Pages

Showing posts with label Art and Culture. Show all posts
Showing posts with label Art and Culture. Show all posts

Tuesday, May 29, 2018

Last Year Music Events

Last year there were 3 events Donna joined. First was BimTek Musik, a music workshop by Kemendikbud, 30 Oct-1 Nov 2017, where she represented Banten province. She met students from all around Indonesia, and learnt a lot there about different Indonesia's culture and how to  make a team work with different kinds of abilities. She brought her flute in that event. This is the song her group made : "Kita Harus Bersatu"

The second was her piano competition, a piano classic open competition held by CDE Music School.
And the third was her first rank in flute and piano from her music school, Gloriamus Music School.

The trophies.



Wednesday, October 4, 2017

August 2017 Flute Concert


Last August was a very busy month. Donna had two flute concerts and one piano seminar. The concert preparation itself took many practicing days because it's not a solo concert. The first one was with Gloriamus Youth Orchestra and the other one was a flute ensemble.  The flute ensemble was a new experience for her, where almost all player were flutist.

The first concert was held on August 9, in TIM (Taman Ismail Marzuki, Jakarta) in collaboration with  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Ministry of Education and Culture affairs):










































The second one was held on August 17, on our independence commemoration day.

Playing in trio formation.































Monday, June 12, 2017

From Charlotte Mason's Formation of Character









Written by Indonesian Charlotte Masoner,  Ellen Kristin, this article reminds me what my kids' paediatrician and psychologist said years ago. That kids should stay close to Nature. Animals and Plants are parts of Nature.

Friday, February 17, 2017

Living Books vs Twaddles

I'm not a Charlotte Masoner Homeschooler, but I agree with her for some of her ways, especially about Good Books for children (Living Books, for CMer) instead of twaddle ones. Although, honestly I can't make my home library sterile from those twaddles and try my best to provide as many living books as possible. But, at least Donna used to read living books that shapes her taste in choosing books to read.
What is twaddle books? They are dumbed down and watered down literature.
Here is a good article about it written by Ellen Kristin, a CMer from Indonesia:
"Sastra Disney vs Versi Aslinya"

Thursday, December 15, 2016

"Persembahan dan Doa untuk Indonesia" Concert

Last Saturday, Donna had an annual concert provided by her music school for the best three students in each level and department. This concert was a bit different than the preceding years and contributed for the unity of Indonesia. The concert itself was divided into two sessions, Piano department and Vocal, Instrument Strings, Woodwind & Brasswind departments.
What she gets from her piano

"Padamu Negeri" played by the teachers and students of Gloriamus Music School


What she gets from Piano & Flute departments, 1st rank for piano and 2nd rank for flute.

Thursday, April 9, 2015

World Book Day

World Books Day is a yearly event on 23 April , organised by UNESCO. 
Talking about books, this is the book that Donna is reading now (it was her 11th birthday present last month) : " I Am Malala".
The book brings her to many new things, one of them is about Sunnis and Shia. Lucky me surrounded by some kind & open minded moslem friends. I asked their help in answering Donna's questions, and even Donna had a nice chat with one of them, Moi Kusman, last night. 

And let me share this quote, for there are many parents I knew, ask their kids to read books as if it's a chore/task. For us, reading good books is a pleasure time, a gift and a need.

“Reading should not be presented to children as a chore or duty. It should be offered to them as a precious gift.” — Kate DiCamillo




Sunday, March 29, 2015

Batu-batu Awal Story Stones


Inilah taman mungilku yang kuubah sedikit awal Januari 2015 lalu. Kolam kura-kura diperbesar karena kura-kura kami tumbuh membesar, dan ketambahan pula 2 ekor kura-kura dari orang yang sudah tak mau memeliharanya lagi. Karena area tanam menyempit, kusebar batu-batu putih di atasnya, supaya tampak lebih luas dan terang, sekaligus menjadi area kering untuk kura-kura.
Dari batu-batu putih itulah aku mendapatkan ide untuk melukisnya dan menjadikannya alat bercerita bersama anakku. Awalnya aku memakai batu taman yang agak besar. Tapi kemudian terpikir untuk membuatnya dari kerikil yang kecil (diameter sekitar 1-2 cm), supaya mudah dan ringan dibawa ke mana saja di dalam tas tangan. Harapanku akan ada banyak orang tua yang membawanya ketika sedang bepergian bersama anak mereka dan menggunakannya sebagai alat permainan yang interaktif (dan meminimalkan penggunaan gadget pada anak-anak). 
Terus terang, melukis di batu sekecil itu perlu usaha ekstra dibanding di batu yang berukuran lebih besar, pegeel :D
Tapi demi impianku agar lebih banyak anak yang terselamatkan dari kecanduan gadget, aku lakukan juga pembuatan story stones yang kecil-kecil ini.


