Sudah agak lama buku ini kubuat, tapi beberapa waktu lalu baru sempat ku-upload ke issuu.com.
Ini cerita keseharian antara 2 anak ayam, yang seperti anak-anak kita, berantem lalu rukun lagi.
Buku itu bisa dilihat di sini : http://issuu.com/hedwigratna/docs/tata___titi
Sunday, August 5, 2012
Buku "Tata & Titi"
Friday, July 6, 2012
Pameran Filateli Internasional 2012
Tanggal 23 Juni 20 12 yang lalu kami berkesempatan mengunjungi Pameran Filateli Internasional 2012 di Jakarta Convention Center. Pameran ini diikuti perwakilan banyak negara. Senang sekali kami mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan para perwakilan negara sahabat sekaligus mengamati perangko-perangko terbitan negara mereka.
Inilah buku Philatelic Passport yang kami dapatkan dari booth Selandia Baru. Booth ini yang pertama kami kunjungi, selain karena letaknya di depan, kami juga tertarik pada perangko 3D yang mereka miliki.
Buku pasport ini di dalamnya ada nomor-nomor booth peserta, nama negara, lokasinya, populasinya, ibukotanya, bahasanya, dan tahun pertama penerbitan perangkonya. Lalu ada tempat untuk menempel perangko dari negara tersebut yang dapat kita beli di lokasi booth. Tapi tidak di semua booth kami membeli perangko, hahaha bisa jebol kantong karena ada puluhan booth. Harga tiap-tiap perangko berbeda untuk tiap negara, bahkan tiap jenis perangko, rata-rata berkisaran Rp 5000 sampai Rp 10.000. Kadang di tiap booth kami membeli lebih dari satu perangko.
Ini adalah beberapa contoh perangko yang kami beli :
Inilah buku Philatelic Passport yang kami dapatkan dari booth Selandia Baru. Booth ini yang pertama kami kunjungi, selain karena letaknya di depan, kami juga tertarik pada perangko 3D yang mereka miliki.
Buku pasport ini di dalamnya ada nomor-nomor booth peserta, nama negara, lokasinya, populasinya, ibukotanya, bahasanya, dan tahun pertama penerbitan perangkonya. Lalu ada tempat untuk menempel perangko dari negara tersebut yang dapat kita beli di lokasi booth. Tapi tidak di semua booth kami membeli perangko, hahaha bisa jebol kantong karena ada puluhan booth. Harga tiap-tiap perangko berbeda untuk tiap negara, bahkan tiap jenis perangko, rata-rata berkisaran Rp 5000 sampai Rp 10.000. Kadang di tiap booth kami membeli lebih dari satu perangko.
Ini adalah beberapa contoh perangko yang kami beli :
Ini perangko dari Korea Utara. Interaksi kami dengan perwakilan dari Korea Utara menggunakan bahasa isyarat, karena pria tersebut tak dapat berbahasa Inggris :D
Ini adalah perangko dari Selandia Baru, perangko kedua terbanyak yang kami beli setelah perangko Indonesia (sebagai tuan rumah booth Indonesia tentu yang paling besar dan ramai :))
Dan siang itu Donna berkesempatan merasakan mencetak perangko jaman dahulu dengan cara menarik tuas dan menekannya kuat-kuat pada selembar kartu pos.
Di akhir acara, ketika kami sedang berjalan keluar menuju tempat parkir, kami bertemu seorang pria, yang bukan orang Indonesia, yang tiba-tiba memberikan pin kepada kami. Surprise dan bengong, karena kami lihat orang di sekitar kami tak dibagi pin serupa. Setelah bertanya kepada teman-teman yang dapat menolong mengartikan tulisan di pin tersebut, sepertinya pin tersebut dari Qatar (Qatar adalah peserta pameran filateli juga). Wah sayang kami belum sempat berterimakasih kepada pria tersebut. Ini adalah pin cantik tersebut:
Benar-benar pengalaman yang sangat berharga, karena baru kali ini Indonesia berperan sebagai tuan rumah, dan di tahun-tahun berikutnya akan diselenggarakan di negara-negara yang lainnya lagi.
