Akhirnya Statement of Accomplishment Donna yang keempat yang ditunggu-tunggu datang juga, dari University of Alberta lewat Coursera pembelajaran Dino 101, dan mendapatkan score 96.7%
Ketika diwawancara oleh staf dari University of Alberta itu Donna menyatakan keinginannya melanjutkan kuliah di sana.
Aku bilang aduh ongkos ke sana itu aja mahal sekali, belum nanti biaya hidup dan biaya kuliahnya itu. Kami belum tentu sanggup.
Semoga selalu ada jalan terbuka untuknya. Amin.
Friday, May 16, 2014
Statement of Accomplishment Donna yang Keempat
Sunday, May 4, 2014
Komunitas Coursera Indonesia
Ada komunitas Coursera Indonesia yang bertujuan mengembangkan komunitas belajar Coursera di Indonesia, namanya IDCourerians.
Biasanya anggotanya bertemu sebulan sekali, untuk belajar dan berbagi bersama. Tak ada ekslusivitas, semua anggotanya senang jika makin banyak yang bergabung.
Semoga nanti pertemuan bulan Mei ini kami bisa ikutan MeetUp yang pertama untuk kami.
Saturday, May 3, 2014
Belajar Lewat coursera.org
Sudah ada 4 online course yang Donna ambil dari coursera.org. 3 course sudah mendapatkan Statement of Accomplishment, yang satu masih dalam proses grading (Dino 101)
Pengalaman pertama aku ceritakan di sini. Di sini dia belajar pertama kali secara online tentang arkeologi. Untuk yang proses awal ini Donna masih aku dampingi untuk mengerjakan assignmentnya, karena dia masih penyesuaian. Untuk selanjutnya benar-benar Donna sendiri yang menangani, dari mulai memilih course yang dia maui, enroll, kapan mulai, kapan deadline untuk quiz ataupun assignment, menjawab quiz dan mengerjakan assignment. Semuanya dilakukannya sendiri. Kalau ada yang tidak tahu dia akan bertanya (kepada kami atau internet, karena pengetahuan kami pun terbatas sangat).
Selanjutnya setelah lulus yang pertama ini, dia menjadi ketagihan. Karena cara belajarnya menyenangkan, bisa diakses kapan saja dan dibawakan secara menyenangkan pula oleh pengajar yang bergelar profesor. Berbeda banget dengan pengalaman kuliahku dulu :( . Dulu para profesor biasanya ditakuti, tidak ramah kepada mahasiswanya, menjelaskan bahan kuliah pun lebih terkesan sulit daripada jelas. Benar-benar berbeda.
Lalu Donna pun enroll sendiri segala macam online course yang dia mau sekaligus!!. Aku peringatkan waktunya tidak akan cukup, bisa-bisa gagal semua. Belum lagi karena dia masih sekolah tentu dia ditimbuni segala macam PR dan Projects yang kadang jumlahnya tidak masuk akal. Belum lagi ujian piano dan kompetisi yang dia ikuti tentu memerlukan waktu berlatih yang lumayan menyita hari-harinya. Dan benarlah demikian. Donna keteteran. Satu persatu online course yang dia ikuti dia batalkan. Tinggal 1 yaitu Dino 101 yang dia suka sekali. Tapi langkah ini sudah terlambat, karena ada beberapa quiz dari Dino 101 ini yang sudah terlanjur dapat score rendah dan tidak bisa diulangi lebih dari 2 kali.
Akhirnya ketika waktunya statement of accomplishment keluar, dia tidak mendapatkannya, karena total scorenya kurang nol koma sekian dari minimal 80%. Dia agak kecewa. Tapi belajar banyak dari kejadian ini. Bahwa waktu dan tenaga kita ada batasnya. Lalu pelan-pelan kutanya, mau mengulang lagi? Dengan mengulang mungkin dia jadi bisa mempunyai pengertian yang lebih baik dan kemungkinan bisa mendapatkan statement of accomplishment. Tapi kalau tak mau ya tak apa-apa juga. Ternyata dia mau. Dia menunggu-nunggu saat mulainya. Lalu perkuliahan yang mustinya berlangsung selama 12 minggu dia selesaikan semua ujiannya hanya dalam waktu hampir 2 minggu saja. Kata Donna, karena aku sudah tahu sebagian besar (walau ada perubahan sedikit katanya). Dino 101 ini baru selesai sebulan lalu proses perkuliahannya, jadi Donna masih menunggu proses gradingnya.
