesday, December 5, 2012

What About Socialization?

Temanku Wiwiet memuat ulang tulisan ini. Dan aku masih suka membacanya lagi dan lagi.


What about socialization?
http://www.geocities.com/mhfurgason/hug/socialization.html

Author Unknown

Two women meet at a playground, where their children are swinging and
playing ball. The women are sitting on a bench watching. Eventually,
they begin to talk.

W1: Hi. My name is Maggie. My kids are the three in red shirts
–helps me keep track of them.

W2: (Smiles) I’m Patty. Mine are in the pink and yellow shirts. Do
you come here a lot?

W1: Usually two or three times a week, after we go to the library.

W2: Wow! Where do you find the time?

W1: We homeschool, so we do it during the day most of the time.

W2: Some of my neighbors homeschool, but I send my kids to public school.

W1: How do you do it?

W2: It’s not easy. I go to all the PTO meetings and work with the
kids every day after school and stay real involved.

W1: But what about socialization? Aren’t you worried about them
being cooped up all day with kids their own ages, never getting the
opportunity for natural relationships?

W2: Well, yes. But I work hard to balance that. They have some
friends who’re homeschooled, and we visit their grandparents almost
every month.

W1: Sounds like you’re a very dedicated mom. But don’t you worry
about all the opportunities they’re missing out on? I mean they’re so
isolated from real life — how will they know what the world is like
–what people do to make a living — how to get along with all
different kinds of people?

W2: Oh, we discussed that at PTO, and we started a fund to bring
real people into the classrooms. Last month, we had a policeman and a
doctor come in to talk to every class. And next month, we’re having a
woman from Japan and a man from Kenya come to speak.

W1: Oh, we met a man from Japan in the grocery store the other
week, and he got to talking about his childhood in Tokyo. My kids were
absolutely fascinated. We invited him to dinner and got to meet his
wife and their three children.

W2: That’s nice. Hmm. Maybe we should plan some Japanese food for
the lunchroom on Multicultural Day.

W1: Maybe your Japanese guest could eat with the children.

W2: Oh, no. She’s on a very tight schedule. She has two other
schools to visit that day. It’s a systemwide thing we’re doing.

W1: Oh, I’m sorry. Well, maybe you’ll meet someone interesting in
the grocery store sometime and you’ll end up having them over for
dinner.

W2: I don’t think so. I never talk to people in the store
–certainly not people who might not even speak my language. What if
that Japanese man hadn’t spoken English?

W1: To tell you the truth, I never had time to think about it.
Before I even saw him, my six-year-old had asked him what he was going
to do with all the oranges he was buying.

W2: Your child talks to strangers?

W1: I was right there with him. He knows that as long as he’s with
me, he can talk to anyone he wishes.

W2: But you’re developing dangerous habits in him. My children
never talk to strangers.

W1: Not even when they’re with you?

W2: They’re never with me, except at home after school. So you see
why it’s so important for them to understand that talking to strangers
is a big no-no.

W1: Yes, I do. But if they were with you, they could get to meet
interesting people and still be safe. They’d get a taste of the real
world, in real settings. They’d also get a real feel for how to tell
when a situation is dangerous or suspicious.

W2: They’ll get that in the third and fifth grades in their health courses.

W1: Well, I can tell you’re a very caring mom. Let me give you my
number–if you ever want to talk, give me call. It was good to meet
you.

Friday, November 30, 2012

Renungan Ketika Berkunjung ke Semarang

Jumat 23 November 2012 Nenekku dari Papa dipanggil menghadapNya, di usia ke 92 tahun.
Aku hanya dapat menghadiri pemakaman beliau hari minggunya, tgl 25 November.
Naik pesawat terpagi dari Jakarta, langsung menuju ke Rumah Duka dijemput sepupuku. Acara berlangsung dari pagi s/d siang hari. Setelah acara pemakaman, aku masih punya waktu beberapa jam lagi sebelum kembali ke Jakarta lagi. Aku ingin menengok ke rumah nenek di Gang Baru, yang sudah lama tak kukunjungi (karena aku jarang bertemu nenekku, dan seringnya bertemu di rumah tanteku atau di satu acara keluarga).

