Awal Juli lalu kami sekeluarga ke Bandung, konsultasi rutin dengan psikolog kami.
Pulangnya tumben-tumbenan Donna (7 th) total main sama Liza (14 th) kakaknya, biasanya cuma sesekali.
"Aku mau bikin sekolah untuk anak-anak autistic dan Down's Syndrome, dan cicik akan menjadi asistenku", kata Donna. Dan sibuklah dia menjelaskan apa saja yang ada di sekolah versinya : ada ruang bermain, ada ruang komputer, ada ruang musik, ada ruang makan ("Mama yang masak makanannya, karena masakanmu sehat, jangan yang sulit disuap karena nanti mereka gak bisa makan sendiri"). Semuanya kuiyakan (Amiin, dalam hatiku).
Dan beberapa hari kemudian Donna bilang "Since today, I'll spend more time with cicik".
Terharu...
My Little Assistant sedang "mengajar"
Friday, July 15, 2011
"Aku Mau Bikin Sekolah Untuk Anak-Anak Autistic dan Down's Syndrome"
Thursday, July 14, 2011
Kenyataan yang Mengerikan
Ini adalah copas tulisan dari seorang bapak di Kompasiana.com yang saya copas :
Membunuh Kecerdasan Anak, Itukah Tujuan Pendidikan di Indonesia?
HL | 11 July 2011 | 16:22 2184 71
Kurikulum pendidikan Indonesia tampaknya ingin membuat jutaan anak Indonesia menjadi hard disk berjalan. Dengan cara membunuh potensi kecerdasan, kreatifitas, daya imajinasi serta sifat kritis anak. Kurikulum pendidikan Indonesia tampaknya hanya ingin memproduksi anak-anak yang hanya bisa mengulang dengan tepat apa yang dikatakan oleh orang dewasa.
****
Berapa banyakkah orang tua di Indonesia yang menyadari apa yang diberikan oleh sistem pendidikan negeri ini kepada anak-anak mereka.
Tadi anak saya memulai hari pertama sekolahnya di tingkat Sekolah Dasar. Di salah satu sekolah yang kami pilih setelah melalui berbagai seleksi yang kami lakukan terhadap banyak sekolah lain.
Hari sabtu yang lalu, pihak sekolah membagikan buku-buku teks yang akan menjadi beban pelajaran bagi anak saya semester ini.
Salah satu dari buku yang diberikan kepada anak saya itu adalah Buku IPS untuk Kelas I SD yang diterbitkan oleh penerbit Yudhistira. Dengan Tim Penyusun Dra. Indrastuti, Dr. Sutisnan Rochadi dan Dwi Suyanti,S.Pd. Yang ditulis dengan standar ISI 2006.
Buku ini alih-alih menginspirasi anak dan mengembangkan rasa ingin tahu anak, malah mematikan kreatifitas anak dengan doktrin yang membatasi imajinasi anak sebatas apa yang sudah digariskan secara tidak cerdas oleh para penyusun yang berpredikat sarjana ini.
Contoh pembatasan dengan doktrin tidak cerdas ini bisa kita lembar evaluasi di halaman 22 dalam buku itu.
Di lembar evaluasi , para penyusun meminta anak memilih jawaban paling tepat terhadap pertanyaan seperti ini;
Pengalaman berbelanja biasa dilakukan bersama…..
a. adik
b. kakek
c. ibu
Melihat pasar malam merupakan pengalaman yang….
a. menyenangkan
b. menyedihkan
c. menakutkan
Saya benar-benar tidak paham apa yang ada dalam pikiran para penyusun buku bergelar sarjana ini saat membuat pertanyaan evaluasi semacam itu kepada anak SD kelas I yang imajinasinya masih sangat luas. Saya sulit menemukan point apa yang diharapkan oleh para sarjana ini dari anak-anak yang masih polos dengan menjawab pertanyaan seperti yang mereka susun.
Pada pertanyaan pertama, jawaban yang mereka inginkan jelas IBU. Tapi apakah semua anak mutlak harus memiliki pengalaman seperti itu?. Jelas tidak!