Selama menunggu (karena Dino 101 yang kedua diselesaikan hanya dalam waktu 2 minggu dari seharusnya 12 minggu) Donna ikut Fundamental English Writing course dan mendapatkan statement of accomplishment dan Exploring Beethoven's Piano Sonata course.
Ini dia statement accomplishmentnya:
Yang mengenai Beethoven Sonata ini Donna mengakui mengalami kesulitan. Bayangkan, dia belum pernah belajar satupun sonatanya Beethoven selama ini. Tapi kuakui luar biasa usahanya, dia berjuang menjawab semua quiznya, melihat video kuliahnya berkali-kali, masih ditambah googling dan Youtube, sampai menit-menit terakhir deadline, walau dia tetap merasa kesulitan. Akhirnya ketika coursenya selesai dia bilang dia tidak yakin mendapatkan statement of accomplishment, karena dia merasa kesulitan sekali.
Kubilang ya tak apa. Mau ngulang lagi atau nanti kapan-kapan ketika merasa perlu?
Dan dia memilih 'tar kapan-kapan kalau aku merasa perlu'.
Dan kami semua merasa surprise ketika akhirnya Statement of Accomplishment atas namanya keluar!
Ketika aku cerita ke guru pianonya, guru pianonya merasa terkejut, kenapa ikut yang Sonatanya Beethoven? Sonata Beethoven itu tak beraturan, entah karena terlalu jenius atau gila, benar-benar sulit untuk dipahami. Mustinya ikut yang Haydn dulu.
Begitu katanya. Rupa-rupanya Donna tidak cerita ataupun bertanya ke guru pianonya.
Ketika kusampaikan pada Donna apa kata guru pianonya, begini jawabnya:
Kalau Haydn sih gampang, karena dia orang kaya yang hidupnya sangat teratur, jadi karyanyapun sangat menurut aturan. Beda jauh dengan Beethoven yang mencipta dengan keadaan tuli sehingga kadang dia musti menggigit senar piano untuk merasakan getarannya.
Demikian katanya. Aku sendiri terus terang kurang tahu hahahaha...lagian di coursera memang adanya 'Exploring Beethoven's Sonata' bukan 'Exploring Haydn's Sonata' sampai saat ini.
Dan sambil menunggu statement of accomplishment dari Dino 101, kami dikirimi email: jikalau peserta Dino 101 ini berusia 6 s/d 16 th apakah bersedia menerima interview untuk riset pengembangan selanjutnya dari University of Alberta Canada (penyelenggara Dino 101 course). Hasil interview akan dirahasiakan, hanya untuk ketua riset yaitu Dr. Catherine Adams dari Department of Secondary Education, Faculty of Education dan asistennya. Nama murid akan disamarkan. Peserta riset adalah yang sudah lulus Dino 101 ini.
Interview melalui Skype sudah dilakukan semalam dengan sangat menyenangkan. Sebagian besar Donna sendiri yang menjawabnya. Periset menyatakan ketakjubannya, bahwa ternyata, Dino 101 (ilmu paleontology/ mengenai dinosaurus) yang didesain dan ditujukan untuk pelajar dewasa (mahasiswa) ternyata banyak diikuti oleh anak-anak , yang sebagian besar adalah Homeschooler. Banyaknya anak-anak yang mengikuti perkuliahan yang diselemggarakan oleh MOOC (Massive Open Online Course) inilah yang mendasari riset ini.
Terus terang online course ini juga bagian dari persiapan Donna untuk menjalankan Homeschool nya kelak, setahun lagi. Semoga dari riset ini bisa dihasilkan kebijakan yang memihak anak-anak, di mana mereka seharusnya berhak mendapatkan proses pendidikan yang terjangkau, menyenangkan dan spesifik sesuai minat dan bakatnya. Aku yakin, tak ada anak yang tak suka belajar jika prosesnya menyenangkan.
Proses pembelajaran yang benar akan membuat sang pembelajar senantiasa 'kehausan' untuk terus meneguk ilmu. Senantiasa membuat sang pembelajar merasa bukan siapa-siapa dan tak tahu apa-apa. Itulah yang dirasakan Donna. Tak akan bisa aku meredamnya (walau terus terang banyak yang mengira itu bagian dari ambisiku...oh nooo :( aku sendiri pontang panting mengikutinya).
