Pages

Thursday, September 27, 2012

Blowing the Weeds Flowers

It was a warm and sunny day.
We hiked around my sister's villa in Baturaden.
Walked along the path with these weeds flowers.

Pffff...pffff...and they flew away.
not to forgotten
Spread my wishes to the universe.


Saturday, September 8, 2012

Membangkitkan Passion yang Lama Terkubur

Aku sejak kecil, sejak mengenal pinsil sebagai alat tulis, suka sekali menggambar. Dengan keadaan kami yang hidup pas-pasan, tentu aku hanya bisa menggambar di atas kertas bekas pembungkus yang masih kosong di sebaliknya dan menggunakan pinsil ala kadarnya. Tak ada yang namanya menggunakan pinsil warna, yang paling sederhana sekalipun. Pinsil warna (pinsil warna murah isi 12 warna) hanya untuk keperluan sekolah.
Apa yang kugambar? Apa saja yang kulihat. Waktu itu aku kira-kira masih duduk di bangku TK. Aku masih ingat aku menggambar ibu-ibu menjemur pakaian di halaman, yang dikomentari Mamaku "Kok lehernya panjang sekali seperti 'cangik'". :) Lalu aku menggambar rumah di kampung belakang yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Dengan ayam-ayam yang berkeliaran di halaman. Romantisme masa lalu :D

Tapi urusan gambar menggambar ini dianggap oleh semua orang yang kutemui, bukanlah hal penting untuk masa depan. Bagaimana tidak, kami sering melihat para seniman pelukis asal Sokaraja (dekat kota kami) menenteng lukisan di pinggir jalan. Menurutku lukisan-lukisan itu bagus. Setelah dewasa aku baru tahu bahwa sebagian besar adalah lukisan repro atau meniru lukisan rekan mereka yang lebih sukses.
Jadi wajarlah kalau melihatku menggambaaar teruus, Mamaku berkata "Kok nggambar terus, mau jadi pelukis yg nenteng lukisan di pinggir jalan?"
Aku tidak menyalahkan orangtuaku, karena memang pengetahuan mereka terbatas.

Namun ketika aku SMP kelas 2 dan 3, aku mulai 'memberontak'. Diam-diam selama di kelas (aku pilih duduk paling belakang) kerjaanku hanya menggambar dan menggambar di bagian belakang buku tulis yang kosong. Pelajaran tak kuhiraukan sama sekali. Hanya mendengarkan sekali-sekali pelajaran yang menurutku menarik. Untunglah nilai-nilaiku baik-baik saja ;D

Dan demikianlah tahun demi tahun berlalu, menggambar yang sangat kusukai akhirnya hanya seperti anugerah tak berguna, dan mulai terkubur.

Tiba-tiba bulan Juli lalu ada teman yang share tentang Online Class Illustrating. Wah, ini dia yang kuperlukan, menggambar untuk ilustrasi memakai program komputer dan aku tak perlu hadir secara fisik di kelas. Aku bisa belajar di rumah, di sela-sela waktu yang ada, sambil tetap menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga tanpa asisten dan Homeschooler Mom. Pontang-panting sih, apalagi aku benar-benar belajar menggunakan program itu dari nol. Tapi aku sangat exciting. Passionku seakan bangkit dari kubur. Aku mulai mengumpulkan gambar-gambarku di sini.
Kadang aku merenung, kenapa baru sekarang aku diberi kesempatan ini Tuhan? Andaikan itu terjadi ketika aku masih mahasiswi...

Better late than never. Semoga setelah ini aku bisa Kau tunjukkan jalan ke mana aku bisa makin mengembangkan talentaku ini, Tuhan. Amin.