Thursday, March 5, 2015

Lama tak Update dan si Batu Bercerita

Sudah lama sekali ternyata aku tidak menulis di sini. Selain kesibukan sehari-hari mengurus rumah dan membantu Liza belajar, juga sesekali mengerjakan ilustrasi untuk anak-anak. Dan yang terbaru adalah Story Stones alias Batu Bercerita.



Awalnya adalah ketika aku mengganti penampilan taman super mungil di depan rumahku. Kami ingin memperluas kolam kura-kura yang sudah ada dikarenakan sudah terlalu kecil untuk kura-kura kami yang tumbuh makin besar. Apalagi dapat limpahan 2 ekor kura-kura yg lebih besar lagi (pemiliknya sudah tidak mau piara mereka lagi ). Dan itu membuat area untuk tanaman yang sudah super sempit menjadi lebih sempit lagi. Maka kuputuskan untuk mengganti area tanam yang sempit itu dengan hamparan batu kerikil (besar dan kecil) warna putih, dan menjadi area untuk kura-kura berjalan-jalan keluar kolam. 
Setelah selesai, melihat beberapa batu yang mulus dan putih itu kok aku jadi merasa melihat kanvas. Maka iseng-iseng kupilih beberapa yang besar lalu kugambari dan kuwarnai. Jadinya cantik juga. Lalu aku dan Donna bermain bergantian bercerita menggunakan batu bergambar itu, seru sekali sampai kami tertawa terbahak-bahak. Dan terpikir, kalau batu-batunya lebih kecilan seukuran 1-2 cm saja, mungkin bisa dimasukkan dalam satu kantong kain kecil, lalu bisa dibawa ke mana saja dan bisa dimasukkan ke dalam tas tangan sebagai alat untuk bermain dan bercerita di mana saja dan kapan saja. Terbayang di ruang-ruang tunggu (entah di bandara, rumah sakit, apotik, bioskop, stasiun, mana saja) anak-anak bisa asik bermain batu-batu ini dengan ibunya, penjaganya atau dengan teman lainnya. Bandingkan dengan pemandangan yg sering kita lihat selama ini: ibunya atau penjaga anaknya asik main gadget, atau melototi tayangan sinetron atau infotainment, dan anak-anaknya pun jadinya tanpa punya pilihan ikut main gadget atau ikut menatap layar TV :(
Maka ketika ada teman dari Klub Oase menawarkan untuk dijual di suatu acara seminar mereka, aku girang sekali. Mungkin ini saatnya aku bisa berkontribusi untuk mengubah pemandangan yang bikin senep (hahaha apa ya padanannya...oh iya, pemandangan yang bikin sebal) di ruang tunggu yang selama ini kulihat, dengan sesuatu yang lebih baik. Maka ngebuuutlah aku waktu itu membuat beberapa kantong untuk dijual di acara itu.

Dan ternyata peminatnya lumayan banyak. Semoga makin banyak pula orang tua yang mulai menyadari bahwa waktu dengan anak-anaknya tidaklah banyak sebelum mereka akhirnya "terbang meninggalkan sarang". Jangan tukar waktu itu dengan hal lain yang, sebetulnya kita semua tahu, tidak penting.
Bagaimana sih bermain dengan batu bercerita itu? Lihat di sini.



Monday, March 3, 2014

...as Children's Book Ilustrator

Sudah lama juga rasanya aku tidak meng-update blogku yang ini. Semenjak mulai bekerja sebagai ilustrator profesional untuk buku anak - anak freelance memang waktuku benar-benar tersedot habis. Untungnya aku suka sekali menggambar, jadilah pekerjaan tambahanku ini bisa juga dianggap sebagai "Me Time".