Berapa banyak hal yang belum kita pelajari? Tak terhingga...
Pengalaman pertama aku ceritakan di sini. Di sini dia belajar pertama kali secara online tentang arkeologi. Untuk yang proses awal ini Donna masih aku dampingi untuk mengerjakan assignmentnya, karena dia masih penyesuaian. Untuk selanjutnya benar-benar Donna sendiri yang menangani, dari mulai memilih course yang dia maui, enroll, kapan mulai, kapan deadline untuk quiz ataupun assignment, menjawab quiz dan mengerjakan assignment. Semuanya dilakukannya sendiri. Kalau ada yang tidak tahu dia akan bertanya (kepada kami atau internet, karena pengetahuan kami pun terbatas sangat).
Selanjutnya setelah lulus yang pertama ini, dia menjadi ketagihan. Karena cara belajarnya menyenangkan, bisa diakses kapan saja dan dibawakan secara menyenangkan pula oleh pengajar yang bergelar profesor. Berbeda banget dengan pengalaman kuliahku dulu :( . Dulu para profesor biasanya ditakuti, tidak ramah kepada mahasiswanya, menjelaskan bahan kuliah pun lebih terkesan sulit daripada jelas. Benar-benar berbeda.
Lalu Donna pun enroll sendiri segala macam online course yang dia mau sekaligus!!. Aku peringatkan waktunya tidak akan cukup, bisa-bisa gagal semua. Belum lagi karena dia masih sekolah tentu dia ditimbuni segala macam PR dan Projects yang kadang jumlahnya tidak masuk akal. Belum lagi ujian piano dan kompetisi yang dia ikuti tentu memerlukan waktu berlatih yang lumayan menyita hari-harinya. Dan benarlah demikian. Donna keteteran. Satu persatu online course yang dia ikuti dia batalkan. Tinggal 1 yaitu Dino 101 yang dia suka sekali. Tapi langkah ini sudah terlambat, karena ada beberapa quiz dari Dino 101 ini yang sudah terlanjur dapat score rendah dan tidak bisa diulangi lebih dari 2 kali.
Akhirnya ketika waktunya statement of accomplishment keluar, dia tidak mendapatkannya, karena total scorenya kurang nol koma sekian dari minimal 80%. Dia agak kecewa. Tapi belajar banyak dari kejadian ini. Bahwa waktu dan tenaga kita ada batasnya. Lalu pelan-pelan kutanya, mau mengulang lagi? Dengan mengulang mungkin dia jadi bisa mempunyai pengertian yang lebih baik dan kemungkinan bisa mendapatkan statement of accomplishment. Tapi kalau tak mau ya tak apa-apa juga. Ternyata dia mau. Dia menunggu-nunggu saat mulainya. Lalu perkuliahan yang mustinya berlangsung selama 12 minggu dia selesaikan semua ujiannya hanya dalam waktu hampir 2 minggu saja. Kata Donna, karena aku sudah tahu sebagian besar (walau ada perubahan sedikit katanya). Dino 101 ini baru selesai sebulan lalu proses perkuliahannya, jadi Donna masih menunggu proses gradingnya.
Selama menunggu (karena Dino 101 yang kedua diselesaikan hanya dalam waktu 2 minggu dari seharusnya 12 minggu) Donna ikut Fundamental English Writing course dan mendapatkan statement of accomplishment dan Exploring Beethoven's Piano Sonata course.
Ini dia statement accomplishmentnya:
Yang mengenai Beethoven Sonata ini Donna mengakui mengalami kesulitan. Bayangkan, dia belum pernah belajar satupun sonatanya Beethoven selama ini. Tapi kuakui luar biasa usahanya, dia berjuang menjawab semua quiznya, melihat video kuliahnya berkali-kali, masih ditambah googling dan Youtube, sampai menit-menit terakhir deadline, walau dia tetap merasa kesulitan. Akhirnya ketika coursenya selesai dia bilang dia tidak yakin mendapatkan statement of accomplishment, karena dia merasa kesulitan sekali.
Kubilang ya tak apa. Mau ngulang lagi atau nanti kapan-kapan ketika merasa perlu?
Dan dia memilih 'tar kapan-kapan kalau aku merasa perlu'.
Dan kami semua merasa surprise ketika akhirnya Statement of Accomplishment atas namanya keluar!
