Pages

Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Wednesday, July 30, 2014

TAHURA Bandung, Indonesia

Sudah lama aku tak menulis di sini :)  Biasalah, banyak urusan ini dan itu.
Lebaran hari pertama tahun ini kami berkunjung ke rumah adikku di Bandung, dan kami beramai-ramai pergi ke TAHURA (Taman Hutan Rakyat) atau yang lebih dikenal sebagai Dago Pakar. Jalan-jalan menghirup udara segar. Sayangnya masih banyak perokok di sana, yang merusak suasana. Mustinya kami bisa bebas menghirup udara segar tanpa harus minggir menghindar :( Kapan Bandung bisa mulai menerapkan "Dilarang merokok di tempat Umum"?
Donna dan sepupu-sepupunya beserta Papa, Om & Tante mengunjungi Goa Jepang dan Goa Belanda. Aku dan Liza hanya berjalan pelan dan santai (sering berhenti, menyesuaikan kecepatan Liza, yang berkali-kali menawar untuk kembali ke mobil saja :D) dan tidak mampir ke goa-goa tersebut.




Melihat banyak rontokan bunga dan daun di sepanjang jalan, aku iseng-iseng bikin Compost Art di atas tembok jembatan 
  


Sebelumnya, pas mendekati akhir bulan puasa, kami menginap semalam di Gunung Mas. Menyepi dalam keheningan. Ritual tahunan :D

Membawa serta kura-kura Indian Star kami tercinta ^^
Dia anggota keluarga kami yang nyaris selalu ikut ke mana kami pergi selama lewat jalan darat dan jaraknya tidak terlalu jauh.




Friday, November 30, 2012

Renungan Ketika Berkunjung ke Semarang

Jumat 23 November 2012 Nenekku dari Papa dipanggil menghadapNya, di usia ke 92 tahun.
Aku hanya dapat menghadiri pemakaman beliau hari minggunya, tgl 25 November.
Naik pesawat terpagi dari Jakarta, langsung menuju ke Rumah Duka dijemput sepupuku. Acara berlangsung dari pagi s/d siang hari. Setelah acara pemakaman, aku masih punya waktu beberapa jam lagi sebelum kembali ke Jakarta lagi. Aku ingin menengok ke rumah nenek di Gang Baru, yang sudah lama tak kukunjungi (karena aku jarang bertemu nenekku, dan seringnya bertemu di rumah tanteku atau di satu acara keluarga).

Kembali ke sana terasa seperti kembali menyusuri ingatan masa kecil. Rumah-rumah itu, para tetangga yang sebagian besar masih sama, hanya menua . Tapi ada banyak hal yang mengganjal hatiku.
Rumah nenekku, yang berloteng kayu, sebagian kayunya rusak :(. Atapnya bocor, mungkin itu yang menyebabkan beberapa bagian kayunya rusak. Menurut cerita Alm Mamaku, loteng itu dibangun oleh kakek sendiri dibantu Papaku yang masih kecil waktu itu.
Memandang tangga kayunya yang beberapa bagian aus dimakan usia dan rusak, terasa sedih hatiku. Tangga ini dan loteng kayunya adalah tempat main kami para cucu waktu kecil. Sewaktu liburan sekolah biasanya kami sekeluarga bermobil dari Purwokerto ke Semarang, mengunjungi kakek & nenek. Namanya anak-anak, kalau sudah lari-larian kami suka jadi kurang hati-hati. Aku pernah jatuh di tangga kayu itu, 2 atau 3 kali :D. Demikian juga adik-adikku.
Dari dulu rumah itu, yang merangkap sebagai warung kelontong di bagian depan, memang penuh dengan barang dagangan. Aku kecil suka memandangi macam-macam barang yang dijual di situ, mengamatinya satu persatu. Kadang menerka-nerka apa guna dari barang tersebut. Ada batu apung dan kentang di peti kayu. Ada rak berisi bermacam-macam tepung yang sudah berplastik. Ada rak yang berisi bahan makanan kering dan kalengan. Ada rak berisi botol-botol bumbu dan sirup. Rak-rak itu menjulang dari lantai ke langit-langit, mengelilingi dinding waserba yang kecil. Banyak sekali macamnya. Kagum aku mereka (nenek dan para tante yang membantu) bisa ingat semuanya, ya jenisnya, ya harganya, ya tempatnya berada.
Rumah nenekku ini memang berlokasi di dalam pasar, Pasar Gang Baru. Pasar buka sejak sebelum subuh sampai siang hari. Ketika menginap di sana dulu, sekitar jam 3.30 pagi sudah mulai suara gaduh layaknya sebuah pasar yang menggeliat bangun. Apalagi di depan rumah nenek ada yang jual kelapa yang diparut. Sepagi itu dia sudah mulai menyalakan mesin parutnya. Pagi-pagi itu biasanya aku terbangun, oleh suara berisik, lalu mengintip kesibukan orang-orang yang sedang mempersiapkan dagangannya. Tak berani mengganggu, karena nenek dan para tante yang membantu sungguh sibuk, hilir mudik di tempat yang kecil itu. Jadi aku beraninya mengamati barang-barang dagangan itu ketika warung sudah tutup.
Kemarin itu perasaan barang-barang dagangan yang ada sudah makin banyak dan mengokupasi tempat-tempat yang tersisa. Jadi makin sempit dan kotor :(