Contohnya anak saya yang menjadi target dari evaluasi yang mereka buat ini, bukannya menjawab tapi malah emosi sebab tidak satupun dari pilihan itu yang cocok dengan pengalamannya, karena dia biasa berbelanja dengan saya. Sementara adik sepupunya yang tinggal dengan mertua saya biasa berbelanja dengan kakeknya.
Sebagai orang dewasa, kita dengan mudah bisa melihat adanya bias gender dalam pertanyaan evaluasi ini.
Tapi karena anak kelas I SD jelas tidak punya sikap kritis seperti itu. Jelas kalau kita sebagai orang tua tidak mendampingi mereka akan menelan mentah-mentah doktrin ini. Dan karena di sekolah anak-anak itu dipacu untuk menjadi juara, anak-anak itu akan tanpa saringan menjawab B untuk mendapatkan nilai yang baik demi prestasi sekolahnya. Dan sikap bias gender yang ditanamkan oleh para sarjana pendidikan penyusun buku ini pun mulai masuk ke dalam kesadaran anak-anak yang masih lugu.
Apakah ini point yang diharapkan oleh para sarjana pendidikan penyusun buku?
Berbeda misalnya kalau pertanyaan itu diawali dengan sebuah cerita tentang anak yang katakanlah bernama Wati yang biasa berbelanja dengan ibunya. Lalu dalam pertanyaan evaluasinya ditanyakan berdasar pengalamannya, dengan siapakah Wati biasa berbelanja?. Ini jelas lebih masuk akal.
Lalu di pertanyaan kedua, ini benar-benar pertanyaan gila. Bagaimana mungkin ada orang dewasa yang bisa menentukan bahwa pengalaman seorang anak melihat pasar malam harus menyenangkan, menyedihkan atau menakutkan. Sebab seorang anak bisa saja mengalami perasaan apapun saat melihat pasar malam. Bisa menyenangkan kalau saat melihat pasar malam itu perasaan anak sedang senang dan bahagia. Bisa menyedihkan kalau sedang melihat pasar malam itu dia melihat peminta-minta dan orang cacat. Bisa menyebalkan kalau di pasar malam itu orang tuanya ribut dan berantem. Bisa juga menakutkan kalau di pasar malam itu dia bertemu badut, atau dirampok atau mengalami pengalaman horor lain. Jadi bagaimana orang-orang dewasa ini bisa menentukan apa yang dirasakan oleh anak saat melihat pasar malam?
Sebagai orang tua, saya juga melihat para penyusun buku ini masih sangat dipengaruhi oleh teori psikologi usang yang menganggap anak sebagai kertas kosong yang bisa ditulisi apa saja sekehendak orang dewasa. Dan menafikan kalau anak di usia 6 tahun juga sudah memiliki kapasitas mental untuk memiliki pendapat dan menganalisa benar salahnya sebuah tindakan.
Pandangan seperti ini tercermin di lembar evaluasi yang sama pada halaman 23.
Di sana ada pertanyaan yang berbunyi :
ayah dan ibu tidak ada di rumah
ninis ditemani bibi
ninis harus…
a. seenaknya sendiri
b. menonton televisi dan tidak belajar
c. mematuhi nasehat bibi
Melalui pertanyaan seperti ini jelas para penyusun buku ini sedang memaksa anak untuk menempatkan diri pada posisi inferior yang tidak memiliki hak suara apapun di hadapan orang dewasa. Seperti para budak yang harus patuh pada apapun kata tuan pemiliknya.
Sehingga seolah-olah. Oleh para sarjana penyusunnya. Buku ini didesain untuk membuat anak untuk menjadi robot yang tidak memiliki kepercayaan diri. Didesain untuk membuat anak menjadi seorang yes man yang patuh sempurna pada atasan dan mempercayai bahwa seorang atasan tak pernah salah.
Ini baru pelajaran IPS yang sesuai standar ISI 2006. Masih ada racun-racun standar pembunuh kreatifitas dan kepercayaan diri anak yang lebih parah yang akan kita temui kalau kita membaca buku pelajaran budi pekerti.