Ketika aku cerita ke guru pianonya, guru pianonya merasa terkejut, kenapa ikut yang Sonatanya Beethoven? Sonata Beethoven itu tak beraturan, entah karena terlalu jenius atau gila, benar-benar sulit untuk dipahami. Mustinya ikut yang Haydn dulu.
Begitu katanya. Rupa-rupanya Donna tidak cerita ataupun bertanya ke guru pianonya.
Ketika kusampaikan pada Donna apa kata guru pianonya, begini jawabnya:
Kalau Haydn sih gampang, karena dia orang kaya yang hidupnya sangat teratur, jadi karyanyapun sangat menurut aturan. Beda jauh dengan Beethoven yang mencipta dengan keadaan tuli sehingga kadang dia musti menggigit senar piano untuk merasakan getarannya.
Demikian katanya. Aku sendiri terus terang kurang tahu hahahaha...lagian di coursera memang adanya 'Exploring Beethoven's Sonata' bukan 'Exploring Haydn's Sonata' sampai saat ini.
Dan sambil menunggu statement of accomplishment dari Dino 101, kami dikirimi email: jikalau peserta Dino 101 ini berusia 6 s/d 16 th apakah bersedia menerima interview untuk riset pengembangan selanjutnya dari University of Alberta Canada (penyelenggara Dino 101 course). Hasil interview akan dirahasiakan, hanya untuk ketua riset yaitu Dr. Catherine Adams dari Department of Secondary Education, Faculty of Education dan asistennya. Nama murid akan disamarkan. Peserta riset adalah yang sudah lulus Dino 101 ini.
Interview melalui Skype sudah dilakukan semalam dengan sangat menyenangkan. Sebagian besar Donna sendiri yang menjawabnya. Periset menyatakan ketakjubannya, bahwa ternyata, Dino 101 (ilmu paleontology/ mengenai dinosaurus) yang didesain dan ditujukan untuk pelajar dewasa (mahasiswa) ternyata banyak diikuti oleh anak-anak , yang sebagian besar adalah Homeschooler. Banyaknya anak-anak yang mengikuti perkuliahan yang diselemggarakan oleh MOOC (Massive Open Online Course) inilah yang mendasari riset ini.
Terus terang online course ini juga bagian dari persiapan Donna untuk menjalankan Homeschool nya kelak, setahun lagi. Semoga dari riset ini bisa dihasilkan kebijakan yang memihak anak-anak, di mana mereka seharusnya berhak mendapatkan proses pendidikan yang terjangkau, menyenangkan dan spesifik sesuai minat dan bakatnya. Aku yakin, tak ada anak yang tak suka belajar jika prosesnya menyenangkan.
Proses pembelajaran yang benar akan membuat sang pembelajar senantiasa 'kehausan' untuk terus meneguk ilmu. Senantiasa membuat sang pembelajar merasa bukan siapa-siapa dan tak tahu apa-apa. Itulah yang dirasakan Donna. Tak akan bisa aku meredamnya (walau terus terang banyak yang mengira itu bagian dari ambisiku...oh nooo :( aku sendiri pontang panting mengikutinya).
Berapa banyak hal yang belum kita pelajari? Tak terhingga...
Labels:
Education Journey,
Renunganku
Friday, April 11, 2014
Tawon dan Ulat (yang kulihat pagi ini)
Entah mau diapakan larva ngengat ini oleh si tawon. Setahuku tawon tidak makan daging.
Wikipedia:
Mayoritas tawon adalah herbivora yang memakan material tumbuhan seperti buah dan nektar. Sebagian lainnya seperti tawon raksasa Jepang (Vespa mandarina) adalah omnivora yang juga hidup dengan memakan daging dari serangga lain. Mereka tidak memiliki enzim pencerna khusus pada tubuhnya sehingga tidak bisa mencerna daging mangsanya secara langsung. Untuk mengatasinya, mereka memberikan potongan daging pada larvanya. Larva yang menghasilkan enzim pencerna protein ini akan mengunyah daging tersebut, lalu memuntahkannya kembali kepada tawon dewasa.

Berusaha mengangkat tubuh si ulat berkali-kali.

Akhirnya si ulat di tinggalkan dalam keadaan setengah mati.
Tawon membantu petani karena meletakkan telur-telurnya sebagai parasit di dalam tubuh serangga yang tergolong pest insect.