Kembali ke sana terasa seperti kembali menyusuri ingatan masa kecil. Rumah-rumah itu, para tetangga yang sebagian besar masih sama, hanya menua . Tapi ada banyak hal yang mengganjal hatiku.
Rumah nenekku, yang berloteng kayu, sebagian kayunya rusak :(. Atapnya bocor, mungkin itu yang menyebabkan beberapa bagian kayunya rusak. Menurut cerita Alm Mamaku, loteng itu dibangun oleh kakek sendiri dibantu Papaku yang masih kecil waktu itu.
Memandang tangga kayunya yang beberapa bagian aus dimakan usia dan rusak, terasa sedih hatiku. Tangga ini dan loteng kayunya adalah tempat main kami para cucu waktu kecil. Sewaktu liburan sekolah biasanya kami sekeluarga bermobil dari Purwokerto ke Semarang, mengunjungi kakek & nenek. Namanya anak-anak, kalau sudah lari-larian kami suka jadi kurang hati-hati. Aku pernah jatuh di tangga kayu itu, 2 atau 3 kali :D. Demikian juga adik-adikku.
Dari dulu rumah itu, yang merangkap sebagai warung kelontong di bagian depan, memang penuh dengan barang dagangan. Aku kecil suka memandangi macam-macam barang yang dijual di situ, mengamatinya satu persatu. Kadang menerka-nerka apa guna dari barang tersebut. Ada batu apung dan kentang di peti kayu. Ada rak berisi bermacam-macam tepung yang sudah berplastik. Ada rak yang berisi bahan makanan kering dan kalengan. Ada rak berisi botol-botol bumbu dan sirup. Rak-rak itu menjulang dari lantai ke langit-langit, mengelilingi dinding waserba yang kecil. Banyak sekali macamnya. Kagum aku mereka (nenek dan para tante yang membantu) bisa ingat semuanya, ya jenisnya, ya harganya, ya tempatnya berada.
Rumah nenekku ini memang berlokasi di dalam pasar, Pasar Gang Baru. Pasar buka sejak sebelum subuh sampai siang hari. Ketika menginap di sana dulu, sekitar jam 3.30 pagi sudah mulai suara gaduh layaknya sebuah pasar yang menggeliat bangun. Apalagi di depan rumah nenek ada yang jual kelapa yang diparut. Sepagi itu dia sudah mulai menyalakan mesin parutnya. Pagi-pagi itu biasanya aku terbangun, oleh suara berisik, lalu mengintip kesibukan orang-orang yang sedang mempersiapkan dagangannya. Tak berani mengganggu, karena nenek dan para tante yang membantu sungguh sibuk, hilir mudik di tempat yang kecil itu. Jadi aku beraninya mengamati barang-barang dagangan itu ketika warung sudah tutup.
Kemarin itu perasaan barang-barang dagangan yang ada sudah makin banyak dan mengokupasi tempat-tempat yang tersisa. Jadi makin sempit dan kotor :(

Duduk di balai-balai kayu di depan warung sorenya bersama Papaku, seorang tante dan sepupu, aku mengamati para tetangga. Banyak rumah yang dulunya berarsitektur pecinan kuno sudah berubah. Berganti jadi bangunan tembok modern :(
Jalanan sempit di depan warung masih sama, aspal yang sudah terkelupas sana-sini. Selokan bau masih tetap bau.
Berandai-andailah aku. Andai pemerintah kota Semarang berkenan mempertahankan arsitektur rumah-rumah lama di situ. Andaikan jalannya di paving rapi dan selokannya dibuat tertutup sehingga tidak menyebarkan bau. Tempat itu bisa jadi tempat wisata yang lebih menarik, bahkan dibandingkan dengan kompleks Pasar Baru di Jakarta.
Di seberang warung nenek, terpaut beberapa rumah, masih berproduksi pia Tan Tie Kang, yang entah sudah berapa puluh tahun ada di situ. Dengan pia model kunonya yang kukangeni.
Sore dan malam hari para penjaja makanan banyak yang lewat. Semuanya enak-enak. Sayang kemarin itu aku tidak bisa bermalam di sana, karena harus buru-buru mengejar pesawat kembali ke Jakarta (senin suami ngantor dan Donna masuk sekolah).
Sebetulnya hari minggu itu ada acara Semawis. Sayang aku tidak sempat mengunjunginya karena waktu bukanya jam 6 sore, sedangkan aku musti sudah berada di airport jam 17.30an. Semoga lain waktu aku bisa mengunjunginya.

Kekayaan budaya suku tionghoa yang sudah menyatu jadi kebudayaan Semarangan ini kalau serius diperhatikan dan didukung pemerintah, bisa menarik wisatawan jauh lebih banyak daripada yang disuguhkan Singapore ataupun Malaysia. Tinggal menunggu, kapan hal itu bisa terjadi, sebelum bangunan kuno di situ melapuk dan berganti jadi bangunan modern.

Sunday, November 11, 2012

Piala Piano Donna tahun 2012

Tahun ini sudah hampir habis. Dan Donna sudah mengumpulkan 3 piala dari kompetisi piano yang diikutinya.
 Yang pertama sebagai juara harapan 2 dari Yamaha yang pernah kutulis di sini.

Ini yang kedua, juara 1 di Petrof Piano Competition, di kelompok usia yang lebih tua dari Donna.