Labels:
Art and Culture,
Education Journey
Thursday, June 7, 2012
International Story Telling Contest 2012, behind the scene
Tanggal 2 Juni 2012 yang lalu Donna dan Papanya mengikuti International Story Telling Contest 2012, yang diselenggarakan oleh sekolahnya, Blossom International School. Dewan juri terdiri dari Ms Seen Young Park (UNESCO), Ms Sri Sulastini (TEFLIN), Ms Ismail Luz (Pearson), Ms Wong Mei Mei (Pelangi Books) dan seorang pengarang, yg saya lupa namanya.
Acara ini memang lomba bercerita duet Ayah & Anak. Kalau Ayah tidak hadir, bisa diwakilkan oleh anggota keluarga yang lelaki.
Awalnya, kami pikir kami yang mencari cerita sendiri untuk lomba itu. Dan kami pun sudah memilih cerita "The Mouse's Marriage" sekaligus merancang alat bantu untuk bercerita.
Ternyata beberapa minggu kemudian kami baru tahu kalau Donna yang diminta memilih satu dari beberapa judul buku cerita yang sudah ditentukan. Dan Donna pun memilih cerita berjudul "Marcel and the Mona Lisa" karya Stephen Rabley.
Ceritanya adalah seekor tikus Perancis bernama Marcel yang adalah juga detektif, yang memergoki pencurian lukisan Mona Lisa dari Museum Louvre Paris oleh penjaga baru museum tersebut. Dan mulailah Marcel berpetualang mengikuti lukisan tersebut dan bersembunyi di tas hitam milik sang pencuri. Sampai akhirnya Marcel berhasil membuat kehebohan di rumah bos sang pencuri dengan menjatuhkan lilin yang membakar karpet, sehingga Marcel pun dapat melarikan lukisan tersebut. Lalu Marcel memasukkan gulungan lukisan tersebut ke kotak pos kantor Polisi yang ditemuinya. Dan akhirnya lukisan tersebut bisa kembali ke Museum Louvre di Paris.
Maka kami pun memikirkan ulang alat bantu yang sesuai dengan cerita dari buku ini.
Saya membuat tas hitam dari bahan karton manila hitam, bekas dari suatu acara kantor suamiyang sudah tak terpakai. Tas ini berperan penting, karena selain untuk menyimpan lukisan curian, tas ini juga menjadi tempat bersembunyi Marcel. Lalu saya berpikir mau membuat kotak pos, di mana Marcel nanti akan memasukkan lukisan curian ini. Tapi suami saya punya ide lebih baik: bagian belakang tas hitam dijadikan sebagai kotak pos, sehingga tak terlalu banyak barang yang musti dibawa ke panggung.
Untuk lilin yang dipakai untuk membuat kebakaran di rumah bos sang pencuri, kami menggunakan bekas hiasan natal yang berbentuk lilin.
Bisa dibilang semua adalah barang-barang bekas. Alat bantu yang bukan berupa barang bekas hanyalah print out lukisan Mona Lisa dan boneka jari untuk tokoh Marcel dan Celine temannya. Boneka jari itu sudah lama kami beli dari suatu acara.
Saya minta Donna dan Papanya untuk masing-masing membaca buku itu dan mengerti. Tak perlu hafal.
Proses latihannya berjalan santai dan penuh gurauan. Saya minta Donna bercerita kepada "orang lain" yang sama sekali tidak tahu jalan cerita dari buku tersebut. Jadi bisa dibilang tidak ada kalimat yang musti dia hafalkan. Waktu itu Donna terbahak-bahak melihat papanya berjalan gaya Moonwalk untuk adegan berjalan. Juga ketika papanya beride bersiul untuk menggambarkan bunyi radio yang didengar Marcel selama perjalanan.
