Pages

Tuesday, July 23, 2013

Statement of Accomplishment


Senang & bangga ketika "menerima sertifikat" ini. Ini adalah hasil belajar online dari:

Introduction to Art: Concepts & Techniques 

Masih agak lebay, maklum sertifikat pertama :D
Dan masih terbayang sambil terkantuk-kantuk belajar lewat videonya, terburu-buru mengerjakan quiz dan apalagi assignmentnya. Memang tidak mudah untukku agar bisa menyediakan waktu khusus untuk mempelajarinya. Waktu yg tersisa kebanyakan adalah malam hari, di mana tubuh sudah sangat lelah. Mata sepet kepingin merem, otak sudah memerintahkan untuk tidur, tapi keinginan hati menyelesaikan proses pembelajaran ini. Dan karena assignment musti di share lewat foto, aku harus berusaha mengerjakannya pagi atau siang hari, agar bisa difoto dengan baik. Jadilah benar-benar dikerjakan di sela-sela cuilan waktu lowong, berkejar-kejaran dengan tugas sehari-hari. Sering aku tertidur di malam hari dengan ide assignment untuk keesokan harinya, jadilah aku tidak merasa tidur, tapi merasakan sedang mengerjakannya. Dan ketika bangun subuh keesokan harinya agak bengong karena tidak ada hasil apapun dari "hasil kerja semalaman" ini hahaha

Tapi secara keseluruhan aku senang sekali. Ada juga rasa ketagihan belajar hal menarik lainnya. Hanya saja waktu  yg tersedia makin sempit, karena "berebutan" komputer dengan Donna, yang juga sedang antusias menyelesaikan kursus onlinenya. Metode belajar seperti ini aku suka, karena  kita tak perlu keluar rumah, yang berarti menghemat waktu dan ongkos, mengurangi polusi udara dari kendaraan yang kita pakai (apalagi jalanan sekarang macetnya sudah tak tertahankan lagi). Di samping itu kita bisa menyesuaikan dengan sikon kita, kapan bisa belajar dan kapan bisa mengerjakan hal lainnya, bahkan bisa dilakukan bersamaan, sambil tetap "berseragam rumahan" :D


Thursday, July 4, 2013

Donna pun Ikut Belajar lewat Coursera

Ketika aku melihat ini di Coursera:

Archaeology's Dirty Little Secrets 
by Sue Alcock

aku langsung memberitahu Donna, karena aku tahu dia suka dengan Ancient Life (terutama Ancient Egypt).
Setelah melihat potongan videonya, dia sangat tertarik. Sayang kuliah sudah berlangsung 2 minggu, quiz dan assignment pun sudah terlewat untuk unit 1 dan unit 2. Kuliah ini totalnya makan waktu 8 minggu.
Kutanya, mau ikutan? Dan Donna ternyata mau.

Setelah kubuatkan alamat email sendiri untuk sign in (supaya nanti di sertifikatnya tertulis nama Donna sendiri, bukan namaku, dan itu yang Donna mau), awalnya aku bimbing untuk mulai membaca dan melihat video kuliahnya.
Dia suka sekali gaya mengajar dosennya, Prof Sue Alcock, yang lucu dan sangat mudah dimengerti.
Lalu dia pun mulai mengerjakan quiznya sendiri. Awalnya nilainya pas-pasan. Tapi karena quiz boleh diulang sampai kita bisa dapat nilai maksimal (selama belum melewati deadline) maka Donna pun mengulanginya sampai maksimal. Ini dimaksudkan agar pada hal yang kita belum atau kurang mengerti kita masih bisa mempelajarinya lalu menjawabnya. Semua itu dia lakukan dengan senang hati, tanpa ada yang menyuruh.

Di bagian assignment, Donna masih perlu bimbingan untuk mengerjakannya. Tapi secara keseluruhan itu bisa dibilang hasil kerja kerasnya sendiri. Aku hanya membantu memperjelas tugas, lalu memberi input bagaimana hasil kerjanya disusun untuk bisa difoto dengan baik lalu di upload ke Coursera. Dan terakhir memeriksa statement yang Donna buat untuk assignment tersebut (karena musti berisi 400- 750 kata dalam bahasa Inggris).


Demikianlah, dan cara belajar mandiri seperti ini ternyata membuatnya kecanduan. Tanpa sepengetahuanku Donna enroll macam-macam kuliah lainnya. Gubraks....

Wednesday, June 19, 2013

Belajar Lagi secara Online dan Gratis di Coursera

Sudah sejak awal bulan Juni 2013 aku mengikuti kuliah gratis di Coursera.
Sudah beberapa lama sebetulnya aku tahu teman-temanku banyak yang mengikuti kuliah di Coursera ini, dengan macam-macam pilihan bidang studi. Berhubung kesibukan ini dan itu, dan (sepertinya ini yang paling berperan) kebetulan belum ada bidang yang bisa menggeser prioritas yang lain, aku tidak berusaha mati hidup (lebay ini sih) untuk mengambil salah satu dari jurusan-jurusan itu.
Baru ketika temanku Mieke Nurmalasari  memberi link ini , terbelalak mataku. Kenapakah? Karena ini tentang :

Introduction to Art: Concepts & Techniques 
by Anna Divinsky

Kubuka link dan mencoba jalan-jalan, dan wooow tambah kepincut!. Walau kuliah sudah berjalan hampir satu minggu sebelumnya, dengan semangat luar biasa kuusahakan mengejarnya. Ngelembur nonton videonya, sambil terkantuk-kantuk karena nontonnya bisanya tengah malam dengan tenaga yang nyaris tak bersisa. Tapi tetap semangaat! Dan sekarang sudah memasuki perkuliahan minggu keempat dari total jatah tujuh minggu.