Dan ini adalah yang Donna dapatkan sore ini : mendapatkan piala Potensial di Gracia Open Music Festival. 
Sebetulnya sama dengan juara harapan. Maksudnya berpotensi jadi pianis yang baik. Semoga.
Padahal persiapannya agak mepet, karena akhir bulan lalu Donna juga mengikuti ujian piano ABRSM grade 2.

Tadi pagi Donna sempat stress. Setelah bisa ditenangkan (salah satunya dengan baca buku "Asterix the Gaul" :) ), kukatakan, tak penting menang atau kalah, yang penting nikmati permainan pianomu.
Dan akhirnya dia bisa lebih relax. 
Aku bangga padanya.




Thursday, September 27, 2012

Blowing the Weeds Flowers

It was a warm and sunny day.
We hiked around my sister's villa in Baturaden.
Walked along the path with these weeds flowers.

Pffff...pffff...and they flew away.
not to forgotten
Spread my wishes to the universe.


Saturday, September 8, 2012

Membangkitkan Passion yang Lama Terkubur

Aku sejak kecil, sejak mengenal pinsil sebagai alat tulis, suka sekali menggambar. Dengan keadaan kami yang hidup pas-pasan, tentu aku hanya bisa menggambar di atas kertas bekas pembungkus yang masih kosong di sebaliknya dan menggunakan pinsil ala kadarnya. Tak ada yang namanya menggunakan pinsil warna, yang paling sederhana sekalipun. Pinsil warna (pinsil warna murah isi 12 warna) hanya untuk keperluan sekolah.
Apa yang kugambar? Apa saja yang kulihat. Waktu itu aku kira-kira masih duduk di bangku TK. Aku masih ingat aku menggambar ibu-ibu menjemur pakaian di halaman, yang dikomentari Mamaku "Kok lehernya panjang sekali seperti 'cangik'". :) Lalu aku menggambar rumah di kampung belakang yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Dengan ayam-ayam yang berkeliaran di halaman. Romantisme masa lalu :D

Tapi urusan gambar menggambar ini dianggap oleh semua orang yang kutemui, bukanlah hal penting untuk masa depan. Bagaimana tidak, kami sering melihat para seniman pelukis asal Sokaraja (dekat kota kami) menenteng lukisan di pinggir jalan. Menurutku lukisan-lukisan itu bagus. Setelah dewasa aku baru tahu bahwa sebagian besar adalah lukisan repro atau meniru lukisan rekan mereka yang lebih sukses.
Jadi wajarlah kalau melihatku menggambaaar teruus, Mamaku berkata "Kok nggambar terus, mau jadi pelukis yg nenteng lukisan di pinggir jalan?"
Aku tidak menyalahkan orangtuaku, karena memang pengetahuan mereka terbatas.

Namun ketika aku SMP kelas 2 dan 3, aku mulai 'memberontak'. Diam-diam selama di kelas (aku pilih duduk paling belakang) kerjaanku hanya menggambar dan menggambar di bagian belakang buku tulis yang kosong. Pelajaran tak kuhiraukan sama sekali. Hanya mendengarkan sekali-sekali pelajaran yang menurutku menarik. Untunglah nilai-nilaiku baik-baik saja ;D

Dan demikianlah tahun demi tahun berlalu, menggambar yang sangat kusukai akhirnya hanya seperti anugerah tak berguna, dan mulai terkubur.

Tiba-tiba bulan Juli lalu ada teman yang share tentang Online Class Illustrating. Wah, ini dia yang kuperlukan, menggambar untuk ilustrasi memakai program komputer dan aku tak perlu hadir secara fisik di kelas. Aku bisa belajar di rumah, di sela-sela waktu yang ada, sambil tetap menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga tanpa asisten dan Homeschooler Mom. Pontang-panting sih, apalagi aku benar-benar belajar menggunakan program itu dari nol. Tapi aku sangat exciting. Passionku seakan bangkit dari kubur. Aku mulai mengumpulkan gambar-gambarku di sini.
Kadang aku merenung, kenapa baru sekarang aku diberi kesempatan ini Tuhan? Andaikan itu terjadi ketika aku masih mahasiswi...

Better late than never. Semoga setelah ini aku bisa Kau tunjukkan jalan ke mana aku bisa makin mengembangkan talentaku ini, Tuhan. Amin.


Sunday, August 5, 2012

Buku "Tata & Titi"

Sudah agak lama buku ini kubuat, tapi beberapa waktu lalu baru sempat ku-upload ke issuu.com.
Ini cerita keseharian antara 2 anak ayam, yang seperti anak-anak kita, berantem lalu rukun lagi.
Buku itu bisa dilihat di sini : http://issuu.com/hedwigratna/docs/tata___titi