Cerita itu komplit sekali, sekitar 6-7 menit. Ternyata kami baru tahu bahwa masing2 peserta dibatasi oleh waktu presentasi, maksimal 5 menit, kira-kira semingguan sebelum hari H.
Kemudian kami berdiskusi, bagian mana saja yang tidak perlu, dan kami buang. Hasilnya total waktu yang diperlukan hanya sekitar 4 menit sekian detik.
Saya sebagai 'penonton' dan pemegang stopwatch ketika mereka latihan, sekaligus kritikus.
Akhirnya hari H tiba. Donna sebagai peserta pertama dari category 5 (8-12 years old).Pagi harinya Donna sempat gelisah. Untung kiriman buku cerita pesanan Donna datang tepat pada waktunya, cukup bisa membantu meredakan ketegangannya. Semuanya berjalan lancar, walau ada sedikit gangguan ketika salah satu lemari stand sponsor jatuh. Tapi secara menyeluruh penampilan mereka sangat menyedot perhatian. Begini kira-kira adegan di panggung :
Acara ini memang lomba bercerita duet Ayah & Anak. Kalau Ayah tidak hadir, bisa diwakilkan oleh anggota keluarga yang lelaki.
Awalnya, kami pikir kami yang mencari cerita sendiri untuk lomba itu. Dan kami pun sudah memilih cerita "The Mouse's Marriage" sekaligus merancang alat bantu untuk bercerita.
Ternyata beberapa minggu kemudian kami baru tahu kalau Donna yang diminta memilih satu dari beberapa judul buku cerita yang sudah ditentukan. Dan Donna pun memilih cerita berjudul "Marcel and the Mona Lisa" karya Stephen Rabley.
Ceritanya adalah seekor tikus Perancis bernama Marcel yang adalah juga detektif, yang memergoki pencurian lukisan Mona Lisa dari Museum Louvre Paris oleh penjaga baru museum tersebut. Dan mulailah Marcel berpetualang mengikuti lukisan tersebut dan bersembunyi di tas hitam milik sang pencuri. Sampai akhirnya Marcel berhasil membuat kehebohan di rumah bos sang pencuri dengan menjatuhkan lilin yang membakar karpet, sehingga Marcel pun dapat melarikan lukisan tersebut. Lalu Marcel memasukkan gulungan lukisan tersebut ke kotak pos kantor Polisi yang ditemuinya. Dan akhirnya lukisan tersebut bisa kembali ke Museum Louvre di Paris.
Maka kami pun memikirkan ulang alat bantu yang sesuai dengan cerita dari buku ini.
Saya membuat tas hitam dari bahan karton manila hitam, bekas dari suatu acara kantor suamiyang sudah tak terpakai. Tas ini berperan penting, karena selain untuk menyimpan lukisan curian, tas ini juga menjadi tempat bersembunyi Marcel. Lalu saya berpikir mau membuat kotak pos, di mana Marcel nanti akan memasukkan lukisan curian ini. Tapi suami saya punya ide lebih baik: bagian belakang tas hitam dijadikan sebagai kotak pos, sehingga tak terlalu banyak barang yang musti dibawa ke panggung.
Untuk lilin yang dipakai untuk membuat kebakaran di rumah bos sang pencuri, kami menggunakan bekas hiasan natal yang berbentuk lilin.
Bisa dibilang semua adalah barang-barang bekas. Alat bantu yang bukan berupa barang bekas hanyalah print out lukisan Mona Lisa dan boneka jari untuk tokoh Marcel dan Celine temannya. Boneka jari itu sudah lama kami beli dari suatu acara.
Saya minta Donna dan Papanya untuk masing-masing membaca buku itu dan mengerti. Tak perlu hafal.
Proses latihannya berjalan santai dan penuh gurauan. Saya minta Donna bercerita kepada "orang lain" yang sama sekali tidak tahu jalan cerita dari buku tersebut. Jadi bisa dibilang tidak ada kalimat yang musti dia hafalkan. Waktu itu Donna terbahak-bahak melihat papanya berjalan gaya Moonwalk untuk adegan berjalan. Juga ketika papanya beride bersiul untuk menggambarkan bunyi radio yang didengar Marcel selama perjalanan.
