Merupakan tanggapan dari Naomi Aldort atas pertanyaan orang tua tentang tulisan Amy Chua penulis "Battle Hymn of the Tiger Mother". Amy Chua menganut aliran yang keras & tidak ramah untuk mendidik kedua putrinya (aku tidak ingin membaca bukunya,tidak sampai hati), agar kelak kedua putrinya "berhasil". Ini review dari NYTimes.com.
Kalau belum merasa 'ngeri' bisa ditambah ulasan dari Wikipedia.
Aduh mengerikannya! Aku sendiri bukan seorang ibu yang sempurna, masih harus banyak belajar, butuh dukungan dan berusaha keras agar bisa mendekati kriteria ibu yang baik.
Naomi Aldort adalah ibu dari 3 orang anak yang betulan berhasil, dan tidak menggunakan kekerasan. Follow the child's direction, katanya. Aku suka sekali : Child Lead pokoknya.
Selengkapnya bisa dibaca di sini Taming the Tiger Mother.
Thursday, March 3, 2011
Taming The Tiger Mother
Labels:
Renunganku,
Tulisan Teman
Monday, February 28, 2011
Bermain adalah Hak Anak
Ha ha ha...bagaimana sih para ibu ini, bukankah Bermain itu adalah Hak Anak? Selama mereka menyandang predikat "Anak", bukan orang dewasa, selama itu pula tentunya mereka boleh bermain sesuai kebutuhan mereka. Coba bayangkan kalau kebutuhan ini tak terpenuhi, tentu mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan. Dengan bermain mereka mendapatkan "makanan" yang mereka butuhkan untuk perkembangan fisik mental ke tahap selanjutnya. Coba kita amati, bermain a la anak umur 3 th tentu berbeda dengan gaya bermain anak umur 8 th dst, seperti juga perbedaan asupan makanan anak tiap tahapan perkembangan usia.
Dengan bermain mereka juga belajar, bahkan rasanya yang dipelajari lebih banyak dan lebih nyangkut. Permainan macam apa yang baik? Semua mainan yang membuat anak tertarik sehingga asyik mengeksplorasinya. Bahkan untuk anak special needs seperti Liza pun aku menggunakan hal-hal yang disukainya untuk "masuk ke dunianya" dan bersama mengeksplorasi & mempelajarinya.
Pada Donna memang agak sulit menerapkan 'fun day' tiap hari. Maklum dia 'bersekolah' (maksudnya tiap pagi berangkat ke gedung yang namanya sekolah dan tinggal di sana sampai diijinkan pulang :D), dengan konsekuensi ikutannya seperti : PR, tugas/project & ulangan.
Pada Donna aku terpaksa menerapkan peraturan ini : boleh main kalau semua PR,tugas & persiapan ulangan untuk besok paginya sudah beres. Terpaksa jeli mencarikan celah waktu. Sedih banget rasanya kalau melihat dia kadang dihujani tumpukan PR/tugas ("Mungkin gurumu lupa pernah jadi anak kecil, nak...you have a big heart,please forgive them...").
Saturday, February 26, 2011
Shoo Away My Anger
Yesterday I was mad to Math problem Solving. Because I did it with many errors. So I decided to stop for a while. I made a game board , I named it "Jumping Frog". First when I was colouring I still full with anger. Then I felt much better.
The green big frog was made by Jane my classmate. And the baby orange frog was made by my mum.
Do you want to know how to play it?
Press the frog and let it jump to the leaves until it reaches the finish line. Beware of the dangerous animals. If the frog being caught you must start over again.
After making this game I felt no more angry. I shoo away my anger.
Donna
Sekarung Kesabaran
Sejujurnya tidaklah mudah bagiku untuk selalu bisa mengendalikan emosi. Bagi suamiku yang termasuk seorang chocoholic (he he he, dia pecinta chocolate berat) tinggal buka kulkas dan memasukkan sepotong coklat. Maka langsung turunlah emosinya. Tapi hal ini tak berlaku untukku. Aku bukan penggemar coklat.
Ketika aku mempersiapkan hari yang menurutku akan banyak mengikis kesabaranku, aku cenderung mencari tulisan atau bacaan yang bisa menambah stock kesabaran. Memang tidak selalu bisa menemukan yang pas (dan kadang waktu yang tersedia pun terlalu mepet). Kemarin aku menemukan tulisan Mbak Andini Rizki, yang berjudul "Orang Tua pun Harus Belajar". Tulisan ini menurutku bagus sekali, mengingatkan bahwa ketika berhadapan dengan anak sebetulnya kunci kesabaran adalah terletak pada orangtua itu sendiri, tugas orangtua yang harus belajar mengatur emosinya.
Hmmm...
Berbekal sekarung kesabaran yang kudapat dari bacaan itu, mulailah perjalanan hari itu. Setelah hiruk pikuk pagi menyiapkan tetek bengek keperluan anak-anak & suami, siaplah aku berangkat mengantar Liza fisio terapi di Meruya. Ketemu sepeda motor yg di Jakarta ampun-ampunan dalam jumlah serta perilaku, ketemu pengendara mobil yang seenak udel dan ketemu bus kota & angkot (yang sulit ketahuan maunya : mau berhenti ,belok atau lurus) kesabaranku terus mengalir lancar. Ketemu kemacetan yang aduh ampun di area pembangunan Fly Over Rawa Buaya (tahu sendiri kan di Jakarta, jangankan untuk pembangunan jalan, sekedar hujan gerimis atau perbaikan lubang jalan saja sudah bisa mengakibatkan kemacetan berkilo meter panjangnya). Masih cool euy...