Setelah membaca buku-buku pelajaran ini saya jadi bertanya-tanya sendiri, membunuh Kecerdasan, kreatifitas Anak, Inikah tujuan pendidikan di Indonesia?
Lebih dari 400 tahun lalu di kota firenze Italia, seniman sekaligus ilmuwan besar Leonardo da Vinci mengatakan An argument based on authority, is not the intelligence but the memory.
Sekarang empat abad kemudian inilah yang dipraktekkan oleh sistem pendudukan di Indonesia, mengajarkan anak berargumen berdasarkan atas otoritas yang dimiliki.
Mengacu pada apa yang dikatakan Da Vinci, kita menyaksikan. Sistem pendidikan di Indonesia, mendidik anak untuk memperkuat daya ingatnya, bukan intelegensi alias kecerdasannya.
Kurikulum pendidikan Indonesia tampaknya ingin membuat jutaan anak Indonesia menjadi hard disk berjalan. Dengan cara membunuh potensi kecerdasan, kreatifitas, daya imajinasi serta sifat kritis anak. Kurikulum pendidikan Indonesia tampaknya hanya ingin memproduksi anak-anak yang hanya bisa mengulang dengan tepat apa yang dikatakan oleh orang dewasa.
Sebagai orang tua kita tidak punya banyak pilihan. Memilih sekolah bagus yang menghargai potensi dan kreatifitas anak, biayanya tidak kurang dari 5 juta sebulan. Memasukkan anak ke sekolah berkurikulum Indonesia, anak kita bukan dididik menjadi manusia, tapi menjadi hard disk yang tidak bisa diandalkan untuk mengolah data.
Jadi sebagai orang tua dengan penghasilan pas-pasan yang tidak mampu menyekolahkan anak di sekolah dengan biaya 5 juta per bulan. Kita punya sedikit sekali pilihan, mendidik anak dengan cara home schooling yang membuat anak-anak terisolasi dari dunia sekolah seperti anak-anak seusianya. Atau membiarkan anak sekolah dengan kurikulum Indonesia tapi dia mendapatkan kegembiraan bermain dengan resiko sekolah menjadikannya hard disk berjalan.
Saya memilih yang kedua dengan sedikit modifikasi. yaitu menjadikan anak sebagai pemberontak, melawan sistem sejak usia muda.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Tua yang tersiksa dengan kurikulum pendidikan Indonesia
Komentar saya tentang sosialisasi anak homeschooler: tergantung orangtuanya karena sosialisasi bisa di mana saja, tak terbatas di sebuah ruang bernama 'kelas'. Senyata-nyatanya, berapa persen dari teman-teman sekolah kita dulu yang beneran menjadi karib kita?
Membunuh Kecerdasan Anak, Itukah Tujuan Pendidikan di Indonesia?
HL | 11 July 2011 | 16:22 2184 71
Kurikulum pendidikan Indonesia tampaknya ingin membuat jutaan anak Indonesia menjadi hard disk berjalan. Dengan cara membunuh potensi kecerdasan, kreatifitas, daya imajinasi serta sifat kritis anak. Kurikulum pendidikan Indonesia tampaknya hanya ingin memproduksi anak-anak yang hanya bisa mengulang dengan tepat apa yang dikatakan oleh orang dewasa.
****
Berapa banyakkah orang tua di Indonesia yang menyadari apa yang diberikan oleh sistem pendidikan negeri ini kepada anak-anak mereka.
Tadi anak saya memulai hari pertama sekolahnya di tingkat Sekolah Dasar. Di salah satu sekolah yang kami pilih setelah melalui berbagai seleksi yang kami lakukan terhadap banyak sekolah lain.
Hari sabtu yang lalu, pihak sekolah membagikan buku-buku teks yang akan menjadi beban pelajaran bagi anak saya semester ini.
Salah satu dari buku yang diberikan kepada anak saya itu adalah Buku IPS untuk Kelas I SD yang diterbitkan oleh penerbit Yudhistira. Dengan Tim Penyusun Dra. Indrastuti, Dr. Sutisnan Rochadi dan Dwi Suyanti,S.Pd. Yang ditulis dengan standar ISI 2006.