Cerita itu komplit sekali, sekitar 6-7 menit. Ternyata kami baru tahu bahwa masing2 peserta dibatasi oleh waktu presentasi, maksimal 5 menit, kira-kira semingguan sebelum hari H.
Kemudian kami berdiskusi, bagian mana saja yang tidak perlu, dan kami buang. Hasilnya total waktu yang diperlukan hanya sekitar 4 menit sekian detik.
Saya sebagai 'penonton' dan pemegang stopwatch ketika mereka latihan, sekaligus kritikus.
Akhirnya hari H tiba. Donna sebagai peserta pertama dari category 5 (8-12 years old).Pagi harinya Donna sempat gelisah. Untung kiriman buku cerita pesanan Donna datang tepat pada waktunya, cukup bisa membantu meredakan ketegangannya. Semuanya berjalan lancar, walau ada sedikit gangguan ketika salah satu lemari stand sponsor jatuh. Tapi secara menyeluruh penampilan mereka sangat menyedot perhatian. Begini kira-kira adegan di panggung :
Dan akhirnya mereka pun meraih juara pertama :D
Selain piala, mereka pun berhak atas hadiah ini :
Sayang penampilan mereka yang sudah saya rekam di kamera tak dapat disaksikan karena ada problem di memory cardnya. Untuk kenang-kenangan Donna kelak, saya minta mereka melakukan ulang di rumah dan saya rekam. Bisa dilihat di sini ini.
Wednesday, May 30, 2012
Menyusun Menu Seminggu Sekali
Awalnya ada teman yang menanyakan bagaimana & apa menu kami yang saya susun untuk seminggu. Lalu tak lama keluar statusnya di dinding Facebooknya, bahwa menyusun menu harian seperti yang dia lakukan adalah lebih demokratis.
Saya merasa aneh. Apa hubungannya ya antara menyusun menu mingguan dan harian dengan demokratis/kurang demokratis?
Menurut cara pandang saya, demokratis adalah kalau kita mau mengakomodasi pendapat dari "warga kita", dalam hal ini anggota keluarga. Jadi selama pendapat para anggota keluarga diakomodasikan, tak ada masalah, mau menyusun menu harian, mingguan atau bahkan bulanan.
Kenapa saya menyusun menu secara mingguan? Karena hal itu memudahkan saya untuk mengatur pengeluaran, mengatur jenis makanan supaya berimbang dan menghemat waktu (karena waktu untuk memikirkan menu "besok masak apa ya" setiap harinya bisa saya reduksi, berdasarkan pengalaman saya sejak menikah). Menu seminggu itu maksud saya senin-jumat, hari sabtu dan minggu bebas. Kadang makan di luar, kadang menu surprise, kadang beli, kadang masak yang agak ribet, dsb.
Saya yang memiliki 2 orang anak, dengan satu anak SN (yang juga menjalankan pendidikan rumah) dan tanpa ada bantuan dari asisten maupun anggota keluarga lain kecuali suami saya (yang musti ngantor pagi sampai malam) sangat merasakan efisiensi waktu karena masalah masak ini bisa diorganisir dengan baik.
Anak-anak tentu boleh berpendapat mau dimasakkin apa untuk menu minggu depan. Dan saya tinggal menulis bahan yang musti saya beli, dengan membagi dua atau tiga kali belanja (yang bisa diantar oleh tukang sayur pasar langganan saya).
Contohnya Liza:"Mau makan semur daging!". Mantap dan luar biasa kan anakku yang SN ini ;)
Kesukaannya selain Semur Daging dengan sayur Terong, adalah Jagung.
Tapi tak mungkin kan saya menuruti dalam menu itu cuman semur daging dan jagung secara terus menerus. Sangat tidak seimbang gizinya.