Siangnya pulang dihadang kemacetan yang sama dan sesama pengguna lalu lintas yang sama kelakuannya dengan yang tadi pagi kutemui.
Lanjut tugas-tugas rumah tangga yang seabrek.
Malamnya Donna emosi (padahal siangnya cukup main + cukup tidur siang) hanya gara-gara mengerjakan soal Math & tidak mau ada error. Dan Donna akhirnya pun bisa menguasai diri dengan caranya sendiri yang unik (nanti dia akan menuliskan tentang hal ini).
Dan kututup hari dengan penuh ucapan syukur karena sampai waktu tidur menjelang aku belum sampai kehabisan stock kesabaran.
Labels:
Renunganku,
Tulisan Teman
Thursday, February 24, 2011
Virtual School
Sejak diperkenalkan oleh teman-teman penggiat pendidikan, aku ingin sekali ada sekolah virtual untuk Donna. Kenapa? Karena dengan Virtual School, anak-anak tidak perlu mendatangi gedung fisik bernama SEKOLAH tiap hari (mungkin bisa 2-3 kali seminggu saja). Betapa hematnya (BBM, waktu, tenaga, tidak perlu terburu-buru tiap hari). Dan aku tak perlu menyetrika seragamnya tiap hari ha ha ha (maklum tanpa asisten sama sekali).
Selasa malam tgl 22 Februari kemarin Donna mengikuti sebuah kelas Virtual di secondlife.com, difasilitasi oleh Ms Ines (science teacher from German Int'l School, sekaligus penggiat pendidikan), temanya kali ini mengenai "Water". Dan pengajarnya adalah Prof Zeppo Romano (Prof Bill Shields, Geology Professor from Illinois State University). Wow...coba bayangkan, anakku yang baru kelas 2 SD diajar seorang profesor yang baik dan sabar. Terus terang, di mana kita bisa mendapatkan hal yang begini ini di Real Life (khususnya Indonesia) for free lagi?? Oh dear...oh dear...
Begitu banyaknya pendidik berkualitas yang berkenan membagikan ilmunya dengan tulus.
Aku yang bisa dibilang gaptek pun berusaha sebisa mungkin belajar (di antara waktuku yang serba mepet-pet) menggunakan proses pembelajaran virtual ini, untuk Donna tentunya nantinya.
Sayang aku tak sempat mengambil foto saat kelas sedang berlangsung (keasyikan:)), dan waktu terasa begitu cepat berlalu menuju waktunya Donna tidur (dengan enggan dia setuju untuk tidur karena besok pagi sekolah). Memang kekurangan model virtual class ini adalah perbedaan waktu antara "guru" di belahan sana dengan "murid" di belahan dunia satunya, yang satu pagi yang satunya malam.
Foto di atas adalah foto avatarku sedang exploring Virtual Africa.
Beberapa temanku sangat menguatirkan sistem pembelajaran seperti ini ("Berbahaya",katanya). Betul. Tapi cuma pisau yang tajamlah yang berguna,jawabku. Tugas kita membimbingnya menggunakan dengan baik, untuk menghasilkan masakan yang enak bukan untuk hal kriminal.
Berharap akan ada sebuah Virtual School soon...
Monday, February 21, 2011
Enrichment 2

Donna sebagai anak yang kebutuhannya berbeda jauh dengan Liza kakaknya, tentu memerlukan lebih banyak kegiatan & variasinya. Selain suka bikin experiment sendiri, Donna juga kadang memasak (tentu yang ringan sesuai usianya yang baru mau tujuh tahun), berenang, mengarang cerita & memberi ilustrasi, dll. Itu tentu di luar kursus piano dan kursus bahasa Mandarin (satu-satunya kursus yang 'berbau akademik') dan tentu saja : suka bermain!
Belum lama ini berdiri Klub Oase di mana kami menjadi anggotanya. Klub Oase merupakan wadah berkegiatan ekstra kurikuler bagi anak homeschooling dan kegiatan afterschooling bagi anak sekolah. Kegiatan ini berbasis keluarga, dalam arti orangtua terlibat penuh dalam setiap kegiatan. Didalamnya bisa kita temui banyak teman-teman yang senantiasa tulus berbagi untuk kemajuan bersama, orang-orang hebat yang low profile :-). Memang baru 2 x pertemuan, tapi sudah terasa manfaatnya (selain mendapat pengetahuan, juga bertemu teman-teman yang benar-benar peduli dan tahu tentang pendidikan).
Waktu pertemuan yang pertama, Liza cuma jadi penggembira. Tapi 'sambung rasa' Donna dengan kakaknya tetap ada. Pada penutup acara anak-anak membuat sandwich telur. Setelah makan kira-kira sepertiga bagian, Donna berinisiatif share sandwich tersebut dengan papa dan kakaknya yang duduk di lokasi lain (sambil menonton kegiatan yang berlangsung). Tidak ada yang mengingatkan apalagi menyuruh.
Sacara guyon saya & suami menjuluki keluarga kami ini bagaikan rombongan sirkus, ke mana pun kami pergi selalu bersama-sama.
Berandai-andai...Andai ada banyak keluarga mau bergandengan tangan bersama memajukan pendidikan seperti ini, mendirikan "klub Oase-Klub Oase" yang lain di seluruh pelosok Indonesia...
Subscribe to:
Posts (Atom)