Duduk di balai-balai kayu di depan warung sorenya bersama Papaku, seorang tante dan sepupu, aku mengamati para tetangga. Banyak rumah yang dulunya berarsitektur pecinan kuno sudah berubah. Berganti jadi bangunan tembok modern :(
Jalanan sempit di depan warung masih sama, aspal yang sudah terkelupas sana-sini. Selokan bau masih tetap bau.
Berandai-andailah aku. Andai pemerintah kota Semarang berkenan mempertahankan arsitektur rumah-rumah lama di situ. Andaikan jalannya di paving rapi dan selokannya dibuat tertutup sehingga tidak menyebarkan bau. Tempat itu bisa jadi tempat wisata yang lebih menarik, bahkan dibandingkan dengan kompleks Pasar Baru di Jakarta.
Di seberang warung nenek, terpaut beberapa rumah, masih berproduksi pia Tan Tie Kang, yang entah sudah berapa puluh tahun ada di situ. Dengan pia model kunonya yang kukangeni.
Sore dan malam hari para penjaja makanan banyak yang lewat. Semuanya enak-enak. Sayang kemarin itu aku tidak bisa bermalam di sana, karena harus buru-buru mengejar pesawat kembali ke Jakarta (senin suami ngantor dan Donna masuk sekolah).
Sebetulnya hari minggu itu ada acara Semawis. Sayang aku tidak sempat mengunjunginya karena waktu bukanya jam 6 sore, sedangkan aku musti sudah berada di airport jam 17.30an. Semoga lain waktu aku bisa mengunjunginya.

Kekayaan budaya suku tionghoa yang sudah menyatu jadi kebudayaan Semarangan ini kalau serius diperhatikan dan didukung pemerintah, bisa menarik wisatawan jauh lebih banyak daripada yang disuguhkan Singapore ataupun Malaysia. Tinggal menunggu, kapan hal itu bisa terjadi, sebelum bangunan kuno di situ melapuk dan berganti jadi bangunan modern.

Thursday, September 27, 2012

Blowing the Weeds Flowers

It was a warm and sunny day.
We hiked around my sister's villa in Baturaden.
Walked along the path with these weeds flowers.

Pffff...pffff...and they flew away.
not to forgotten
Spread my wishes to the universe.


Sunday, July 31, 2011

Pengalaman Pertama Berkemah Sekeluarga di Pasir Mukti

Mungkin bisa dibilang lebay :P, tapi terus terang pengalaman kami sekeluarga berkemah sangat mengesankan, sehingga membuat ketagihan.
Tgl 23-24 Juli 2011 yang lalu kami sekeluarga ikutan Klub Oase berkemah di Pasir Mukti.
Yang sangat mengesankan adalah bagaimana Liza bisa ikutan menikmati acara perkemahan ini (tadinya kami kuatir sekali, bagaimana dia b.a.b kalau closetnya jongkok semua, bagaimana dia bisa tidur di tenda, dll). Dari awal kami sudah menyiapkan diri kami, bahwa ini nginep di perkemahan, bukan hotel. Jadi harus berusaha menikmati setiap momen, seperti apapun keadaannya (makanannya, kondisinya dll). Saya juga berusaha mempersiapkan Liza dengan membuat keterangan tertulis (pendek saja) tentang apa yang akan dia dapatkan disana : bahwa kita akan tidur di tenda, pakai sleeping bag (untungnya gak perlu pakai sleeping bag ,karena tidak terlalu dingin hawanya).
Surprise: semua menikmati, tidak mengeluh!
Donna menyayangkan kenapa cuman semalam :D
Liza tidak marah walau kalau mau ke toilet harus jalan yang agak jauh, malamnya gelap jalan mengikuti cahaya senter (mata Liza minus 8, dengan kacamata minus 5), licin berlumpur lagi (karena malamnya hujan lebat sekali).
Hehehe belum pernah bangun tenda, yang mana dulu yaa? Ternyata tidak sulit kok :)
Naah beres dah tendanya. Hari panas terik, tapi lumayan ada semilir angin dari pepohonan.
Pemandangan cantik dari dalam tenda.
Siang panas terik, Donna bersama teman-teman mengikuti program bersama pihak Pasir Mukti.
Malamnya hujan lebat + sesekali guntur menggelegar. Benar-benar pengalaman yang komplit dan mengasikkan.
Malamnya ada api unggun (untungnya bisa dinyalakan setelah terkena hujan lebat). Bahkan Liza pun ikut menikmati api unggun dari balik jendela tenda.