Menggambar adalah hobiku sedari kecil. Hanya saja tidak berlanjut ke manapun karena waktu itu tak seorang pun tahu, apa sih keistimewaan dari kebisaanku menggambar itu. Dan lagi pula keadaan perekonomian kami waktu itu yang sangat mepet membuatku tak punya alat atau bahan menggambar apapun, selain pinsil dan kertas bekas pembungkus sebagai "buku gambarku".
Ada saat di mana aku tidak tahan untuk tidak menggambar, apalagi ketika jaman SMP, jaman 'memberontak' ABG. Aku memilih duduk di kursi paling belakang, dan sibuk menggambari bagian belakang dari buku tulisku, tidak menghiraukan guru di depan kelas. Untunglah semua nilaiku baik jadi tidak ada masalah.
Tapi apa boleh buat, karena tidak tahu pekerjaan apa yang bisa menghidupiku dengan kebisaan menggambar itu, aku mulai serius belajar lagi ketika SMA, sampai melanjutkan kuliah Teknik Sipil. Gambar menggambar pelan-pelan terkubur semakin dalam.
Ketika punya anak Liza, aku perlu menggambar sedikit-sedkit untuk alat bantu belajar secara visual. Ada juga menggambar agak banyakan ketika menghias rumah kardus untuk anak-anak.

Kebetulan ada kardus bekas di kantor suamiku yang cukup tebal dan kokoh.
Gambar kubuat di kertas-kertas bekas sisa dari kantor yang masih putih di sebaliknya. Lalu kutempel di sisi rumah kardus bagian luar. Alat gambarnya pun hanya memakai sisa crayon dan pinsil warna punya Liza, yang tidak lebih dari 12 macam warna.
Gambar di rumah kardus ini kubuat tahun 2004, 10 tahun yang lalu. Rumah kardus ini sudah lama dibuang karena mulai rusak. Maklum anak-anak tetangga yang "sekolah sore" di rumahku suka sekali main di dalam rumah kardus ini, termasuk dipanjat atapnya, keluar masuk lewat pintu maupun jendelanya...dan tak lama pun jebol hahaha.
Untung masih sempat kufoto untuk kenang-kenangan.
















Baru di tahun 2012 yang lalu aku mengenal menggambar secara digital untuk ilustrasi. Mataku seperti dibukakan lebar-lebar: bahwa ada profesi yang terhormat dari kemampuan menggambar ini. Menjadi Ilustrator. Akunya sendiri suka menggambar, dibayar, dan bisa dilakukan tanpa meninggalkan rumah dan anak-anak (walau jumpalitan gak karuan mengatur waktunya, mengatur rumah sekaligus mendidik Liza di rumah tanpa ada asisten satupun, kecuali suamiku yang sangat suportif ini).

Beginilah meja kerjaku sekarang ini:
Aku masih jauh dari sempurna, masih harus terus belajar, sharpen my saw, terutama mengatur waktu dan menyeimbangkan kegiatan agar anak dan suami tidak terlupakan. Masih akrobatik tiap saat nih sekarang ini.

Beberapa waktu lalu ada kenalan yang telpon, basa-basi nanya sekarang kegiatanku apa selain ngurus anak.
Kujawab nyambi jadi ilustrator anak. Dia nanya apa itu ilustrator. Padahal usianya jauh lebih muda dariku, ternyata gatau apa itu ilustrator. Kemane ajee...
Katanya, mending gitu dari pada gak ngapa-ngapain di rumah.
Whaaat??? Gak ngapa-ngapain di rumah?
Padahal dia sering lihat Liza seperti apa
Padahal anak dia cuma satu, 11 tahun, tapi kalau gada pembantu bisa mengeluh panjang lebar
Padahal anaknya bukan special need 
Padahal anaknya bukan Homeschooler
Padahal....
Biarpun sewot tapi waktu itu aku gak jawab, sayang waktunya, mending kembali ke meja kerjaku ^_^

Monday, November 25, 2013

2 Piala Untuk Story Telling Competition

Yang pertama adalah yang diselenggarakan oleh sekolah Donna 20 April 2013 yang lalu. Donna menjadi juara kedua, dengan cerita wajib "Sangkuriang". Aku membuatkan gambar manual sebagai alat bantu peraga (bisa dilihat di sini ).