Baru kali ini, aku, yang kini menyatakan diri sebagai seniman, belajar seni secara "sekolahan". Dari belajar tekniknya hingga sejarahnya. Perkuliahan selain diisi tugas menonton video, mambaca literatur yang diberikan, quiz juga ada tugas/assignment. 

Sebetulnya selain memang keinginan diri untuk tak henti belajar, aku juga ingin memberikan "pemandangan" untuk Donna, bahwa ada cara kuliah seru seperti ini, dan bahwa sampai setua ini pun Mamanya masih belajar dan belajar terus.
Belajar adalah proses yang kita alami selama hayat dikandung badan.

Sunday, June 2, 2013

Terlalu Capek

Yah itulah yang terjadi ketika bulan lalu Donna mengikuti in house concert di tempat sekolah pianonya, di panggung dia tiba-tiba lupa semua not lagu yang sudah lancar dan hafal dimainkannya. Dia kembali ke bangku dan menangis sejadi-jadinya.
Sudah sejak bulan April dia sibuk sekali. Mempersiapkan macam-macam kegiatan yang ingin diikutinya. Dari lomba story telling, di mana dia dapat juara 2, lalu menjadi Master of Ceremony bersama teman-temannya di @america, lalu in house concert, persiapan kompetisi piano bulan Juli, persiapan Year End Performance sekolah...Semua itu memerlukan persiapan dan latihan tersendiri dan makan waktu.
Bahkan dia sempat jatuh sakit sebelum konser tsb, panas tinggi, sampai tak bisa masuk sekolah 3 hari.

Tapi semua itu jadi ada hikmahnya. Donna bersedia mengurangi dan memilih kegiatan mana yang benar-benar tak bisa ditinggalkan. Karena, sebelumnya, kalau kutegor untuk mengurangi, yang ada adalah kemarahannya. Dia sangka aku tak menginginkan dia senang. 
Yah, blessings in disguise...


Ini waktu jadi juara 2 Story Telling Competition dengan membawakan cerita "Sangkuriang".
Ilustrasi untuk cerita "Sangkuriang" bisa dilihat di sini.






Friday, April 19, 2013

Jatuh Cinta pada Compost Art

Sudah beberapa bulan ini aku jatuh cinta dengan yang namanya Compost Art. Apa itu Compost Art?
Temanku, Ines Setiawan, adalah yang pertama kali menciptakannya, lalu menyebarkannya via Facebook.
Ini adalah kegiatan  merangkai calon kompos, alias calon sampah menjadi suatu bentuk karya seni. Sampah itu bisa saja berasal dari dapur macam kulit buah atau  potongan sayur yang tak terpakai, atau bisa juga berasal dari kebun. Hanya dirangkai & disusun saja, tanpa lem apalagi pengawet. Karena tujuannya adalah memilah sampah untuk dijadikan kompos, namun si sampah diberikan kesempatan mejeng sejenak dan diabadikan lewat foto, baru menuju pembuangan/komposter.

Ternyata kegiatan ini membuat diriku kecanduan. Bagaimana tidak, materialnya gratis, non toxic, dan tidak memerlukan waktu lama, tak memerlukan tempat penyimpanan. Aku dan beberapa teman aktif mengunggahnya ke Facebook. Dan demikianlah bola salju menggelinding, makin banyak yang tertarik ikutan. Dan tgl 13 April 2013 kemarin kami diundang oleh Green Building Council Indonesia untuk ikut dalam acara mereka di Jakarta Convention Center. Maka itulah pertama kali kami "go public" secara lebih "resmi" lewat acara Compost Art exhibition & workshop.

Salah satu karyaku adalah :
Yang lainnya bisa dilihat di sini, dengan kategori Compost Art


Saturday, January 5, 2013

Frankenstein


Awal tahun ini Donna membaca cerita berjudul "Frankenstein" dari serial Classics Starts. Dia ketakutan setelah selesai membacanya, dipenuhi bayangannya sendiri tentang si monster.
Penasaran, aku ikutan baca. Yang ada di bayanganku awalnya hanya ini : makhluk hasil reka cipta ilmuwan bernama Victor Frankenstein, yg kejam dan mengerikan. Itu yang kudapat dari filem-filem jaman aku anak-anak, khas budaya pop hollywood yang enteng.
Setelah selesai membacanya aku ajak Donna berdiskusi. Yang ada di kepalaku sekarang adalah makhluk rekaan yang bukan atas kemauannya diciptakan dengan keadaan fisik yang sangat mengerikan, sehingga semua orang takut dan menghindarinya, betapapun sang monster telah berusaha berbuat baik. Sang monster menjadi sangat kesepian. Aku menjadi iba padanya karena keadaan yang menimpanya. Bahwa kemudian sang monster berbuat kejam, itu karena memang keadaan yang memaksanya, hanya itu yang dia tahu dan bisa perbuat untuk mencoba mengubah nasibnya.
Kata Donna : Aku tahu, tp aku tetap takut, membayangkan monster yang tersusun dari potongan-potongan mayat.
Yah ketakutan yang wajar.
Setelah membacanya aku jadi merenung, berapa banyak kita juga telah "menghindari" seseorang karena tampangnya yang "kurang layak" menurut ukuran kita, walaupun hatinya baik.
Padahal di sisi lain banyak juga yang berwajah malaikat tapi malah berhati kejam.
Kita masih suka terpesona oleh "bungkus luar" saja.
Yah tapi kalau di kehidupan nyata aku tiba-tiba bertemu monster ciptaan Frankenstein ini aku juga akan lari ketakutan :D :D