Wikipedia:
Mayoritas tawon adalah herbivora yang memakan material tumbuhan seperti buah dan nektar. Sebagian lainnya seperti tawon raksasa Jepang (Vespa mandarina) adalah omnivora yang juga hidup dengan memakan daging dari serangga lain. Mereka tidak memiliki enzim pencerna khusus pada tubuhnya sehingga tidak bisa mencerna daging mangsanya secara langsung. Untuk mengatasinya, mereka memberikan potongan daging pada larvanya. Larva yang menghasilkan enzim pencerna protein ini akan mengunyah daging tersebut, lalu memuntahkannya kembali kepada tawon dewasa.

Berusaha mengangkat tubuh si ulat berkali-kali.

Akhirnya si ulat di tinggalkan dalam keadaan setengah mati.
Tawon membantu petani karena meletakkan telur-telurnya sebagai parasit di dalam tubuh serangga yang tergolong pest insect.
Wednesday, March 26, 2014
Donna's Second Statement of Accomplishment from Coursera
Donna ikutan Coursera ini :
Crafting an Effective Writer : Tools of the Trade.
Dan ini dia Statement of Accomplishment yang dia dapatkan.
Keren, nak!
Crafting an Effective Writer : Tools of the Trade.
Dan ini dia Statement of Accomplishment yang dia dapatkan.
Keren, nak!
Monday, March 3, 2014
...as Children's Book Ilustrator
Sudah lama juga rasanya aku tidak meng-update blogku yang ini. Semenjak mulai bekerja sebagai ilustrator profesional untuk buku anak - anak freelance memang waktuku benar-benar tersedot habis. Untungnya aku suka sekali menggambar, jadilah pekerjaan tambahanku ini bisa juga dianggap sebagai "Me Time".
Menggambar adalah hobiku sedari kecil. Hanya saja tidak berlanjut ke manapun karena waktu itu tak seorang pun tahu, apa sih keistimewaan dari kebisaanku menggambar itu. Dan lagi pula keadaan perekonomian kami waktu itu yang sangat mepet membuatku tak punya alat atau bahan menggambar apapun, selain pinsil dan kertas bekas pembungkus sebagai "buku gambarku".
Ada saat di mana aku tidak tahan untuk tidak menggambar, apalagi ketika jaman SMP, jaman 'memberontak' ABG. Aku memilih duduk di kursi paling belakang, dan sibuk menggambari bagian belakang dari buku tulisku, tidak menghiraukan guru di depan kelas. Untunglah semua nilaiku baik jadi tidak ada masalah.
Tapi apa boleh buat, karena tidak tahu pekerjaan apa yang bisa menghidupiku dengan kebisaan menggambar itu, aku mulai serius belajar lagi ketika SMA, sampai melanjutkan kuliah Teknik Sipil. Gambar menggambar pelan-pelan terkubur semakin dalam.
Ketika punya anak Liza, aku perlu menggambar sedikit-sedkit untuk alat bantu belajar secara visual. Ada juga menggambar agak banyakan ketika menghias rumah kardus untuk anak-anak.
Kebetulan ada kardus bekas di kantor suamiku yang cukup tebal dan kokoh.
Gambar kubuat di kertas-kertas bekas sisa dari kantor yang masih putih di sebaliknya. Lalu kutempel di sisi rumah kardus bagian luar. Alat gambarnya pun hanya memakai sisa crayon dan pinsil warna punya Liza, yang tidak lebih dari 12 macam warna.
Gambar di rumah kardus ini kubuat tahun 2004, 10 tahun yang lalu. Rumah kardus ini sudah lama dibuang karena mulai rusak. Maklum anak-anak tetangga yang "sekolah sore" di rumahku suka sekali main di dalam rumah kardus ini, termasuk dipanjat atapnya, keluar masuk lewat pintu maupun jendelanya...dan tak lama pun jebol hahaha.
Untung masih sempat kufoto untuk kenang-kenangan.
Baru di tahun 2012 yang lalu aku mengenal menggambar secara digital untuk ilustrasi. Mataku seperti dibukakan lebar-lebar: bahwa ada profesi yang terhormat dari kemampuan menggambar ini. Menjadi Ilustrator. Akunya sendiri suka menggambar, dibayar, dan bisa dilakukan tanpa meninggalkan rumah dan anak-anak (walau jumpalitan gak karuan mengatur waktunya, mengatur rumah sekaligus mendidik Liza di rumah tanpa ada asisten satupun, kecuali suamiku yang sangat suportif ini).