Yang kedua adalah minggu kemarin, 7 bulan setelah piala yang ada di foto atas, tgl 20 November 2013. Mewakili sekolahnya, Donna meraih juara pertama. Membawakan cerita berjudul "Fox Hunt", karangan Aimee Penley-Martin, yang berusia 13 tahun. Ceritanya begini:
Ada anak namanya Kasey, punya anjing border collie . Dia mau ajak anjingnya jalan-jalan di hutan. Pas itu lagi musim fox hunt. Kalau spring season biasanya ada fox hunt. Walau sudah masuk spring, tapi kali ini masih sangat dingin dan rumput berpucuk es. Ibunya memperingatkan supaya jauh-jauh dari rombongan berburu. Dan benar, ketika sedang berada di hutan, mengamati kilauan tetesan embun di jaring laba-laba, rombongan pemburu terdengar mendekat. Dia tahan anjingnya, tapi anjingnya lepas, lalu dia buru-buru memanjat sebatang pohon dan bersembunyi di situ. Untung sepintas dia lihat si anjing kembali ke tanah pertaniannya. Setelah rombongan pemburu lewat, dia segera menyusul mereka, bukannya balik ke rumah. Karena dia tahu bahwa fox hunt selalu meninggalkan anak-anak rubah yatim piatu. Dia benci sekali hal itu. Dia mengikuti jejak tetesan darah. Sampailah dia di liang si fox, dan benar ada satu fox cub yg bersuara lemah. Lalu dia bawa pulang, sambil dipeluk, buru-buru lari kembali ke rumah. Ibunya kaget melihat dia pulang dalam keadaan pucat kedinginan . Ibunya sebetulnya tidak setuju kalau Kasey bawa pulang fox cub lagi karena tempat sudah sempit. Tapi Kasey berkeras, dan dia pikir kan ada keranjang si kucing untuk tempat si fox cub.

Gambar ilustrasi yang kubuat untuk alat peraga bisa dilihat di sini.

Secara umum kita bisa lihat bahwa cerita Sangkuriang kurang cocok untuk dibawakan sebagai bahan Lomba Bercerita untuk anak-anak karena kisahnya mengenai percintaan, ibu dan anak. Dan karenanya pun Donna kurang bisa menikmatinya.
Beda dengan yang kisah "Fox Hunt" ini. Terasa indah, layaknya cerita untuk anak-anak. Dan Donna pun sangat menikmatinya.

Dan ini rekaman videonya yang dibuat oleh guru Donna:
https://www.youtube.com/watch?v=5Un9DR5BpSA



Wednesday, June 19, 2013

Belajar Lagi secara Online dan Gratis di Coursera

Sudah sejak awal bulan Juni 2013 aku mengikuti kuliah gratis di Coursera.
Sudah beberapa lama sebetulnya aku tahu teman-temanku banyak yang mengikuti kuliah di Coursera ini, dengan macam-macam pilihan bidang studi. Berhubung kesibukan ini dan itu, dan (sepertinya ini yang paling berperan) kebetulan belum ada bidang yang bisa menggeser prioritas yang lain, aku tidak berusaha mati hidup (lebay ini sih) untuk mengambil salah satu dari jurusan-jurusan itu.
Baru ketika temanku Mieke Nurmalasari  memberi link ini , terbelalak mataku. Kenapakah? Karena ini tentang :

Introduction to Art: Concepts & Techniques 
by Anna Divinsky

Kubuka link dan mencoba jalan-jalan, dan wooow tambah kepincut!. Walau kuliah sudah berjalan hampir satu minggu sebelumnya, dengan semangat luar biasa kuusahakan mengejarnya. Ngelembur nonton videonya, sambil terkantuk-kantuk karena nontonnya bisanya tengah malam dengan tenaga yang nyaris tak bersisa. Tapi tetap semangaat! Dan sekarang sudah memasuki perkuliahan minggu keempat dari total jatah tujuh minggu.

Baru kali ini, aku, yang kini menyatakan diri sebagai seniman, belajar seni secara "sekolahan". Dari belajar tekniknya hingga sejarahnya. Perkuliahan selain diisi tugas menonton video, mambaca literatur yang diberikan, quiz juga ada tugas/assignment. 

Sebetulnya selain memang keinginan diri untuk tak henti belajar, aku juga ingin memberikan "pemandangan" untuk Donna, bahwa ada cara kuliah seru seperti ini, dan bahwa sampai setua ini pun Mamanya masih belajar dan belajar terus.
Belajar adalah proses yang kita alami selama hayat dikandung badan.

Sunday, June 2, 2013

Terlalu Capek

Yah itulah yang terjadi ketika bulan lalu Donna mengikuti in house concert di tempat sekolah pianonya, di panggung dia tiba-tiba lupa semua not lagu yang sudah lancar dan hafal dimainkannya. Dia kembali ke bangku dan menangis sejadi-jadinya.
Sudah sejak bulan April dia sibuk sekali. Mempersiapkan macam-macam kegiatan yang ingin diikutinya. Dari lomba story telling, di mana dia dapat juara 2, lalu menjadi Master of Ceremony bersama teman-temannya di @america, lalu in house concert, persiapan kompetisi piano bulan Juli, persiapan Year End Performance sekolah...Semua itu memerlukan persiapan dan latihan tersendiri dan makan waktu.
Bahkan dia sempat jatuh sakit sebelum konser tsb, panas tinggi, sampai tak bisa masuk sekolah 3 hari.