Buku ini alih-alih menginspirasi anak dan mengembangkan rasa ingin tahu anak, malah mematikan kreatifitas anak dengan doktrin yang membatasi imajinasi anak sebatas apa yang sudah digariskan secara tidak cerdas oleh para penyusun yang berpredikat sarjana ini.
Contoh pembatasan dengan doktrin tidak cerdas ini bisa kita lembar evaluasi di halaman 22 dalam buku itu.
Di lembar evaluasi , para penyusun meminta anak memilih jawaban paling tepat terhadap pertanyaan seperti ini;
Pengalaman berbelanja biasa dilakukan bersama…..
a. adik
b. kakek
c. ibu
Melihat pasar malam merupakan pengalaman yang….
a. menyenangkan
b. menyedihkan
c. menakutkan
Saya benar-benar tidak paham apa yang ada dalam pikiran para penyusun buku bergelar sarjana ini saat membuat pertanyaan evaluasi semacam itu kepada anak SD kelas I yang imajinasinya masih sangat luas. Saya sulit menemukan point apa yang diharapkan oleh para sarjana ini dari anak-anak yang masih polos dengan menjawab pertanyaan seperti yang mereka susun.
Pada pertanyaan pertama, jawaban yang mereka inginkan jelas IBU. Tapi apakah semua anak mutlak harus memiliki pengalaman seperti itu?. Jelas tidak!
Contohnya anak saya yang menjadi target dari evaluasi yang mereka buat ini, bukannya menjawab tapi malah emosi sebab tidak satupun dari pilihan itu yang cocok dengan pengalamannya, karena dia biasa berbelanja dengan saya. Sementara adik sepupunya yang tinggal dengan mertua saya biasa berbelanja dengan kakeknya.
Sebagai orang dewasa, kita dengan mudah bisa melihat adanya bias gender dalam pertanyaan evaluasi ini.
Tapi karena anak kelas I SD jelas tidak punya sikap kritis seperti itu. Jelas kalau kita sebagai orang tua tidak mendampingi mereka akan menelan mentah-mentah doktrin ini. Dan karena di sekolah anak-anak itu dipacu untuk menjadi juara, anak-anak itu akan tanpa saringan menjawab B untuk mendapatkan nilai yang baik demi prestasi sekolahnya. Dan sikap bias gender yang ditanamkan oleh para sarjana pendidikan penyusun buku ini pun mulai masuk ke dalam kesadaran anak-anak yang masih lugu.
Apakah ini point yang diharapkan oleh para sarjana pendidikan penyusun buku?
Berbeda misalnya kalau pertanyaan itu diawali dengan sebuah cerita tentang anak yang katakanlah bernama Wati yang biasa berbelanja dengan ibunya. Lalu dalam pertanyaan evaluasinya ditanyakan berdasar pengalamannya, dengan siapakah Wati biasa berbelanja?. Ini jelas lebih masuk akal.
Lalu di pertanyaan kedua, ini benar-benar pertanyaan gila. Bagaimana mungkin ada orang dewasa yang bisa menentukan bahwa pengalaman seorang anak melihat pasar malam harus menyenangkan, menyedihkan atau menakutkan. Sebab seorang anak bisa saja mengalami perasaan apapun saat melihat pasar malam. Bisa menyenangkan kalau saat melihat pasar malam itu perasaan anak sedang senang dan bahagia. Bisa menyedihkan kalau sedang melihat pasar malam itu dia melihat peminta-minta dan orang cacat. Bisa menyebalkan kalau di pasar malam itu orang tuanya ribut dan berantem. Bisa juga menakutkan kalau di pasar malam itu dia bertemu badut, atau dirampok atau mengalami pengalaman horor lain. Jadi bagaimana orang-orang dewasa ini bisa menentukan apa yang dirasakan oleh anak saat melihat pasar malam?
Sebagai orang tua, saya juga melihat para penyusun buku ini masih sangat dipengaruhi oleh teori psikologi usang yang menganggap anak sebagai kertas kosong yang bisa ditulisi apa saja sekehendak orang dewasa. Dan menafikan kalau anak di usia 6 tahun juga sudah memiliki kapasitas mental untuk memiliki pendapat dan menganalisa benar salahnya sebuah tindakan.