Sunday, August 5, 2012

Buku "Tata & Titi"

Sudah agak lama buku ini kubuat, tapi beberapa waktu lalu baru sempat ku-upload ke issuu.com.
Ini cerita keseharian antara 2 anak ayam, yang seperti anak-anak kita, berantem lalu rukun lagi.
Buku itu bisa dilihat di sini : http://issuu.com/hedwigratna/docs/tata___titi

Friday, July 6, 2012

Pameran Filateli Internasional 2012

Tanggal 23 Juni 20 12 yang lalu kami berkesempatan mengunjungi Pameran Filateli Internasional 2012 di Jakarta Convention Center. Pameran ini diikuti perwakilan banyak negara. Senang sekali kami mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan para perwakilan negara sahabat sekaligus mengamati perangko-perangko terbitan negara mereka.
Inilah buku Philatelic Passport yang kami dapatkan dari booth Selandia Baru. Booth ini yang pertama kami kunjungi, selain karena letaknya di depan, kami juga tertarik pada perangko 3D yang mereka miliki.
Buku pasport ini di dalamnya ada nomor-nomor booth peserta, nama negara, lokasinya, populasinya, ibukotanya, bahasanya, dan tahun pertama penerbitan perangkonya. Lalu ada tempat untuk menempel perangko dari negara tersebut yang dapat kita beli di lokasi booth. Tapi tidak di semua booth kami membeli perangko, hahaha bisa jebol kantong karena ada puluhan booth. Harga tiap-tiap perangko berbeda untuk tiap negara, bahkan tiap jenis perangko, rata-rata berkisaran Rp 5000 sampai Rp 10.000. Kadang di tiap booth kami membeli lebih dari satu perangko.

Ini adalah beberapa contoh perangko yang kami beli :


Ini perangko dari Korea Utara. Interaksi kami dengan perwakilan dari Korea Utara menggunakan bahasa isyarat, karena pria tersebut tak dapat berbahasa Inggris :D


Ini adalah perangko dari Selandia Baru, perangko kedua terbanyak yang kami beli setelah perangko Indonesia (sebagai tuan rumah booth Indonesia tentu yang paling besar dan ramai :))
Dan siang itu Donna berkesempatan merasakan mencetak perangko jaman dahulu dengan cara menarik tuas dan menekannya kuat-kuat pada selembar kartu pos.

Di akhir acara, ketika kami sedang berjalan keluar menuju tempat parkir, kami bertemu seorang pria, yang bukan orang Indonesia, yang tiba-tiba memberikan pin kepada kami. Surprise dan bengong, karena kami lihat orang di sekitar kami tak dibagi pin serupa. Setelah bertanya kepada teman-teman yang dapat menolong mengartikan tulisan di pin tersebut, sepertinya pin tersebut dari Qatar (Qatar adalah peserta pameran filateli juga). Wah sayang kami belum sempat berterimakasih kepada pria tersebut. Ini adalah pin cantik tersebut:


Benar-benar pengalaman yang sangat berharga, karena baru kali ini Indonesia berperan sebagai tuan rumah, dan di tahun-tahun berikutnya akan diselenggarakan di negara-negara yang lainnya lagi.

Thursday, June 7, 2012

International Story Telling Contest 2012, behind the scene

Tanggal 2 Juni 2012 yang lalu Donna dan Papanya mengikuti International Story Telling Contest 2012, yang diselenggarakan oleh sekolahnya, Blossom International School. Dewan juri terdiri dari Ms Seen Young Park (UNESCO), Ms Sri Sulastini (TEFLIN), Ms Ismail Luz (Pearson), Ms Wong Mei Mei (Pelangi Books) dan seorang pengarang, yg saya lupa namanya.
Acara ini memang lomba bercerita duet Ayah & Anak. Kalau Ayah tidak hadir, bisa diwakilkan oleh anggota keluarga yang lelaki.
Awalnya, kami pikir kami yang mencari cerita sendiri untuk lomba itu. Dan kami pun sudah memilih cerita "The Mouse's Marriage" sekaligus merancang alat bantu untuk bercerita.
Ternyata beberapa minggu kemudian kami baru tahu kalau Donna yang diminta memilih satu dari beberapa judul buku cerita yang sudah ditentukan. Dan Donna pun memilih cerita berjudul "Marcel and the Mona Lisa" karya Stephen Rabley.
Ceritanya adalah seekor tikus Perancis bernama Marcel yang adalah juga detektif, yang memergoki pencurian lukisan Mona Lisa dari Museum Louvre Paris oleh penjaga baru museum tersebut. Dan mulailah Marcel berpetualang mengikuti lukisan tersebut dan bersembunyi di tas hitam milik sang pencuri. Sampai akhirnya Marcel berhasil membuat kehebohan di rumah bos sang pencuri dengan menjatuhkan lilin yang membakar karpet, sehingga Marcel pun dapat melarikan lukisan tersebut. Lalu Marcel memasukkan gulungan lukisan tersebut ke kotak pos kantor Polisi yang ditemuinya. Dan akhirnya lukisan tersebut bisa kembali ke Museum Louvre di Paris.
Maka kami pun memikirkan ulang alat bantu  yang sesuai dengan cerita dari buku ini.
Saya membuat tas hitam dari bahan karton manila hitam, bekas dari suatu acara kantor suamiyang sudah tak terpakai. Tas ini berperan penting, karena selain untuk menyimpan lukisan curian, tas ini juga menjadi tempat bersembunyi Marcel. Lalu saya berpikir mau membuat kotak pos, di mana Marcel nanti akan memasukkan lukisan curian ini. Tapi suami saya punya ide lebih baik: bagian belakang tas hitam dijadikan sebagai kotak pos, sehingga tak terlalu banyak barang yang musti dibawa ke panggung.
Untuk lilin yang dipakai untuk membuat kebakaran di rumah bos sang pencuri, kami menggunakan bekas hiasan natal yang berbentuk lilin.
Bisa dibilang semua adalah barang-barang bekas. Alat bantu yang bukan berupa barang bekas hanyalah print out lukisan Mona Lisa dan boneka jari untuk tokoh Marcel dan Celine temannya. Boneka jari itu sudah lama kami beli dari suatu acara.
Saya minta Donna dan Papanya untuk masing-masing membaca buku itu dan mengerti. Tak perlu hafal.
Proses latihannya berjalan santai dan penuh gurauan. Saya minta Donna bercerita kepada "orang lain" yang sama sekali tidak tahu jalan cerita dari buku tersebut. Jadi bisa dibilang tidak ada kalimat yang musti dia hafalkan. Waktu itu Donna terbahak-bahak melihat papanya berjalan gaya Moonwalk untuk adegan berjalan. Juga ketika papanya beride bersiul untuk menggambarkan bunyi radio yang didengar Marcel selama perjalanan.
Cerita itu komplit sekali, sekitar 6-7 menit. Ternyata kami baru tahu bahwa masing2 peserta dibatasi oleh waktu presentasi, maksimal 5 menit, kira-kira semingguan sebelum hari H.
Kemudian kami berdiskusi, bagian mana saja yang tidak perlu, dan kami buang. Hasilnya total waktu yang diperlukan hanya sekitar 4 menit sekian detik.
Saya sebagai 'penonton' dan pemegang stopwatch ketika mereka latihan, sekaligus kritikus.
Akhirnya hari H tiba. Donna sebagai peserta pertama dari category 5 (8-12 years old).Pagi harinya Donna sempat gelisah. Untung kiriman buku cerita pesanan Donna datang tepat pada waktunya, cukup bisa membantu meredakan ketegangannya. Semuanya berjalan lancar, walau ada sedikit gangguan ketika salah satu lemari stand sponsor jatuh. Tapi secara menyeluruh penampilan mereka sangat menyedot perhatian. Begini kira-kira adegan di panggung :

Dan akhirnya mereka pun meraih juara pertama :D
Selain piala, mereka pun berhak atas hadiah ini :
Sayang penampilan mereka yang sudah saya rekam di kamera tak dapat disaksikan karena ada problem di memory cardnya. Untuk kenang-kenangan Donna kelak, saya minta mereka melakukan ulang di rumah dan saya rekam. Bisa dilihat di sini ini.



Wednesday, May 30, 2012

Menyusun Menu Seminggu Sekali

Awalnya ada teman yang menanyakan bagaimana & apa menu kami yang saya susun untuk seminggu. Lalu tak lama keluar statusnya di dinding Facebooknya, bahwa menyusun menu harian seperti yang dia lakukan adalah lebih demokratis.
Saya merasa aneh. Apa hubungannya ya antara menyusun menu mingguan dan harian dengan demokratis/kurang demokratis?
Menurut cara pandang saya, demokratis adalah kalau kita mau mengakomodasi pendapat dari "warga kita", dalam hal ini anggota keluarga. Jadi selama pendapat para anggota keluarga diakomodasikan, tak ada masalah, mau menyusun menu harian, mingguan atau bahkan bulanan.
Kenapa saya menyusun menu secara mingguan? Karena hal itu memudahkan saya untuk mengatur pengeluaran, mengatur jenis makanan supaya berimbang dan menghemat waktu (karena waktu untuk memikirkan menu "besok masak apa ya" setiap harinya bisa saya reduksi, berdasarkan pengalaman saya sejak menikah). Menu seminggu itu maksud saya senin-jumat, hari sabtu dan minggu bebas. Kadang makan di luar, kadang menu surprise, kadang beli, kadang masak yang agak ribet, dsb.
Saya yang memiliki 2 orang anak, dengan satu anak SN (yang juga menjalankan pendidikan rumah) dan tanpa ada bantuan dari asisten maupun anggota keluarga lain kecuali suami saya (yang musti ngantor pagi sampai malam) sangat merasakan efisiensi waktu karena masalah masak ini bisa diorganisir dengan baik.
Anak-anak tentu boleh berpendapat mau dimasakkin apa untuk menu minggu depan. Dan saya tinggal menulis bahan yang musti saya beli, dengan membagi dua atau tiga kali belanja (yang bisa diantar oleh tukang sayur pasar langganan saya).

Contohnya Liza:"Mau makan semur daging!". Mantap dan luar biasa kan anakku yang SN ini ;)
Kesukaannya selain Semur Daging dengan sayur Terong, adalah Jagung.
Tapi tak mungkin kan saya menuruti dalam menu itu cuman semur daging dan jagung secara terus menerus. Sangat tidak seimbang gizinya.
Jadi bisa saya janjikan "Semur Dagingnya bulan depan lagi ya...Gantinya Liza boleh pilih masakan A atau masakan B? atau lainnya?" dst.
Di sini mereka belajar tentang menu yang seimbang, baik sumber protein maupun jenis sayurnya.

Donna :"Aku mau makan ikan goreng".
Saya :"Oke, nanti kita tunggu kalau tukang ikan langganan kita bawa ikan yang segar dan tidak terlalu mahal ya. Kalau sampai hari H yang kita tentukan untuk makan ikan goreng itu tukang ikan tidak datang (mungkin karena sedang musim angin barat sehingga tak ada ikan) enaknya diganti apa? Telur goreng? Tempe tahu goreng? Tapi nanti kalau lewat hari H tukang ikannya bawa ikan yang segar & terjangkau, pasti mama belikan, untuk hari sabtu/minggu ya."
Yang ini mereka belajar membuat plan A dan plan B. Kalau tidak ada A, bisa pakai B dengan nutrisi yang sama.

Ada bagian dari menu seminggu itu yang saya putuskan sendiri.
Di sini mereka belajar menerima keputusan orang lain, makan dengan penuh syukur apa yang ada di meja.

Mereka belajar bahwa tidak setiap saat semua keinginan mereka bisa dikabulkan, tapi masih bisa makan dengan baik, itu anugerahNya yang layak disyukuri. Mereka tumbuh menjadi manusia yang makannya tidak rewel, non picky eaters. Dan mereka pun tahu kenapa keinginan mereka tak terpenuhi, apa penggantinya yang setara, bagaimana mengelola kekecewaan dan juga belajar bersabar menunggu terpenuhinya keinginan itu.

Jadi memang tidak ada hubungannya antara demokratis atau tidak, dengan berapa lama sekali menyusun menu.