Tapi semua itu jadi ada hikmahnya. Donna bersedia mengurangi dan memilih kegiatan mana yang benar-benar tak bisa ditinggalkan. Karena, sebelumnya, kalau kutegor untuk mengurangi, yang ada adalah kemarahannya. Dia sangka aku tak menginginkan dia senang. 
Yah, blessings in disguise...


Ini waktu jadi juara 2 Story Telling Competition dengan membawakan cerita "Sangkuriang".
Ilustrasi untuk cerita "Sangkuriang" bisa dilihat di sini.






Friday, April 19, 2013

Jatuh Cinta pada Compost Art

Sudah beberapa bulan ini aku jatuh cinta dengan yang namanya Compost Art. Apa itu Compost Art?
Temanku, Ines Setiawan, adalah yang pertama kali menciptakannya, lalu menyebarkannya via Facebook.
Ini adalah kegiatan  merangkai calon kompos, alias calon sampah menjadi suatu bentuk karya seni. Sampah itu bisa saja berasal dari dapur macam kulit buah atau  potongan sayur yang tak terpakai, atau bisa juga berasal dari kebun. Hanya dirangkai & disusun saja, tanpa lem apalagi pengawet. Karena tujuannya adalah memilah sampah untuk dijadikan kompos, namun si sampah diberikan kesempatan mejeng sejenak dan diabadikan lewat foto, baru menuju pembuangan/komposter.

Ternyata kegiatan ini membuat diriku kecanduan. Bagaimana tidak, materialnya gratis, non toxic, dan tidak memerlukan waktu lama, tak memerlukan tempat penyimpanan. Aku dan beberapa teman aktif mengunggahnya ke Facebook. Dan demikianlah bola salju menggelinding, makin banyak yang tertarik ikutan. Dan tgl 13 April 2013 kemarin kami diundang oleh Green Building Council Indonesia untuk ikut dalam acara mereka di Jakarta Convention Center. Maka itulah pertama kali kami "go public" secara lebih "resmi" lewat acara Compost Art exhibition & workshop.

Salah satu karyaku adalah :
Yang lainnya bisa dilihat di sini, dengan kategori Compost Art


Saturday, January 5, 2013

Frankenstein


Awal tahun ini Donna membaca cerita berjudul "Frankenstein" dari serial Classics Starts. Dia ketakutan setelah selesai membacanya, dipenuhi bayangannya sendiri tentang si monster.
Penasaran, aku ikutan baca. Yang ada di bayanganku awalnya hanya ini : makhluk hasil reka cipta ilmuwan bernama Victor Frankenstein, yg kejam dan mengerikan. Itu yang kudapat dari filem-filem jaman aku anak-anak, khas budaya pop hollywood yang enteng.
Setelah selesai membacanya aku ajak Donna berdiskusi. Yang ada di kepalaku sekarang adalah makhluk rekaan yang bukan atas kemauannya diciptakan dengan keadaan fisik yang sangat mengerikan, sehingga semua orang takut dan menghindarinya, betapapun sang monster telah berusaha berbuat baik. Sang monster menjadi sangat kesepian. Aku menjadi iba padanya karena keadaan yang menimpanya. Bahwa kemudian sang monster berbuat kejam, itu karena memang keadaan yang memaksanya, hanya itu yang dia tahu dan bisa perbuat untuk mencoba mengubah nasibnya.
Kata Donna : Aku tahu, tp aku tetap takut, membayangkan monster yang tersusun dari potongan-potongan mayat.
Yah ketakutan yang wajar.
Setelah membacanya aku jadi merenung, berapa banyak kita juga telah "menghindari" seseorang karena tampangnya yang "kurang layak" menurut ukuran kita, walaupun hatinya baik.
Padahal di sisi lain banyak juga yang berwajah malaikat tapi malah berhati kejam.
Kita masih suka terpesona oleh "bungkus luar" saja.
Yah tapi kalau di kehidupan nyata aku tiba-tiba bertemu monster ciptaan Frankenstein ini aku juga akan lari ketakutan :D :D

Sunday, November 11, 2012

Piala Piano Donna tahun 2012

Tahun ini sudah hampir habis. Dan Donna sudah mengumpulkan 3 piala dari kompetisi piano yang diikutinya.
 Yang pertama sebagai juara harapan 2 dari Yamaha yang pernah kutulis di sini.

Ini yang kedua, juara 1 di Petrof Piano Competition, di kelompok usia yang lebih tua dari Donna.