Jadi bisa saya janjikan "Semur Dagingnya bulan depan lagi ya...Gantinya Liza boleh pilih masakan A atau masakan B? atau lainnya?" dst.
Di sini mereka belajar tentang menu yang seimbang, baik sumber protein maupun jenis sayurnya.
Donna :"Aku mau makan ikan goreng".
Saya :"Oke, nanti kita tunggu kalau tukang ikan langganan kita bawa ikan yang segar dan tidak terlalu mahal ya. Kalau sampai hari H yang kita tentukan untuk makan ikan goreng itu tukang ikan tidak datang (mungkin karena sedang musim angin barat sehingga tak ada ikan) enaknya diganti apa? Telur goreng? Tempe tahu goreng? Tapi nanti kalau lewat hari H tukang ikannya bawa ikan yang segar & terjangkau, pasti mama belikan, untuk hari sabtu/minggu ya."
Yang ini mereka belajar membuat plan A dan plan B. Kalau tidak ada A, bisa pakai B dengan nutrisi yang sama.
Ada bagian dari menu seminggu itu yang saya putuskan sendiri.
Di sini mereka belajar menerima keputusan orang lain, makan dengan penuh syukur apa yang ada di meja.
Mereka belajar bahwa tidak setiap saat semua keinginan mereka bisa dikabulkan, tapi masih bisa makan dengan baik, itu anugerahNya yang layak disyukuri. Mereka tumbuh menjadi manusia yang makannya tidak rewel, non picky eaters. Dan mereka pun tahu kenapa keinginan mereka tak terpenuhi, apa penggantinya yang setara, bagaimana mengelola kekecewaan dan juga belajar bersabar menunggu terpenuhinya keinginan itu.
Jadi memang tidak ada hubungannya antara demokratis atau tidak, dengan berapa lama sekali menyusun menu.
Saya merasa aneh. Apa hubungannya ya antara menyusun menu mingguan dan harian dengan demokratis/kurang demokratis?
Menurut cara pandang saya, demokratis adalah kalau kita mau mengakomodasi pendapat dari "warga kita", dalam hal ini anggota keluarga. Jadi selama pendapat para anggota keluarga diakomodasikan, tak ada masalah, mau menyusun menu harian, mingguan atau bahkan bulanan.
Kenapa saya menyusun menu secara mingguan? Karena hal itu memudahkan saya untuk mengatur pengeluaran, mengatur jenis makanan supaya berimbang dan menghemat waktu (karena waktu untuk memikirkan menu "besok masak apa ya" setiap harinya bisa saya reduksi, berdasarkan pengalaman saya sejak menikah). Menu seminggu itu maksud saya senin-jumat, hari sabtu dan minggu bebas. Kadang makan di luar, kadang menu surprise, kadang beli, kadang masak yang agak ribet, dsb.
Saya yang memiliki 2 orang anak, dengan satu anak SN (yang juga menjalankan pendidikan rumah) dan tanpa ada bantuan dari asisten maupun anggota keluarga lain kecuali suami saya (yang musti ngantor pagi sampai malam) sangat merasakan efisiensi waktu karena masalah masak ini bisa diorganisir dengan baik.
Anak-anak tentu boleh berpendapat mau dimasakkin apa untuk menu minggu depan. Dan saya tinggal menulis bahan yang musti saya beli, dengan membagi dua atau tiga kali belanja (yang bisa diantar oleh tukang sayur pasar langganan saya).
Contohnya Liza:"Mau makan semur daging!". Mantap dan luar biasa kan anakku yang SN ini ;)
Kesukaannya selain Semur Daging dengan sayur Terong, adalah Jagung.
Tapi tak mungkin kan saya menuruti dalam menu itu cuman semur daging dan jagung secara terus menerus. Sangat tidak seimbang gizinya.
Jadi bisa saya janjikan "Semur Dagingnya bulan depan lagi ya...Gantinya Liza boleh pilih masakan A atau masakan B? atau lainnya?" dst.