Baru pertama berkemah tapi sungguh mengesankan bagi kami, dan Tuhan bermurah hati memberikan "edisi komplit" (ada panas terik, ada hujan lebat :)). Terimakasih Tuhan. Juga kepada panitia yang bekerja keras di balik semua yang kami nikmati ini. Kiranya hanya Tuhan yang dapat membalasnya.

Tuesday, November 2, 2010

Ke Pulau Bali

Tari Kecak di Pura Uluwatu.

Tari Barong di Denpasar.

Perjalanan ke Pulau Penyu.

Donna parasailing bertandem di Pantai Tanjung Benoa.

"Yippie!"



Oktober kemarin kami sekeluarga berlibur ke Pulau Bali. Ini adalah sebagian foto2 kami. Tempat yang kami kunjungi: Pantai Tanjung Benoa (parasailing, menyeberang ke Pulau Penyu),Garuda Wisnu Kencana, Pura Uluwatu, Denpasar (menonton Barong) dan Pura Tanah Lot. 3 hari 2 malam. Tidak terlalu banyak yang kami kunjungi, karena kami tidak mau tergesa-gesa selalu, dan tidak mudah bagi Liza untuk bergerak secepat orang biasa. Tapi di perjalanan kali ini Liza termasuk bergerak dengan lumayan gesit daripada biasanya (pengaruh rasa senang karena berlibur?)
Entahlah, yang jelas, destinasi ini disebut-sebut terus oleh Liza (Donna pun ketagihan ber-parasailing lagi!)

Tuesday, June 30, 2009

Liburan Singkat di Bandung

Liburan sekolah kali ini kami tidak pergi jauh-jauh, karena Liza mesti mempersiapkan ujian musiknya tgl 12 juli nanti. Jadi kami memilih lokasi yang tak terlalu jauh dari Jakarta : Bandung. Selain itu kami juga memenuhi permintaan Donna yang ingin 'bertemu' dengan T-Rex di Museum Geologi Bandung.



Dari Museum Geologi kami juga mampir ke Saung Mang Ujo. Sayang kami kepagian. Pertunjukan angklungnya baru dimulai 3 jam kemudian. Apa boleh buat, lain waktu kami berkunjung lagi. Untuk pengobat kecewa kami membeli kaset angklung untuk diperdengarkan di mobil.
The next day kami main ke Jendela Alam di Lembang. Donna asyik ikutan berebut menangkap ikan di kolam dan berflying fox di sana. Liza asyik berayun sambil menikmati semilir angin, yang walaupun siang hari bolong tetap masih terasa sejuk.










Liburan kami di Bandung kami akhiri di Wisata Tahu Lembang yang papan namanya di pinggir jalan mirip papan SPBU.
Melihat pembuatan tahu sambil minum susu kacang kedelai... segarr...

Thursday, April 30, 2009

Ikan Buntal Yang Menakjubkan


Pebruari lalu kami ke akuarium air tawar di TMII (berdekatan dengan Museum Serangga).
Awalnya kami kira itu bola-bola betulan yang mengapung di permukaan akuarium. Ternyata itu adalah ikan-ikan buntal yang "diganggu"/dibuat tidak nyaman sehingga menggembungkan badannya sedemikian rupa sehingga mirip bola yang terapung di permukaan air. Kalau "gangguannya" cukup lama, dia juga akan menggembung untuk waktu yang cukup lama, kira-kira satu jam. Dan ketika keadaan telah nyaman kembali, "bola-bola" itu pun kembali ke bentuk ikan semula.