Beginilah meja kerjaku sekarang ini:
Menggambar adalah hobiku sedari kecil. Hanya saja tidak berlanjut ke manapun karena waktu itu tak seorang pun tahu, apa sih keistimewaan dari kebisaanku menggambar itu. Dan lagi pula keadaan perekonomian kami waktu itu yang sangat mepet membuatku tak punya alat atau bahan menggambar apapun, selain pinsil dan kertas bekas pembungkus sebagai "buku gambarku".
Ada saat di mana aku tidak tahan untuk tidak menggambar, apalagi ketika jaman SMP, jaman 'memberontak' ABG. Aku memilih duduk di kursi paling belakang, dan sibuk menggambari bagian belakang dari buku tulisku, tidak menghiraukan guru di depan kelas. Untunglah semua nilaiku baik jadi tidak ada masalah.
Tapi apa boleh buat, karena tidak tahu pekerjaan apa yang bisa menghidupiku dengan kebisaan menggambar itu, aku mulai serius belajar lagi ketika SMA, sampai melanjutkan kuliah Teknik Sipil. Gambar menggambar pelan-pelan terkubur semakin dalam.
Ketika punya anak Liza, aku perlu menggambar sedikit-sedkit untuk alat bantu belajar secara visual. Ada juga menggambar agak banyakan ketika menghias rumah kardus untuk anak-anak.
Kebetulan ada kardus bekas di kantor suamiku yang cukup tebal dan kokoh.
Gambar kubuat di kertas-kertas bekas sisa dari kantor yang masih putih di sebaliknya. Lalu kutempel di sisi rumah kardus bagian luar. Alat gambarnya pun hanya memakai sisa crayon dan pinsil warna punya Liza, yang tidak lebih dari 12 macam warna.
Gambar di rumah kardus ini kubuat tahun 2004, 10 tahun yang lalu. Rumah kardus ini sudah lama dibuang karena mulai rusak. Maklum anak-anak tetangga yang "sekolah sore" di rumahku suka sekali main di dalam rumah kardus ini, termasuk dipanjat atapnya, keluar masuk lewat pintu maupun jendelanya...dan tak lama pun jebol hahaha.
Untung masih sempat kufoto untuk kenang-kenangan.
Baru di tahun 2012 yang lalu aku mengenal menggambar secara digital untuk ilustrasi. Mataku seperti dibukakan lebar-lebar: bahwa ada profesi yang terhormat dari kemampuan menggambar ini. Menjadi Ilustrator. Akunya sendiri suka menggambar, dibayar, dan bisa dilakukan tanpa meninggalkan rumah dan anak-anak (walau jumpalitan gak karuan mengatur waktunya, mengatur rumah sekaligus mendidik Liza di rumah tanpa ada asisten satupun, kecuali suamiku yang sangat suportif ini).
Beginilah meja kerjaku sekarang ini:
Aku masih jauh dari sempurna, masih harus terus belajar, sharpen my saw, terutama mengatur waktu dan menyeimbangkan kegiatan agar anak dan suami tidak terlupakan. Masih akrobatik tiap saat nih sekarang ini.
Beberapa waktu lalu ada kenalan yang telpon, basa-basi nanya sekarang kegiatanku apa selain ngurus anak.
Kujawab nyambi jadi ilustrator anak. Dia nanya apa itu ilustrator. Padahal usianya jauh lebih muda dariku, ternyata gatau apa itu ilustrator. Kemane ajee...
Katanya, mending gitu dari pada gak ngapa-ngapain di rumah.
Whaaat??? Gak ngapa-ngapain di rumah?
Padahal dia sering lihat Liza seperti apa
Padahal anak dia cuma satu, 11 tahun, tapi kalau gada pembantu bisa mengeluh panjang lebar
Padahal anaknya bukan special need
Padahal anaknya bukan Homeschooler
Padahal....
Biarpun sewot tapi waktu itu aku gak jawab, sayang waktunya, mending kembali ke meja kerjaku ^_^
Labels:
Art and Culture,
Awal Perjalanan,
Daily Life,
Renunganku
Subscribe to:
Posts (Atom)