Di sini mereka belajar tentang menu yang seimbang, baik sumber protein maupun jenis sayurnya.
Donna :"Aku mau makan ikan goreng".
Saya :"Oke, nanti kita tunggu kalau tukang ikan langganan kita bawa ikan yang segar dan tidak terlalu mahal ya. Kalau sampai hari H yang kita tentukan untuk makan ikan goreng itu tukang ikan tidak datang (mungkin karena sedang musim angin barat sehingga tak ada ikan) enaknya diganti apa? Telur goreng? Tempe tahu goreng? Tapi nanti kalau lewat hari H tukang ikannya bawa ikan yang segar & terjangkau, pasti mama belikan, untuk hari sabtu/minggu ya."
Yang ini mereka belajar membuat plan A dan plan B. Kalau tidak ada A, bisa pakai B dengan nutrisi yang sama.
Ada bagian dari menu seminggu itu yang saya putuskan sendiri.
Di sini mereka belajar menerima keputusan orang lain, makan dengan penuh syukur apa yang ada di meja.
Mereka belajar bahwa tidak setiap saat semua keinginan mereka bisa dikabulkan, tapi masih bisa makan dengan baik, itu anugerahNya yang layak disyukuri. Mereka tumbuh menjadi manusia yang makannya tidak rewel, non picky eaters. Dan mereka pun tahu kenapa keinginan mereka tak terpenuhi, apa penggantinya yang setara, bagaimana mengelola kekecewaan dan juga belajar bersabar menunggu terpenuhinya keinginan itu.
Jadi memang tidak ada hubungannya antara demokratis atau tidak, dengan berapa lama sekali menyusun menu.
Saturday, May 19, 2012
Carrefour Green Bag
Sudah beberapa tahun aku nyaris selalu membawa tas belanja sendiri dari rumah, untuk mengurangi sampah plastik yang kudapat dari tas kresek. Itu adalah salah satu langkah Go Green kami , yang konsisten kami lakukan.
Salah satu tas dari kain yang kami pakai adalah yang kami beli di Carrefour, yaitu Carrefour Green Bag. Kami punya dua yang terbuat dari kain dan satu yang terbuat dari plastik. Yang terbuat dari plastik sudah lama jebol dan yang terbuat dari kain pun belum lama ini jebol juga. Sayang program penukaran tas (yang waktu itu dibilang seumur hidup tas boleh ditukarkan kalau rusak) sudah berakhir tahun lalu, jadi tak bisa ditukarkan lagi.
Yang terbuat dari plastik selain untuk belanja di Carrefour aku juga pakai untuk belanja di pasar. Dan kemudian setelah itu ada beberapa ibu yang mengikuti langkahku dengan membawa tas belanja sendiri dari rumah. Ah senangnya. Apalagi para tukang sayur langgananku selalu berterimakasih karena aku menolak menggunakan tas kresek mereka kalau tidak terpaksa. Pun tas kresek yang terkumpul di rumah kukembalikan pada mereka untuk dipakai kembali.
Yang merepotkan justru di Carrefour Daan Mogot di mana aku sering belanja bulanan. Setiap kali lapor ke keamanan di pintu masuk Carrefour, setiap kali itu pula aku harus menjelaskan bahwa:
1. Ini tas aku bawa sendiri dari rumah.
2. Aku gak mau pakai kantong kresek kalau tidak terpaksa, makanya aku bawa tas ini. Sepertinya cuman aku ya yang bawa tas sendiri dari rumah. Karena tak pernah kulihat orang lain yang membawa tas dari rumah, plus petugas yang tampak selalu kebingungan setiap kali melihatku membawa tas tsb. Lebih merepotkan lagi hari minggu kemarin. Setelah menerangkan hal-hal tersebut di atas, petugas tersebut ngotot bahwa aku harus menitipkan tas tsb di tempat penitipan barang. Trus bagaimana aku memasukkan barang belanjaanku?
