Pages

Sunday, June 2, 2013

Terlalu Capek

Yah itulah yang terjadi ketika bulan lalu Donna mengikuti in house concert di tempat sekolah pianonya, di panggung dia tiba-tiba lupa semua not lagu yang sudah lancar dan hafal dimainkannya. Dia kembali ke bangku dan menangis sejadi-jadinya.
Sudah sejak bulan April dia sibuk sekali. Mempersiapkan macam-macam kegiatan yang ingin diikutinya. Dari lomba story telling, di mana dia dapat juara 2, lalu menjadi Master of Ceremony bersama teman-temannya di @america, lalu in house concert, persiapan kompetisi piano bulan Juli, persiapan Year End Performance sekolah...Semua itu memerlukan persiapan dan latihan tersendiri dan makan waktu.
Bahkan dia sempat jatuh sakit sebelum konser tsb, panas tinggi, sampai tak bisa masuk sekolah 3 hari.

Tapi semua itu jadi ada hikmahnya. Donna bersedia mengurangi dan memilih kegiatan mana yang benar-benar tak bisa ditinggalkan. Karena, sebelumnya, kalau kutegor untuk mengurangi, yang ada adalah kemarahannya. Dia sangka aku tak menginginkan dia senang. 
Yah, blessings in disguise...


Ini waktu jadi juara 2 Story Telling Competition dengan membawakan cerita "Sangkuriang".
Ilustrasi untuk cerita "Sangkuriang" bisa dilihat di sini.






Friday, April 19, 2013

Jatuh Cinta pada Compost Art

Sudah beberapa bulan ini aku jatuh cinta dengan yang namanya Compost Art. Apa itu Compost Art?
Temanku, Ines Setiawan, adalah yang pertama kali menciptakannya, lalu menyebarkannya via Facebook.
Ini adalah kegiatan  merangkai calon kompos, alias calon sampah menjadi suatu bentuk karya seni. Sampah itu bisa saja berasal dari dapur macam kulit buah atau  potongan sayur yang tak terpakai, atau bisa juga berasal dari kebun. Hanya dirangkai & disusun saja, tanpa lem apalagi pengawet. Karena tujuannya adalah memilah sampah untuk dijadikan kompos, namun si sampah diberikan kesempatan mejeng sejenak dan diabadikan lewat foto, baru menuju pembuangan/komposter.

Ternyata kegiatan ini membuat diriku kecanduan. Bagaimana tidak, materialnya gratis, non toxic, dan tidak memerlukan waktu lama, tak memerlukan tempat penyimpanan. Aku dan beberapa teman aktif mengunggahnya ke Facebook. Dan demikianlah bola salju menggelinding, makin banyak yang tertarik ikutan. Dan tgl 13 April 2013 kemarin kami diundang oleh Green Building Council Indonesia untuk ikut dalam acara mereka di Jakarta Convention Center. Maka itulah pertama kali kami "go public" secara lebih "resmi" lewat acara Compost Art exhibition & workshop.

Salah satu karyaku adalah :
Yang lainnya bisa dilihat di sini, dengan kategori Compost Art


Saturday, January 5, 2013

Frankenstein


Awal tahun ini Donna membaca cerita berjudul "Frankenstein" dari serial Classics Starts. Dia ketakutan setelah selesai membacanya, dipenuhi bayangannya sendiri tentang si monster.
Penasaran, aku ikutan baca. Yang ada di bayanganku awalnya hanya ini : makhluk hasil reka cipta ilmuwan bernama Victor Frankenstein, yg kejam dan mengerikan. Itu yang kudapat dari filem-filem jaman aku anak-anak, khas budaya pop hollywood yang enteng.
Setelah selesai membacanya aku ajak Donna berdiskusi. Yang ada di kepalaku sekarang adalah makhluk rekaan yang bukan atas kemauannya diciptakan dengan keadaan fisik yang sangat mengerikan, sehingga semua orang takut dan menghindarinya, betapapun sang monster telah berusaha berbuat baik. Sang monster menjadi sangat kesepian. Aku menjadi iba padanya karena keadaan yang menimpanya. Bahwa kemudian sang monster berbuat kejam, itu karena memang keadaan yang memaksanya, hanya itu yang dia tahu dan bisa perbuat untuk mencoba mengubah nasibnya.
Kata Donna : Aku tahu, tp aku tetap takut, membayangkan monster yang tersusun dari potongan-potongan mayat.
Yah ketakutan yang wajar.
Setelah membacanya aku jadi merenung, berapa banyak kita juga telah "menghindari" seseorang karena tampangnya yang "kurang layak" menurut ukuran kita, walaupun hatinya baik.
Padahal di sisi lain banyak juga yang berwajah malaikat tapi malah berhati kejam.
Kita masih suka terpesona oleh "bungkus luar" saja.
Yah tapi kalau di kehidupan nyata aku tiba-tiba bertemu monster ciptaan Frankenstein ini aku juga akan lari ketakutan :D :D

Wednesday, December 5, 2012

What About Socialization?