Wednesday, March 25, 2009

Our Holiday's Over


Yaah... liburan sudah harus berakhir & kami harus kembali ke Tangerang. Dari Purwokerto kami lewat jalur selatan menuju Jakarta. Kami pilih jalur ini karena banyak tempat makan yang enak daripada jalur pantura :D
This time we had our dinner at Limbangan. Tampak di gambar Liza dan sawah di belakangnya, juga nun jauh di sana lampu-lampu dari kendaraan yang lewat.
Dari liburan ini banyak sekali yang dipelajari Liza maupun Donna. Donna banyak belajar dari alam langsung, ya tanaman ya binatang beserta habitatnya. Semuanya lebih mudah dimengerti dan diingat karena prosesnya langsung melibatkan dirinya.
Sedangkan Liza, dia banyak sekali belajar menyesuaikan diri dengan segala "ketidakteraturan" yang dia dapat. Tempat makan yang lain dari yang di rumah (bahkan sampai makan bersama di atas tikar), kamar beserta isinya yang tidak biasa, kamar mandi "basah" ,piano di rumah oma yang berbeda , juga electone sepupunya... Banyak sekali hal-hal berbeda dari segala "keteraturan" dan "aturan" yang dia buat di rumah.
Mama Papanya pun jadi bisa ikut refreshing karena anak-anak bisa menikmati liburan kali ini.

Saturday, March 7, 2009










Posting yang ini saya ulangi lagi karena ada problem :)


Di tengah perjalanan ke Purwokerto, kami sengaja berhenti mampir di daerah Kebumen untuk

memperlihatkan ke Donna proses pembuatan genteng dan batu bata. Tapi karena saat itu sudah pukul 15.30, para pekerjanya sudah pulang semua, kecuali bagian pembakaran yang berlangsung selama 24 jam. Saya perlihatkan tanah bahan pembuat genteng dan bata, lalu setelah dicetak di susun di rak kayu diangin-angin sampai keras sebelum dibakar. Lumayan, dapat pengetahuan baru dalam perjalanan ke Purwokerto.

Sunday, March 1, 2009

Christmas 2008 & New Year 2009 Holiday

Day Six : to Purwokerto








Time is up! Liburan hampir usai. Kami mesti kembali ke Jakarta via Purwokerto + istirahat semalam di sana.
Sebelum ke Purwokerto Donna mau pamitan sama all of the farm animals.
"Bye bye chick! Bye bye sheep n baby lamb!"

Eit jangan lupa bawa daun kelapa untuk oleh-oleh teman sekolah, supaya mereka tahu darimana lidi dan sapu lidi berasal, seperti yang Donna saksikan pembuatannya saat itu.




Monday, February 9, 2009

Christmas 2008 & New Year 2009 Holiday

Day Five : Solo
Kami ke air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu. Namanya lebih terkenal dari Curug Cipendok di Banyumas, tapi keindahannya jauh dari Curug Cipendok. Pas kami berkunjung air terjunnya berwarna kecoklatan. Ada kerusakan di daerah atas?? Sepertinya begitu.
Turun ke kota Solo tentu kami tak lupa menyantap gudeg opor yang nikmat itu...


Tuesday, January 20, 2009

Christmas 2008 and New Year 2009 Holiday

Day Four : A Day Full of Field Trip

(1)





Tanggal 29 desember 2008 kami mengawali hari dengan berkunjung ke perajin keramik di Kasongan. Dan Donna mencoba membuat sebuah pot di sana. Setelah selesai kami bawa pulang ke rumah Oma untuk dijemur di bawah matahari terik. Rupanya itulah kesalahan utama karena ketidaktahuan kami : tak boleh dijemur di bawah matahari langsung, tapi diangin-angin di tempat teduh sampai kering mengeras. Kasihan... capek-capek bikinnya, cuma menghasilkan the cracked pot.

(2)


















Setelah dari Kasongan kami ke rumah adik suami saya. Inilah yang dilakukan Donna selama di sana:
Mencicipi telur Mentok rebus (she said "yummy")setelah lelah mengejar-ngejarnya, takjub melihat ada sapi hitam legam warnanya, mengelus-elus kambing ethawa yang berkuping panjang, melihat proses pemotongan bebek sampai bersih dan menimba air dari sumur tradisional (awalnya dia selalu ingin mengembalikan air yang sudah susah payah ditimbanya karena takut air yang ditimba terus akan habis, ha ha ha).

(3)
Kami kemudian berkunjung ke rumah Oma Buyut dan Opa Buyut Liza dan Donna (di Jogja). Di sana ada 2 kolam ikan mas. Maka Donna pun asyik memberikan makan para ikan mas yang datang berkerumun.


















Oma Buyut dan Opa Buyut mengelola Museum Batik yang ada di sebelah rumah. Museum ini menyimpan koleksi-koleksi batik dan sulaman Oma , sejarah perbatikan dan juga mengadakan pelatihan membatik.

Ini adalah sulaman Oma Buyut yang masuk rekor MURI sebagai sulaman terpanjang (kata Oma Buyut, perlu waktu 3 tahun untuk menyelesaikannya).


Dari sini saya juga baru tahu, kalau lilin untuk membatik dulu awalnya didapat dari melarutkan lapisan lilin yang ada di daun pisang.