Dan ini adalah yang Donna dapatkan sore ini : mendapatkan piala Potensial di Gracia Open Music Festival. 
Sebetulnya sama dengan juara harapan. Maksudnya berpotensi jadi pianis yang baik. Semoga.
Padahal persiapannya agak mepet, karena akhir bulan lalu Donna juga mengikuti ujian piano ABRSM grade 2.

Tadi pagi Donna sempat stress. Setelah bisa ditenangkan (salah satunya dengan baca buku "Asterix the Gaul" :) ), kukatakan, tak penting menang atau kalah, yang penting nikmati permainan pianomu.
Dan akhirnya dia bisa lebih relax. 
Aku bangga padanya.




Saturday, September 8, 2012

Membangkitkan Passion yang Lama Terkubur

Aku sejak kecil, sejak mengenal pinsil sebagai alat tulis, suka sekali menggambar. Dengan keadaan kami yang hidup pas-pasan, tentu aku hanya bisa menggambar di atas kertas bekas pembungkus yang masih kosong di sebaliknya dan menggunakan pinsil ala kadarnya. Tak ada yang namanya menggunakan pinsil warna, yang paling sederhana sekalipun. Pinsil warna (pinsil warna murah isi 12 warna) hanya untuk keperluan sekolah.
Apa yang kugambar? Apa saja yang kulihat. Waktu itu aku kira-kira masih duduk di bangku TK. Aku masih ingat aku menggambar ibu-ibu menjemur pakaian di halaman, yang dikomentari Mamaku "Kok lehernya panjang sekali seperti 'cangik'". :) Lalu aku menggambar rumah di kampung belakang yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Dengan ayam-ayam yang berkeliaran di halaman. Romantisme masa lalu :D

Tapi urusan gambar menggambar ini dianggap oleh semua orang yang kutemui, bukanlah hal penting untuk masa depan. Bagaimana tidak, kami sering melihat para seniman pelukis asal Sokaraja (dekat kota kami) menenteng lukisan di pinggir jalan. Menurutku lukisan-lukisan itu bagus. Setelah dewasa aku baru tahu bahwa sebagian besar adalah lukisan repro atau meniru lukisan rekan mereka yang lebih sukses.
Jadi wajarlah kalau melihatku menggambaaar teruus, Mamaku berkata "Kok nggambar terus, mau jadi pelukis yg nenteng lukisan di pinggir jalan?"
Aku tidak menyalahkan orangtuaku, karena memang pengetahuan mereka terbatas.

Namun ketika aku SMP kelas 2 dan 3, aku mulai 'memberontak'. Diam-diam selama di kelas (aku pilih duduk paling belakang) kerjaanku hanya menggambar dan menggambar di bagian belakang buku tulis yang kosong. Pelajaran tak kuhiraukan sama sekali. Hanya mendengarkan sekali-sekali pelajaran yang menurutku menarik. Untunglah nilai-nilaiku baik-baik saja ;D

Dan demikianlah tahun demi tahun berlalu, menggambar yang sangat kusukai akhirnya hanya seperti anugerah tak berguna, dan mulai terkubur.

Tiba-tiba bulan Juli lalu ada teman yang share tentang Online Class Illustrating. Wah, ini dia yang kuperlukan, menggambar untuk ilustrasi memakai program komputer dan aku tak perlu hadir secara fisik di kelas. Aku bisa belajar di rumah, di sela-sela waktu yang ada, sambil tetap menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga tanpa asisten dan Homeschooler Mom. Pontang-panting sih, apalagi aku benar-benar belajar menggunakan program itu dari nol. Tapi aku sangat exciting. Passionku seakan bangkit dari kubur. Aku mulai mengumpulkan gambar-gambarku di sini.
Kadang aku merenung, kenapa baru sekarang aku diberi kesempatan ini Tuhan? Andaikan itu terjadi ketika aku masih mahasiswi...

Better late than never. Semoga setelah ini aku bisa Kau tunjukkan jalan ke mana aku bisa makin mengembangkan talentaku ini, Tuhan. Amin.