Temanku Wiwiet memuat ulang tulisan ini. Dan aku masih suka membacanya lagi dan lagi.


What about socialization?
http://www.geocities.com/mhfurgason/hug/socialization.html

Author Unknown

Two women meet at a playground, where their children are swinging and
playing ball. The women are sitting on a bench watching. Eventually,
they begin to talk.

W1: Hi. My name is Maggie. My kids are the three in red shirts
–helps me keep track of them.

W2: (Smiles) I’m Patty. Mine are in the pink and yellow shirts. Do
you come here a lot?

W1: Usually two or three times a week, after we go to the library.

W2: Wow! Where do you find the time?

W1: We homeschool, so we do it during the day most of the time.

W2: Some of my neighbors homeschool, but I send my kids to public school.

W1: How do you do it?

W2: It’s not easy. I go to all the PTO meetings and work with the
kids every day after school and stay real involved.

W1: But what about socialization? Aren’t you worried about them
being cooped up all day with kids their own ages, never getting the
opportunity for natural relationships?

W2: Well, yes. But I work hard to balance that. They have some
friends who’re homeschooled, and we visit their grandparents almost
every month.

W1: Sounds like you’re a very dedicated mom. But don’t you worry
about all the opportunities they’re missing out on? I mean they’re so
isolated from real life — how will they know what the world is like
–what people do to make a living — how to get along with all
different kinds of people?

W2: Oh, we discussed that at PTO, and we started a fund to bring
real people into the classrooms. Last month, we had a policeman and a
doctor come in to talk to every class. And next month, we’re having a
woman from Japan and a man from Kenya come to speak.

W1: Oh, we met a man from Japan in the grocery store the other
week, and he got to talking about his childhood in Tokyo. My kids were
absolutely fascinated. We invited him to dinner and got to meet his
wife and their three children.

W2: That’s nice. Hmm. Maybe we should plan some Japanese food for
the lunchroom on Multicultural Day.

W1: Maybe your Japanese guest could eat with the children.

W2: Oh, no. She’s on a very tight schedule. She has two other
schools to visit that day. It’s a systemwide thing we’re doing.

W1: Oh, I’m sorry. Well, maybe you’ll meet someone interesting in
the grocery store sometime and you’ll end up having them over for
dinner.

W2: I don’t think so. I never talk to people in the store
–certainly not people who might not even speak my language. What if
that Japanese man hadn’t spoken English?

W1: To tell you the truth, I never had time to think about it.
Before I even saw him, my six-year-old had asked him what he was going
to do with all the oranges he was buying.

W2: Your child talks to strangers?

W1: I was right there with him. He knows that as long as he’s with
me, he can talk to anyone he wishes.

W2: But you’re developing dangerous habits in him. My children
never talk to strangers.

W1: Not even when they’re with you?

W2: They’re never with me, except at home after school. So you see
why it’s so important for them to understand that talking to strangers
is a big no-no.

W1: Yes, I do. But if they were with you, they could get to meet
interesting people and still be safe. They’d get a taste of the real
world, in real settings. They’d also get a real feel for how to tell
when a situation is dangerous or suspicious.

W2: They’ll get that in the third and fifth grades in their health courses.

W1: Well, I can tell you’re a very caring mom. Let me give you my
number–if you ever want to talk, give me call. It was good to meet
you.

Friday, November 30, 2012

Renungan Ketika Berkunjung ke Semarang

Jumat 23 November 2012 Nenekku dari Papa dipanggil menghadapNya, di usia ke 92 tahun.
Aku hanya dapat menghadiri pemakaman beliau hari minggunya, tgl 25 November.
Naik pesawat terpagi dari Jakarta, langsung menuju ke Rumah Duka dijemput sepupuku. Acara berlangsung dari pagi s/d siang hari. Setelah acara pemakaman, aku masih punya waktu beberapa jam lagi sebelum kembali ke Jakarta lagi. Aku ingin menengok ke rumah nenek di Gang Baru, yang sudah lama tak kukunjungi (karena aku jarang bertemu nenekku, dan seringnya bertemu di rumah tanteku atau di satu acara keluarga).

Kembali ke sana terasa seperti kembali menyusuri ingatan masa kecil. Rumah-rumah itu, para tetangga yang sebagian besar masih sama, hanya menua . Tapi ada banyak hal yang mengganjal hatiku.
Rumah nenekku, yang berloteng kayu, sebagian kayunya rusak :(. Atapnya bocor, mungkin itu yang menyebabkan beberapa bagian kayunya rusak. Menurut cerita Alm Mamaku, loteng itu dibangun oleh kakek sendiri dibantu Papaku yang masih kecil waktu itu.
Memandang tangga kayunya yang beberapa bagian aus dimakan usia dan rusak, terasa sedih hatiku. Tangga ini dan loteng kayunya adalah tempat main kami para cucu waktu kecil. Sewaktu liburan sekolah biasanya kami sekeluarga bermobil dari Purwokerto ke Semarang, mengunjungi kakek & nenek. Namanya anak-anak, kalau sudah lari-larian kami suka jadi kurang hati-hati. Aku pernah jatuh di tangga kayu itu, 2 atau 3 kali :D. Demikian juga adik-adikku.
Dari dulu rumah itu, yang merangkap sebagai warung kelontong di bagian depan, memang penuh dengan barang dagangan. Aku kecil suka memandangi macam-macam barang yang dijual di situ, mengamatinya satu persatu. Kadang menerka-nerka apa guna dari barang tersebut. Ada batu apung dan kentang di peti kayu. Ada rak berisi bermacam-macam tepung yang sudah berplastik. Ada rak yang berisi bahan makanan kering dan kalengan. Ada rak berisi botol-botol bumbu dan sirup. Rak-rak itu menjulang dari lantai ke langit-langit, mengelilingi dinding waserba yang kecil. Banyak sekali macamnya. Kagum aku mereka (nenek dan para tante yang membantu) bisa ingat semuanya, ya jenisnya, ya harganya, ya tempatnya berada.
Rumah nenekku ini memang berlokasi di dalam pasar, Pasar Gang Baru. Pasar buka sejak sebelum subuh sampai siang hari. Ketika menginap di sana dulu, sekitar jam 3.30 pagi sudah mulai suara gaduh layaknya sebuah pasar yang menggeliat bangun. Apalagi di depan rumah nenek ada yang jual kelapa yang diparut. Sepagi itu dia sudah mulai menyalakan mesin parutnya. Pagi-pagi itu biasanya aku terbangun, oleh suara berisik, lalu mengintip kesibukan orang-orang yang sedang mempersiapkan dagangannya. Tak berani mengganggu, karena nenek dan para tante yang membantu sungguh sibuk, hilir mudik di tempat yang kecil itu. Jadi aku beraninya mengamati barang-barang dagangan itu ketika warung sudah tutup.
Kemarin itu perasaan barang-barang dagangan yang ada sudah makin banyak dan mengokupasi tempat-tempat yang tersisa. Jadi makin sempit dan kotor :(

Duduk di balai-balai kayu di depan warung sorenya bersama Papaku, seorang tante dan sepupu, aku mengamati para tetangga. Banyak rumah yang dulunya berarsitektur pecinan kuno sudah berubah. Berganti jadi bangunan tembok modern :(
Jalanan sempit di depan warung masih sama, aspal yang sudah terkelupas sana-sini. Selokan bau masih tetap bau.
Berandai-andailah aku. Andai pemerintah kota Semarang berkenan mempertahankan arsitektur rumah-rumah lama di situ. Andaikan jalannya di paving rapi dan selokannya dibuat tertutup sehingga tidak menyebarkan bau. Tempat itu bisa jadi tempat wisata yang lebih menarik, bahkan dibandingkan dengan kompleks Pasar Baru di Jakarta.
Di seberang warung nenek, terpaut beberapa rumah, masih berproduksi pia Tan Tie Kang, yang entah sudah berapa puluh tahun ada di situ. Dengan pia model kunonya yang kukangeni.
Sore dan malam hari para penjaja makanan banyak yang lewat. Semuanya enak-enak. Sayang kemarin itu aku tidak bisa bermalam di sana, karena harus buru-buru mengejar pesawat kembali ke Jakarta (senin suami ngantor dan Donna masuk sekolah).
Sebetulnya hari minggu itu ada acara Semawis. Sayang aku tidak sempat mengunjunginya karena waktu bukanya jam 6 sore, sedangkan aku musti sudah berada di airport jam 17.30an. Semoga lain waktu aku bisa mengunjunginya.

Kekayaan budaya suku tionghoa yang sudah menyatu jadi kebudayaan Semarangan ini kalau serius diperhatikan dan didukung pemerintah, bisa menarik wisatawan jauh lebih banyak daripada yang disuguhkan Singapore ataupun Malaysia. Tinggal menunggu, kapan hal itu bisa terjadi, sebelum bangunan kuno di situ melapuk dan berganti jadi bangunan modern.

Sunday, November 11, 2012

Piala Piano Donna tahun 2012

Tahun ini sudah hampir habis. Dan Donna sudah mengumpulkan 3 piala dari kompetisi piano yang diikutinya.
 Yang pertama sebagai juara harapan 2 dari Yamaha yang pernah kutulis di sini.

Ini yang kedua, juara 1 di Petrof Piano Competition, di kelompok usia yang lebih tua dari Donna.


Dan ini adalah yang Donna dapatkan sore ini : mendapatkan piala Potensial di Gracia Open Music Festival. 
Sebetulnya sama dengan juara harapan. Maksudnya berpotensi jadi pianis yang baik. Semoga.
Padahal persiapannya agak mepet, karena akhir bulan lalu Donna juga mengikuti ujian piano ABRSM grade 2.

Tadi pagi Donna sempat stress. Setelah bisa ditenangkan (salah satunya dengan baca buku "Asterix the Gaul" :) ), kukatakan, tak penting menang atau kalah, yang penting nikmati permainan pianomu.
Dan akhirnya dia bisa lebih relax. 
Aku bangga padanya.