Pandangan seperti ini tercermin di lembar evaluasi yang sama pada halaman 23.
Di sana ada pertanyaan yang berbunyi :
ayah dan ibu tidak ada di rumah
ninis ditemani bibi
ninis harus…
a. seenaknya sendiri
b. menonton televisi dan tidak belajar
c. mematuhi nasehat bibi
Melalui pertanyaan seperti ini jelas para penyusun buku ini sedang memaksa anak untuk menempatkan diri pada posisi inferior yang tidak memiliki hak suara apapun di hadapan orang dewasa. Seperti para budak yang harus patuh pada apapun kata tuan pemiliknya.
Sehingga seolah-olah. Oleh para sarjana penyusunnya. Buku ini didesain untuk membuat anak untuk menjadi robot yang tidak memiliki kepercayaan diri. Didesain untuk membuat anak menjadi seorang yes man yang patuh sempurna pada atasan dan mempercayai bahwa seorang atasan tak pernah salah.
Ini baru pelajaran IPS yang sesuai standar ISI 2006. Masih ada racun-racun standar pembunuh kreatifitas dan kepercayaan diri anak yang lebih parah yang akan kita temui kalau kita membaca buku pelajaran budi pekerti.
Setelah membaca buku-buku pelajaran ini saya jadi bertanya-tanya sendiri, membunuh Kecerdasan, kreatifitas Anak, Inikah tujuan pendidikan di Indonesia?
Lebih dari 400 tahun lalu di kota firenze Italia, seniman sekaligus ilmuwan besar Leonardo da Vinci mengatakan An argument based on authority, is not the intelligence but the memory.
Sekarang empat abad kemudian inilah yang dipraktekkan oleh sistem pendudukan di Indonesia, mengajarkan anak berargumen berdasarkan atas otoritas yang dimiliki.
Mengacu pada apa yang dikatakan Da Vinci, kita menyaksikan. Sistem pendidikan di Indonesia, mendidik anak untuk memperkuat daya ingatnya, bukan intelegensi alias kecerdasannya.
Kurikulum pendidikan Indonesia tampaknya ingin membuat jutaan anak Indonesia menjadi hard disk berjalan. Dengan cara membunuh potensi kecerdasan, kreatifitas, daya imajinasi serta sifat kritis anak. Kurikulum pendidikan Indonesia tampaknya hanya ingin memproduksi anak-anak yang hanya bisa mengulang dengan tepat apa yang dikatakan oleh orang dewasa.
Sebagai orang tua kita tidak punya banyak pilihan. Memilih sekolah bagus yang menghargai potensi dan kreatifitas anak, biayanya tidak kurang dari 5 juta sebulan. Memasukkan anak ke sekolah berkurikulum Indonesia, anak kita bukan dididik menjadi manusia, tapi menjadi hard disk yang tidak bisa diandalkan untuk mengolah data.
Jadi sebagai orang tua dengan penghasilan pas-pasan yang tidak mampu menyekolahkan anak di sekolah dengan biaya 5 juta per bulan. Kita punya sedikit sekali pilihan, mendidik anak dengan cara home schooling yang membuat anak-anak terisolasi dari dunia sekolah seperti anak-anak seusianya. Atau membiarkan anak sekolah dengan kurikulum Indonesia tapi dia mendapatkan kegembiraan bermain dengan resiko sekolah menjadikannya hard disk berjalan.
Saya memilih yang kedua dengan sedikit modifikasi. yaitu menjadikan anak sebagai pemberontak, melawan sistem sejak usia muda.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Tua yang tersiksa dengan kurikulum pendidikan Indonesia
Komentar saya tentang sosialisasi anak homeschooler: tergantung orangtuanya karena sosialisasi bisa di mana saja, tak terbatas di sebuah ruang bernama 'kelas'. Senyata-nyatanya, berapa persen dari teman-teman sekolah kita dulu yang beneran menjadi karib kita?
Tulisan Rhenald Kasali tentang Beban Pelajaran di Sekolah Indonesia
Aku setuju kalau Pak Rhenald Kasali menjadi Mendiknas (semoga tetap seidealis ini ya Pak). Berikut adalah tulisan beliau yang saya copas:
Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?
oleh Rhenald Kasali pada 14 Juli 2011 jam 6:26
Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.
Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook, Twitter, online games, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistic, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?
Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit "The Power of Simplicity", kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".
Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.
Ubah Cara Pandang
Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. “Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang,”. Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi. Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar.
Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh dan kesehatan jiwanya.
Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh . Leadershipmaupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan.
Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak puas, kandidat digoreng kekiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"
Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan.
Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat, kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.
Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.
Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?
Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?
Rhenald Kasali
Ketua Program MMUI
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/4
Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?
oleh Rhenald Kasali pada 14 Juli 2011 jam 6:26
Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.
Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook, Twitter, online games, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistic, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?
Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit "The Power of Simplicity", kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".
Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.
Ubah Cara Pandang
Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. “Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang,”. Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi. Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar.
Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh dan kesehatan jiwanya.
Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh . Leadershipmaupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan.
Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak puas, kandidat digoreng kekiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"
Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan.
Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat, kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.
Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.
Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?
Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?
Rhenald Kasali
Ketua Program MMUI
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/4
Monday, July 11, 2011
The Witch's Daughter
I read this book from here.
The story is very good.It is about the witch's daughter named Broccolina who wanted to be as pretty as an angel. The witch and her daughter were mean and ugly. One day the witch went to a faraway land and asked her daughter to stir the magic potion pot. Broccolina didn't like it and said it was not fair. When she was stirring the magic potion,one by one her mom's animal came and Broccolina hurt them. The parts of the animal that was being hurt,stuck on Broccolina's body. The angel who was on the way to the heaven,heard Broccolina's howling and came to see what's wrong. She said that there was no any beauty secret, but if Broccolina was good to the injured animals she would be as pretty as an angel,Broccolina did what the angel said and she became an angel.
Donna
The story is very good.It is about the witch's daughter named Broccolina who wanted to be as pretty as an angel. The witch and her daughter were mean and ugly. One day the witch went to a faraway land and asked her daughter to stir the magic potion pot. Broccolina didn't like it and said it was not fair. When she was stirring the magic potion,one by one her mom's animal came and Broccolina hurt them. The parts of the animal that was being hurt,stuck on Broccolina's body. The angel who was on the way to the heaven,heard Broccolina's howling and came to see what's wrong. She said that there was no any beauty secret, but if Broccolina was good to the injured animals she would be as pretty as an angel,Broccolina did what the angel said and she became an angel.
Donna
Sunday, July 10, 2011
I Want to be a Paleontologist
Hari Minggu tgl 3 Juli lalu kami ke Pesta Buku Jakarta di Istora, dan nemu ini : woodcraft construction kit, yang kalau dirangkai akan jadi kerangka Apatosaurus. "Kalau aku besar nanti aku mau jadi paleontologist".
Dan sibuklah Donna berpura-pura menggali, seakan-akan menemukan fosil demi fosil.
Tapi merangkai bagian-bagiannya agak sulit, gambar dan petunjuknya cukup membingungkan untuk anak usia 7 tahun. Jadilah dia merekrut asisten (gantian antara Mama & Papanya).
Done!
Dan sibuklah Donna berpura-pura menggali, seakan-akan menemukan fosil demi fosil.
Tapi merangkai bagian-bagiannya agak sulit, gambar dan petunjuknya cukup membingungkan untuk anak usia 7 tahun. Jadilah dia merekrut asisten (gantian antara Mama & Papanya).
Done!
Thursday, July 7, 2011
Jus Sayur Buah Favorit Kami
Ini adalah jus sayur buah favorit kami yang terdiri dari : bayam, toge, tomat, pisang dan nanas. Sebetulnya karena kental sekali bisa dibilang bukan jus tapi smoothie.
Inilah sarapan pagi kami berempat tiap pagi.
Inilah sarapan pagi kami berempat tiap pagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)