Sunday, August 5, 2012

Buku "Tata & Titi"

Sudah agak lama buku ini kubuat, tapi beberapa waktu lalu baru sempat ku-upload ke issuu.com.
Ini cerita keseharian antara 2 anak ayam, yang seperti anak-anak kita, berantem lalu rukun lagi.
Buku itu bisa dilihat di sini : http://issuu.com/hedwigratna/docs/tata___titi

Friday, July 6, 2012

Pameran Filateli Internasional 2012

Tanggal 23 Juni 20 12 yang lalu kami berkesempatan mengunjungi Pameran Filateli Internasional 2012 di Jakarta Convention Center. Pameran ini diikuti perwakilan banyak negara. Senang sekali kami mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan para perwakilan negara sahabat sekaligus mengamati perangko-perangko terbitan negara mereka.
Inilah buku Philatelic Passport yang kami dapatkan dari booth Selandia Baru. Booth ini yang pertama kami kunjungi, selain karena letaknya di depan, kami juga tertarik pada perangko 3D yang mereka miliki.
Buku pasport ini di dalamnya ada nomor-nomor booth peserta, nama negara, lokasinya, populasinya, ibukotanya, bahasanya, dan tahun pertama penerbitan perangkonya. Lalu ada tempat untuk menempel perangko dari negara tersebut yang dapat kita beli di lokasi booth. Tapi tidak di semua booth kami membeli perangko, hahaha bisa jebol kantong karena ada puluhan booth. Harga tiap-tiap perangko berbeda untuk tiap negara, bahkan tiap jenis perangko, rata-rata berkisaran Rp 5000 sampai Rp 10.000. Kadang di tiap booth kami membeli lebih dari satu perangko.

Ini adalah beberapa contoh perangko yang kami beli :


Ini perangko dari Korea Utara. Interaksi kami dengan perwakilan dari Korea Utara menggunakan bahasa isyarat, karena pria tersebut tak dapat berbahasa Inggris :D


Ini adalah perangko dari Selandia Baru, perangko kedua terbanyak yang kami beli setelah perangko Indonesia (sebagai tuan rumah booth Indonesia tentu yang paling besar dan ramai :))
Dan siang itu Donna berkesempatan merasakan mencetak perangko jaman dahulu dengan cara menarik tuas dan menekannya kuat-kuat pada selembar kartu pos.

Di akhir acara, ketika kami sedang berjalan keluar menuju tempat parkir, kami bertemu seorang pria, yang bukan orang Indonesia, yang tiba-tiba memberikan pin kepada kami. Surprise dan bengong, karena kami lihat orang di sekitar kami tak dibagi pin serupa. Setelah bertanya kepada teman-teman yang dapat menolong mengartikan tulisan di pin tersebut, sepertinya pin tersebut dari Qatar (Qatar adalah peserta pameran filateli juga). Wah sayang kami belum sempat berterimakasih kepada pria tersebut. Ini adalah pin cantik tersebut:


Benar-benar pengalaman yang sangat berharga, karena baru kali ini Indonesia berperan sebagai tuan rumah, dan di tahun-tahun berikutnya akan diselenggarakan di negara-negara yang lainnya lagi.