Jawabnya cukup ajaib : Ibu bawa belanjaan bersama trolinya, lalu ambil tas di penitipan, lalu masukkin barangnya di situ! Astagaa...repot bener! Setelah bersikukuh bahwa itu adalah hakku untuk membawa tas sendiri dari rumah, barulah aku diberi ijin membawa tas tsb masuk :( Tak kuduga, di akhir waktu belanja, ketika kami mau keluar dari Carrefour tsb, ada petugas Carrefour yang menyodorkan kotak plastik (seperti foto di atas). "Ini hadiah dari Carrefour untuk ibu, karena ibu telah memakai Carrefour Green Bag". Wow, what a nice surprise :)
Semoga ke depannya makin banyak masyarakat yang berkenan membawa tas belanja sendiri dari rumah. Bumi kita sudah terlalu sarat dengan sampah plastik. Dan semoga makin banyak pusat perbelanjaan yang mengadakan semacam Green Bag yang berkelanjutan, yang tidak terputus hanya untuk promo dalam jangka waktu tertentu saja.
1. Ini tas aku bawa sendiri dari rumah.
2. Aku gak mau pakai kantong kresek kalau tidak terpaksa, makanya aku bawa tas ini. Sepertinya cuman aku ya yang bawa tas sendiri dari rumah. Karena tak pernah kulihat orang lain yang membawa tas dari rumah, plus petugas yang tampak selalu kebingungan setiap kali melihatku membawa tas tsb. Lebih merepotkan lagi hari minggu kemarin. Setelah menerangkan hal-hal tersebut di atas, petugas tersebut ngotot bahwa aku harus menitipkan tas tsb di tempat penitipan barang. Trus bagaimana aku memasukkan barang belanjaanku?
Jawabnya cukup ajaib : Ibu bawa belanjaan bersama trolinya, lalu ambil tas di penitipan, lalu masukkin barangnya di situ! Astagaa...repot bener! Setelah bersikukuh bahwa itu adalah hakku untuk membawa tas sendiri dari rumah, barulah aku diberi ijin membawa tas tsb masuk :( Tak kuduga, di akhir waktu belanja, ketika kami mau keluar dari Carrefour tsb, ada petugas Carrefour yang menyodorkan kotak plastik (seperti foto di atas). "Ini hadiah dari Carrefour untuk ibu, karena ibu telah memakai Carrefour Green Bag". Wow, what a nice surprise :)
Semoga ke depannya makin banyak masyarakat yang berkenan membawa tas belanja sendiri dari rumah. Bumi kita sudah terlalu sarat dengan sampah plastik. Dan semoga makin banyak pusat perbelanjaan yang mengadakan semacam Green Bag yang berkelanjutan, yang tidak terputus hanya untuk promo dalam jangka waktu tertentu saja.
Thursday, May 10, 2012
KidFFest 2012
Tahun ini kami menyaksikan 3 film di KidsFFest 2012. Film yg pertama adalah "Fuchsia The Mini Witch". Film ini aku tidak mendampingi Donna, karena aku harus membawa Liza les piano (ada perubahan jam les mendadak), jadi suamiku yg menemaninya.
Film kedua adalah "We Can be Heroes". Film ini kami saksikan terlambat setengah jam! Bertepatan dengan minggu ke-5 yang ternyata masuk ke "Car Free Day". Setelah merambat di jalur lambat dan nyaris terlambat, tiba-tiba di jalur cepat sudah terlihat mobil-mobil bergerak. Kami pun ikutan ke jalur cepat. Dan entah ada dalam sekejab berhenti total, baik jalur cepat maupun jalur lambat. Sudah terlambat 20 menit, kami lari sampai ngos-ngosan ke lantai 8 Blitz Megaplex. Akhirnya setelah duduk kulihat jam, kami sudah terlambat setengah jam :((
Film ketiga yang kami tonton adalah "Lionel".
Entah kenapa 2 dari 3 film yang kutonton aku merasa kurang puas. Rasanya tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)