Thursday, June 7, 2012

International Story Telling Contest 2012, behind the scene

Tanggal 2 Juni 2012 yang lalu Donna dan Papanya mengikuti International Story Telling Contest 2012, yang diselenggarakan oleh sekolahnya, Blossom International School. Dewan juri terdiri dari Ms Seen Young Park (UNESCO), Ms Sri Sulastini (TEFLIN), Ms Ismail Luz (Pearson), Ms Wong Mei Mei (Pelangi Books) dan seorang pengarang, yg saya lupa namanya.
Acara ini memang lomba bercerita duet Ayah & Anak. Kalau Ayah tidak hadir, bisa diwakilkan oleh anggota keluarga yang lelaki.
Awalnya, kami pikir kami yang mencari cerita sendiri untuk lomba itu. Dan kami pun sudah memilih cerita "The Mouse's Marriage" sekaligus merancang alat bantu untuk bercerita.
Ternyata beberapa minggu kemudian kami baru tahu kalau Donna yang diminta memilih satu dari beberapa judul buku cerita yang sudah ditentukan. Dan Donna pun memilih cerita berjudul "Marcel and the Mona Lisa" karya Stephen Rabley.
Ceritanya adalah seekor tikus Perancis bernama Marcel yang adalah juga detektif, yang memergoki pencurian lukisan Mona Lisa dari Museum Louvre Paris oleh penjaga baru museum tersebut. Dan mulailah Marcel berpetualang mengikuti lukisan tersebut dan bersembunyi di tas hitam milik sang pencuri. Sampai akhirnya Marcel berhasil membuat kehebohan di rumah bos sang pencuri dengan menjatuhkan lilin yang membakar karpet, sehingga Marcel pun dapat melarikan lukisan tersebut. Lalu Marcel memasukkan gulungan lukisan tersebut ke kotak pos kantor Polisi yang ditemuinya. Dan akhirnya lukisan tersebut bisa kembali ke Museum Louvre di Paris.
Maka kami pun memikirkan ulang alat bantu  yang sesuai dengan cerita dari buku ini.
Saya membuat tas hitam dari bahan karton manila hitam, bekas dari suatu acara kantor suamiyang sudah tak terpakai. Tas ini berperan penting, karena selain untuk menyimpan lukisan curian, tas ini juga menjadi tempat bersembunyi Marcel. Lalu saya berpikir mau membuat kotak pos, di mana Marcel nanti akan memasukkan lukisan curian ini. Tapi suami saya punya ide lebih baik: bagian belakang tas hitam dijadikan sebagai kotak pos, sehingga tak terlalu banyak barang yang musti dibawa ke panggung.
Untuk lilin yang dipakai untuk membuat kebakaran di rumah bos sang pencuri, kami menggunakan bekas hiasan natal yang berbentuk lilin.
Bisa dibilang semua adalah barang-barang bekas. Alat bantu yang bukan berupa barang bekas hanyalah print out lukisan Mona Lisa dan boneka jari untuk tokoh Marcel dan Celine temannya. Boneka jari itu sudah lama kami beli dari suatu acara.
Saya minta Donna dan Papanya untuk masing-masing membaca buku itu dan mengerti. Tak perlu hafal.
Proses latihannya berjalan santai dan penuh gurauan. Saya minta Donna bercerita kepada "orang lain" yang sama sekali tidak tahu jalan cerita dari buku tersebut. Jadi bisa dibilang tidak ada kalimat yang musti dia hafalkan. Waktu itu Donna terbahak-bahak melihat papanya berjalan gaya Moonwalk untuk adegan berjalan. Juga ketika papanya beride bersiul untuk menggambarkan bunyi radio yang didengar Marcel selama perjalanan.
Cerita itu komplit sekali, sekitar 6-7 menit. Ternyata kami baru tahu bahwa masing2 peserta dibatasi oleh waktu presentasi, maksimal 5 menit, kira-kira semingguan sebelum hari H.
Kemudian kami berdiskusi, bagian mana saja yang tidak perlu, dan kami buang. Hasilnya total waktu yang diperlukan hanya sekitar 4 menit sekian detik.
Saya sebagai 'penonton' dan pemegang stopwatch ketika mereka latihan, sekaligus kritikus.
Akhirnya hari H tiba. Donna sebagai peserta pertama dari category 5 (8-12 years old).Pagi harinya Donna sempat gelisah. Untung kiriman buku cerita pesanan Donna datang tepat pada waktunya, cukup bisa membantu meredakan ketegangannya. Semuanya berjalan lancar, walau ada sedikit gangguan ketika salah satu lemari stand sponsor jatuh. Tapi secara menyeluruh penampilan mereka sangat menyedot perhatian. Begini kira-kira adegan di panggung :

Dan akhirnya mereka pun meraih juara pertama :D
Selain piala, mereka pun berhak atas hadiah ini :
Sayang penampilan mereka yang sudah saya rekam di kamera tak dapat disaksikan karena ada problem di memory cardnya. Untuk kenang-kenangan Donna kelak, saya minta mereka melakukan ulang di rumah dan saya rekam. Bisa dilihat di sini ini.



Thursday, May 10, 2012

KidFFest 2012

Tahun ini kami menyaksikan 3 film di KidsFFest 2012. Film yg pertama adalah "Fuchsia The Mini Witch". Film ini aku tidak mendampingi Donna, karena aku harus membawa Liza les piano (ada perubahan jam les mendadak), jadi suamiku yg menemaninya. Film kedua adalah "We Can be Heroes". Film ini kami saksikan terlambat setengah jam! Bertepatan dengan minggu ke-5 yang ternyata masuk ke "Car Free Day". Setelah merambat di jalur lambat dan nyaris terlambat, tiba-tiba di jalur cepat sudah terlihat mobil-mobil bergerak. Kami pun ikutan ke jalur cepat. Dan entah ada dalam sekejab berhenti total, baik jalur cepat maupun jalur lambat. Sudah terlambat 20 menit, kami lari sampai ngos-ngosan ke lantai 8 Blitz Megaplex. Akhirnya setelah duduk kulihat jam, kami sudah terlambat setengah jam :(( Film ketiga yang kami tonton adalah "Lionel". Entah kenapa 2 dari 3 film yang kutonton aku merasa kurang puas. Rasanya tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya.